22. Me, Myself, and I.
.
.
.
.
"Aku ingin ke toilet dulu." Ujar ku pada Cal.
Cal yang tadinya sedang bercengkrama dengan temannya itu langsung menoleh kepada ku. "Aku antar." Katanya, dan aku balas menggeleng "Tidak usah, aku hanya sebentar."
Baru saja Cal membuka mulutnya --yang kuyakini untuk mendebat kembali. Tapi, buru-buru aku menjauh dari dirinya. Aku tidak peduli bagaimana ekspresi kesalnya saat ia tahu aku tidak mematuhinya, aku tidak peduli (untuk saat ini) jika nanti ia akan marah.
Aku ke toilet bukan untuk buang air ataupun hanya ingin membetulkan make up. Aku hanya, tidak ingin melihatnya dulu.
Mungkin baginya kata-kata itu tidak berarti apa-apa atau hanya sekedar candaan. Tapi, tetap saja. Disini, aku merasa sakit.
Banyak wanita menatap ku saat aku berjalan -walaupun tidak semua, dan aku cukup bersyukur karena itu. Sebelum aku memasuki toilet, aku mendengar samar-samar pembicaraaan yang membawa perkataan 'wanita yang bersama Cal.' di telingaku.
"Kau tahu siapa wanita yang bersama Cal malam ini?" Aku mendengar suara dengan aksen british yang lumayan kental.
"Sepertinya dia bukan berasal dari sekolah kita." Sekarang suara dengan aksen Italia membalas. Aku terdiam di lorong. Tidak ada orang disini dan itu membuat suara mereka terdengar jelas. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan tentangku dan bukankah itu wajar?
"Benar juga, aku belum pernah melihat dia. Dia sepertinya dekat dengan Cal. Kau tahu lah Cal orang yang dingin, kecuali dengan orang yang sangat dekat dengan dia."
"Apa dia Jalang?" Aku mulai mengeratkan kedua genggaman ku. Mereka akan berkata apa? Apa kah benar aku terlihat seperti jalang?
"Jika dia memang Jalang, pasti dia di bayar sangat mahal oleh Cal, kau tau Cal orang seperti apa tentunya." Aku menyeringai saat mendengar perkataan si british itu yang seakan berdecak kagum.
Lebih dari 40 juta poundsterling. Kecutku di dalam hati. Dan itu untuk menjadi peliharaan. Entah sampai kapan.
Suara mereka mulai mendekat ke arah ku, tapi tubuhku tetap bergeming di tempatnya. Aku menunduk.
"Wanita itu memang cukup cantik, tapi tidak bisa di bandingkan dengan Kia. Wanita itu bukan tipe Cal."
Bisa kurasakan angin berhembus saat mereka lewat. Mereka tidak tahu orang yang dibicarakan telah berdiri cukup lama mendengarkan mereka.
Aku berdecih. Miris.
Mereka menyebut nama Kia. Aku memang sangat sadar aku tidak sebanding dengan wanita itu.
Bukan tipe Cal? Tentu saja aku tidak. Berada di sekitarnya saja aku merasa tidak pantas.
Aku memasuki toilet. Melihat diriku dipantulan cermin.
Katakan aku egois karena aku tidak suka dibandingkan. Aku adalah aku, aku bukan wanita itu atau wanita lainnya. Biarkan aku menjadi diriku sendiri. Aku tidak peduli pria itu tidak menyukai ku. Aku adalah diriku.
Mata ku memanas. Aku mengadahkan wajah ku keatas. Perih. Tapi aku tidak akan mau membuat air di mataku meluncur dengan mudah.
.
.
"Sejak kapan kau mengenal Cal." Aku terlonjak dari tempatku. Baru saja aku melangkahkan kaki dari toilet, tapi ternyata sudah ada yang menungguku.
"Kyle?" Ujar ku tanpa sadar. Kulihat ia menaikan pandangannya kearahku. Aku tergugu. Mata cokelatnya menatapku masih sama seperti dulu. Tapi, untuk sekarang aku tidak bisa mendeakripsikannya
Kyle tersenyum kecil. Senyum yang sangat familiar saat dulu. "Kau menyebut nama ku."
Oh.
Aku membasahkan bibirku. Berusaha menetralkan diriku. Ia masih menatapku dan tidak ada tanda-tanda ia ingin melanjutkan pembicaraan. Aku tidak suka. Ini canggung.
Aku menghembuskan napasku dan mencoba untuk memutuskan keheningan ini dengan berjalan pergi.
"Terakhir kali kita bertemu, kau kabur dariku. Aku tidak mengerti kenapa kau berada di London waktu itu. Tapi, sekarang aku tahu."
Aku berhenti dan berbalik sambil memutar bola mataku. Merasa jengah dengan pembicaraan ini.
Aku sadar, sikapku yang kemarin dan sekarang sangat bertolak belakang. Saat berada di London waktu itu, memang benar aku sangat terkejut dan juga sangat takut. Aku sangat menghindari untuk bertatap muka dengannya, tapi sekarang lihatlah, dia berada di hadapanku dengan tatapan serta senyumnya.
"Bagaimana kau bisa mengenal Cal?"
Aku diam dan mengalihkan pandangan ku ke segala arah.
Lagi-lagi tentang Cal.
"Aku tidak mengenalnya." Ujarku berusaha sedingin mungkin. Air muka Kyle tidak berubah, malah senyum di bibirnya tambah lebar. Ia tidak tersinggung ataupun merasa bingung karena jawban ku berbanding terbalik dengan tingkahku saat bersama Cal tadi.
Ia tidak aneh. Aku mengerti. Karena Kyle bertanya, tidak benar-benar bertanya. Ia tidak peduli tentang pertanyaan yang ia lontarkan atau jawaban yang aku berikan. Karena yang ia pedulikan adalah aku menjawab pertanyaannya. Ia tidak berubah, tetap sulit untuk di baca.
Geteran ponsel di tasku membuat aku mengalihkan perhatian dari Kyle.
Cal.
Aku membulatkan mataku. Pasti Cal sedang mengucapkan sumpah serapah di ujung sana. Dia pasti sedang marah. Aku sudah terlalu lama. Kurasakan wajahku berubah menjadi pias, panik mulai merayaoi diriku.
"Pasti Cal." Dengan tegas aku membawa pandangan ku pada Kyle yang masih tersenyum seperti orang gila.
Lalu dengan tiba-tiba Kyle menyambar cepat ponselku lalu menempelkannya disamping telinga.
"Hallo Cal?"
Sial! Apa yang ia lakukan? Tersenyum miring sambil menjawab panggilan dari Cal.
Aku dengan cepat merebut ponselku kembali dari tangannya. Dengan tergesa aku memutuskan sambungan telepon. "Apa kau gila?!" Pekikku.
Selanjutnya yang ku dengar hanya derai tawa yang ia keluarkan. Aku berdecak kesal. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Cal saat ini. Pasti ia akan mencecarku dengan segudang pertanyaan dengan nada tinggi.
Kyle mulai memberhentikan tawanya. "Tidak, aku tidak gila." Ujarnya. Lalu kurasakan ekspresi di wajahnya mulai menjadi serius. Ia berjalan mendekat kearahku. Tapi aku tetap diam ditempat aku berpijak.
Aku tidak tahu ia ingin melakukan apa. Tapi, tubuhku tetap tidak mau tidak bergeming. Padahal bisa saja ia melakukan hal buruk kepadaku.
Kyle berada dihadapan ku, jarak kami hanya dua meter. "Aku tidak peduli dengan Cal."
Aku terdiam. Tidak menjawab ataupun bertanya maksud dari pekataanya. Aku hanya menunggu ia melanjutkan ucapannya. Karena pasti ia akan melanjutkannya.
Dia kembali berjalan kearahku dengan perlahan. Aku tertegun. Aku salah. Aku kira ia akan berhenti tepat dihadapanku. Tapi, ternyata ia berhenti tepat disampingku.
"Ya, aku tidak mempedulikan Cal. Karena yang aku pedulikan adalah kerinduanku pada ekspresi wajahmu."
Lalu ku rasakan ia mulai melangkahkan kakinya kembali dan melewati diriku yang terpaku. Bau harum parfumnya terhembus di indra penciumanku.
Aku menggenggam erat kedua telapak tanganku dan tertawa miris. Aku menipiskan bibirku. Aku tidak ingin melihat dirinya lagi, demi apapun.
Getaran ditanganku membuat aku kembali tersadar akan masalah yang terjadi.
Cal kembali menelpon ku.
.
.
.
.
Bilary♔
Sorry for update yang sangat lelet dan typo(s) 🙏 jangan lupa tekan gambar bintang 😄
#200118
KAMU SEDANG MEMBACA
My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]
ChickLit[Highest Rank #61 on ChickLit] Jika di jual oleh Ayah mu sendiri sudah sangat buruk, bagaimana jika kau di jual lagi oleh orang yang membeli mu tadi? Itu yang ku alami. Di jual dan di jadikan peliharaan oleh seorang Pria mapan yang sialnya juga tamp...
![My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]](https://img.wattpad.com/cover/113106238-64-k835623.jpg)