- Ga jadi update minggu depan wkwk, jadinya sekarang haha. 💋
-Sorry typonya :)
My Master is Stranger.
4. Mark Owner.
Dentingan dari gesekan sendok dan piring tetap saja tak membuat diriku tidak menegang.
Setelah setengah jam berkutat untuk membuat sop dan nasi, kini di depan ku ada sosok pria dengan wajah tanpa dosa sedang makan dengan tenangnya.
Sebisa mungkin ku alihkan pandangan ku ke arah lain selain dirinya. Tapi, sungguh, aku tidak bisa. Mata ku selalu nakal, dan ingin selalu mencuri pandang ke arahnya.
"Kau tidak makan?" Secara reflek aku langsung menegakkan punggungku dengan mata sedikit terbelak karena pertanyaannya yang tiba-tiba.
Memang, pertanyaannya adalah pertenyaan yang sepele. Tapi, beda lagi ceritanya jika seorang Cal yang bertanya.
Aku tetap menegang sambil melihatnya makan, aku tidak memberikan respon apapun karena aku takut membuat dirinya marah kembali.
"Hey," Ujar Cal meminta jawaban. Cal mengangkat pandangannya kepada ku membuat aku sedikit memundurkan punggungku waspada.
"Aku sudah makan." Akhirnya aku menjawab dengan jujur pertanyaan itu. Walaupun terdengar jelas getar pada suaraku, aku tidak peduli yang penting aku menjawab.
Cal menganggukan kepalanya dua kali, lalu kembali berkutat dengan kegiatannya. Aku menghembuskan napas lega, tentunya mengembuskan dengan perlahan. Karena aku tak mau jika suara napas ku mengganggu dirinya.
Ku lihat dari ekor mataku Cal telah selesai dengan makannya. Ia mengambil Tissue untuk membersihkan sisi makanan di mulutnya, lalu ia memposisikan sendok yang pertanda bahwa ia merasa puas.
Dilihat dari cara makannya, Cal adalah seseorang yang memiliki etika makan yang sangat bagus. Aku berdecih dalam hati memikirkan hal itu. Cal berpendidikan, itu sudah pasti.
Aku mendengar ia berdeham pelan. Mungkin itu pertanda untukku agar memperhatikan dirinya. Tanpa mau membuat masalah lagi, segera aku memandang dirinya. Kepalan tangan ku mengencang seiring tatapannya yang seperti menelanjangiku.
"Aku ingin menonton film di ruang tamu. Kau harus menemani ku." Aku mengangguk dua kali, anggukan yang menirutku sangat kaku. Sesungguhnya aku sangat mengantuk, tapi aku tak punya pilihan lain.
Poor me!
"Aku akan membereskan semua ini terlebih dahulu." Cal mengangguk, ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Aku bersyukur perkataanku tak membuatnya marah. Setidaknya aku selamat untuk sekarang, dan semoga juga nanti.
Aku menghembuskan napas keras saat melihat ia sudah di telan tikungan. "Jesus, apakah ini termasuk neraka dunia?" Ucapku tak habis pikir.
Aku mengacak rambutku frustasi. Lalu dengan segera aku membereskan piring kotor ke wastafel dan mencucinya.
Air yang mengucur dari keran mengingatkan aku tentang masa kecil ku yang bahagia. Sampai akhirnya Ibuku meninggal kan aku, adik ku, dan ayah ku. Lalu membuat semua menjadi kacau.
Lagi-lagi aku menghela napas lelah. Aku mendongakkan wajah ku agar air mata yang berada di pelupuk mata tak keluar.
Mengapa kau meninggal kan kami, Mam?
Aku mematikan keran air. Lalu aku menuangkan air hangat kedalam gelas yang berisi perasan jeruk nipis dan gula putih yang telah aku persiapkan saat aku memasak Sup tadi.
Dengan langkah pelan namun pasti aku melangkah kan kaki ku ke ruang tamu untuk menemani Cal seperti yang ia perintah kan tadi.
Aku tersenyum miris. Aku hanya servant yang hanya harus mematuhi perintah Masternya.
Aku terus melangkah, mungkin di setiap jejak bekas langkah ku menampakkan rasa kesedihan dan ketakutan yang besar.
-
Aku meletakkan gelas ku di meja sofa. Ku daratkan bokong ku di sofa panjang, duduk di paling pinggir, di daerah yang paling jauh dari Cal.
Cal menoleh pada ku saat pantatku mendarat di sofa, tapi ku usaha kan untuk tidak ikut menoleh dan fokus menonton film yang tidak aku kenali di layar televisi.
Tubuh ku mengang, sekejur badan ku terasa kaku seperi tak bisa di gerakan saat tiba-tiba Cal berbaring dan meletakkan kepalanya di paha ku.
Tangannya yang bebas meraih tangan kiriku lalu mengampitnya di antara jemari tangan kanan dan kirinya.
Cal memejamkan matanya dengan damai. Ku rasakan napas hangat dan sentuhan bibir Cal yang kenyal di telapak tangan atas ku dengan sekilas.
Aku tak bisa berkata apapun atau bahkan menolak perbuatannya. Aku hanya bisa memandang wajahnya dari atas sini, wajah yang lebih terlihat manusiawi jika ia terpejam.
"Elus rambut ku." Cal berujar sambil terpejam. Ucapannya pelan, tapi aku mendengarnya dengan jelas, bahwa ia ingin aku mengelus rambutnya. Aku tak mau bertanya padanya, aku takut akhirnya akan seperti tadi.
Dengan ragu dan penuh kekakuan, aku mendarat kan elusan kecil pada rambutnya yang hitam. Rambutnya yang tanpa gel terasa halus di telapak tanganku.
Tampak senyum kecil terbit menghiasi wajahnya. Ekspresi wajahnya yang seperti ini, membuat ia terlihat sangat berbeda dengan ekspresi kejamnya saat ia menyiksa ku.
Dua sisi dalam satu tubuh.
"Jika kau menjauh, aku yang akan terus mendekat." Cal berujar dengan mata tertutup. Perkataannya membuat tangan ku yang mengelus rambutnya berhenti bergerak.
Aku terdiam, bahkan setelah aku tahu ia ingin membuka matanya dengan perlahan. Aku terus menatap wajahnya sampai matanya terbuka dan iris matanya menatap ku balik. Aku tak bisa mengalihkan pandangan ku dari bola matanya yang terlihat indah dari sini.
"Sekuat apa pun kau ingin pergi dariku. Semampu apapun dirimu untuk menghilang dari ku. Atau sekeras apapun kamu berusaha untuk kabur. Kau tidak akan pernah bisa."
Aku menahan napas ku, menunggu ia melanjutkan kata-katanya, jantungku mulai berdetak dengan gilanya dari ia memulai pembicaraannya tadi.
Mulut ku terus terbungkum. Lidah ku terasa kelu saat mendengar ucapannya. Aku terus memandangnya bahkan sampai matanya terpejam kembali.
Perkataanya seakan membakar pikiran ku. Mengacak setiap loker di dalam otak ku. Membuat guncangan di dalam hati ku.
"Tinggal kan dia."
Dia? Dia Siapa?
"Jika kau masih berhubungan dengan pria itu, kau akan menerima akibat yang lebih parah dari pada yang tadi, bahkan aku tidak akan sungkan menghancurkan hidup pria itu berserta keluarganya."
Pria? Hubungan? Apa yang ia bicarakan?!
Jadi alasan ia menyiksa ku tadi karena pria tersebut?
Tapi, pria yang mana?!
Ucapannya yang pelan namun syarat akan bahaya membuat aku tak mampu memalasnya.
Lalu ku lihat Cal membuka kelopak matanya lagi, dan menatapku dengan tajamnya. Tatapannya bagai jaring yang pandangan ku tak bisa lepas darinya.
"Jangan pernah mencoba hal itu."
"Karena kau hanya milikku."
Bagai terkena bom, kalimatnya yang terakhirlah yang membuat ledakan paling hebat untuk diriku.
***
Hulla!!
Aduh, suka ga si sama part yang ini? Apa ngebosenin? 😱
Jangan lupa Vote, kritik dan saranya ya 👍
Padahal baru rank #209 di CHICKLIT tp Bilary udah gembira 😂
Makasih semuanyaaa 😘
Bilary.
Published : 28, Juni 2017
#280617
KAMU SEDANG MEMBACA
My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]
ChickLit[Highest Rank #61 on ChickLit] Jika di jual oleh Ayah mu sendiri sudah sangat buruk, bagaimana jika kau di jual lagi oleh orang yang membeli mu tadi? Itu yang ku alami. Di jual dan di jadikan peliharaan oleh seorang Pria mapan yang sialnya juga tamp...
![My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]](https://img.wattpad.com/cover/113106238-64-k835623.jpg)