5. The Heartbeat.

9.1K 473 74
                                        

My Master is Stranger.

5. The Heartbeat.

Saat aku membuka mataku, pemandangan yang pertama kali memenuhi penglihatanku adalah leher dengan jakun yang menonjol.

Dengan otomatis kelopak mata ku tidak berkedip karena pemandangan yang kulihat ini, dengan pelan tapi pasti, aku mendongak kan wajah ku.

Dan pemandangan ku pun terganti oleh wajah Cal dengan matanya yang sedang terpejam. Deru napas pelan dan teraturnya pun terdengar dari bawah sini. Cal terlihat damai.

Tapi, tunggu!

Bukan kah aku tertidur dengan posisi duduk dengan kepalanya yang di letakkan di atas paha ku? Mengapa sekarang kami bisa sangat berhempitan?

Aku mengalihkan pandangan ku ke sekitar. Hanya bola mata ku yang bisa bergerak bebas. Karena saat ini, tubuh ku sedang di kekang dengan kuatnya oleh lengan dan pelukan Cal.

Aku melihat kearah langit-langit ruangan. Bukan kah itu adalah lampu yang berada di ruang tamu? Ya, aku yakin sekali bahwa itu adalah satu-satunya lampu di penthouse ini, dan tempatnya adalah di ruang tamu.

Berarti, apa aku masih berada di tempat yang sama?

Aku sedikit memundurkan punggung ku dengan hati-hati. Ku rasakan sesuatu yang empuk di belakang ku. Apa aku sedang berbaring di sofa?

Ya, pasti aku sedang berbaring di sofa besar dan panjang yang berwarna putih yang aku duduki tadi malam. Karena memang tidak ada lagi tempat yang empuk di ruang tamu selain sofa besar ini.

Aku menggit bibir ku khawatir, sekujur tubuhku merespon ketidak nyamanan saat aku menyadari bagaimana situasi ku ini.

Aku, tertidur, berdua, bersama Cal, di sofa ini. Badan kami saling menempel seperti perangko, kaki kami saling berkait dengan indahnya seperti sebuah twister, belum lagi dengan lengan kekarnya yang memelukku erat, membuat dada ku menempel pada perut atasnya.

Aku memejamkan mataku frustasi. Bayangkan saja jika sofa yang biasanya dan hanya cukup di tiduri oleh satu orang, kini di tiduri oleh dua makhluk dewasa.

Aku tak bisa menggerakan tubuh ku sedikit pun. Sesungguhnya aku memang bisa, jika memang aku benar-benar mempunyai nyali untuk membangunkan singa yang akan memangsa ku nantinya.

Argh! Aku tak habis pikir dengan dirinya!

Mengapa ia tak meninggalkan aku sendiri saja di sofa ini? Atau jika ia memang memiliki hati, ia bisa menggendong ku ke kamar dengan perlahan. Paling tidak ia bisa kan membangunkan diriku?

Mengapa seperti ini jadinya? Tidak, tidak, mengapa aku harus tertidur tadi malam dengan kepalanya yang masih berada di paha ku? Seharusnya aku tidak tertidur. Seharusnya aku tinggalkan saja dirinya dan tidur di kamar.

"Berhentilah untuk berjoget." Aku langsung mematung saat sebuah kalimat dari suara yang serak terdengar. Otomatis aku langsung mendongakkan wajah ku ke atas dengan mata membelak.

Itu adalah suara Cal.

Apa sebenarnya Cal sudah terbangun dari tadi? Atau ia terbangun karena tubuh ku yang terus bergerak panik tanpa sadar?

"Jangan melihat ku seperti itu. Biarkan saja seperti ini dahulu. Aku merasa nyaman seperti ini." Cal berujar dengan mata tertutup. Pelukannya tambah mengerat setelah berkata seperti itu.

Nyaman? Mungkin itu bagimu. Tapi, tidak bagiku. Ini sangat terasa aneh untukku. Lagi pula mengapa ia bisa tahu bahwa aku menatapnya?

Aku tak bisa menurun kan pandangan ku darinya, kepala ku tetap mendongak, tetap melihat dirinya dari bawah sini.

My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang