16. Her lover.

4.4K 295 44
                                        

Minggu demi minggu telah berlalu. Aku mentapa kedepan dengan senyum mengembang. Ku dengar bisik-bisik dari arah mana pun.

Bisik-bisik yang membicarakan orang di depan sana. Seorang pria yang sedang berpidato dengan mata birunya.

"Mr. Cloullen memang sangat tampan." Aku tersenyum kecil saat mendengar bisikan kecil dari wanita di sebelah ku.

"Jika aku bukan pria sama sepertinya, mungkin sudah kuminta ia meniduri ku." Aku mendengus geli saat teman wanita itu membalas ucapannya.

Ayo lah, apa kah Cal se-panas itu? Aku terkekeh dalam hati.

Hari ini adalah di mana aku lulus menjadi S2. Aku bukanlah wanita yang genius, mungkin aku sedang beruntung saja karena mendapatkan beasiswa S2 ini.

Riuh tepuk tangan menggema di ruangan ini. Cal telah menyelesaikan pidatonya. Sekilas ku melihat Cal memandangku, lalu dengan senyum miringnya ia mengedipkan sebelah matanya.

Damn!

Jangan bilang bahwa sekaramg aku sedang bersemu.

Tapi, tunggu.

Saat aku melihat kearah wanita di sekitar ku, mereka pun memberi respon yang sama saat melihat Cal mengedipkan matanya.

-

Aku melangkahkan kaki ku ke panggung saat nama ku di panggil, berjabat tangan dengan orang penting di universitas ku, termasuk Cal ; salah satu investor terbesar di kampus ku.

"Kita akan merayakan kelulusan mu setelah ini." Ku lihat Cal memberikan senyum nakalnya kepaku, membuat diriku memutar bola mata ku jengkel.

"Kau tidak lihat jika antrian masih panjang? Cepat lepaskam genggaman tangan mu." Disis ku kepadanya.

Ku lihat keningnya mengerut, tanda seperti orang yang sedang bingung. "Bukan kah kau yang tidak mau melepaskan genggaman tangan ku?"

Mendengar ucapannya yang seolah membalikan fakta membuat diriku langsung menarik kasar tangan ku dari genggamannya. "Brengsek." desis ku sangat kecil.

"Kasar." Aku memutar mata ku saat mendengar dirinya berkomentar.

-

Aku menyesap sirup di gelas ku. Masih setia berdiri untuk mendapat giliran berfoto.

Aku tersenyum miris dengan semua yang hadir disini. Mereka semua berfoto bersama keluarganya, paling tidak sahabat mereka.

Sedangkan aku? Siapa yang bersama ku?

Ibu ku telah pergi entah kemana.

Ayah ku pun sama. Saat ku datangi rumah lama ku, di sana tidak ada siapapun, pintu pun terkunci dengan rapatnya.

"Alessa Selene Alsene." Aku meletakkan gelas ku di meja, segera berjalan cepat untuk melakukan sesi pemotretan.

Berdiri dengan senyum kecik di depan photographer yang tampak kebingungan.

"Only you?"

Aku menganggukkan kepala ku dengan ragu. "Yeah, why?"

Apa kah aneh jika aku hanya sendiri?

"No family, friend, or other?" Photographer itu kembali bertanya, meyakinkan diriku, atau dirinya mungkin?

Huft? Apa dirinya senorak itu? Ayo lah, aku ingin segara menyelesaikan ini semua.

"Just me, myself, and I. Okay?" Balas ku dengan sedikit jengkel.

Kulihat photographer itu mengangkat bahunya acuh, lalu memberitahu aku bahwa aku harus menunjukan senyum terbaiku.

Huft, tidak bisakah pria itu tidak banyak bicara?

"Right, one,..."

Aku tersenyum kecil kearah kamera dengan sebuket bunga di gendongan tanganku.

"Two..,"

"Three."

Belum sempat kamera menjepret gambar diriku, belum sempat lampu flash menyela. Ku rasakan tangan besar melingkar di pinggang ku, membuat aku terkejut dan menatap kearah kiri.

Cekrek.

Lampu flash menyinari diriku yang sedang membelakakan mata terkejut, memandang rahang kokoh dengan senyum manis yang menghadap ke kamera.

"Hey! Hasilnya sungguh luar biasa!" Teriakan senang sang photographer membuat ku tersadar dari keterkejutan ku.

Aku memandang kesal ke arah Cal, lalu dengan kasar aku menjauhkan diriku darinya.

Aku sangsi jika wajah ku yang berada di foto itu sangat jelek.

"Nona, kau bilang kau hanya sendiri, lalu Mr. Cloullen ini siapa mu?"

Aku melirik sinis ke arah Cal yang sekarang sedang tersenyum bangga. Bisa-bisanya ia masih bisa tersenyum.

"Tanyakan saja pada orangnya langsung." Kata ku dengan sinis.

Photographer itu mengarah kan pandangannya kearah Cal.

Ku lihat Cal menampilkan wajah bingungnya.

"Me? Um,.. her lover?"

Aku membuang muka ku saat Cal melirikku dengan tampang innocent miliknya.

Lalu ku dengar suara tawa dari sang photographer.

Mendengar ucupan Cal yang begitu romantis membuat aku menanam kan satu hal di dalam diriku.

Aku tidak boleh terbang, aku harus selalu membumi dan menapak, jika aku terbang, aku akan jatuh dan terperosok.

***

Hulla sayang ku!

Ga kerasa cerita MMIS udh sebulan lebih di watppad :v hehe

Muach muach

Oke gue gilaa.

XOXO

Published : 6, Agustus 2017

My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang