20. Arnavee's games.

3.9K 241 10
                                        

Aku menahan napas ku sejenak. Matanya yang berwarna grey menerpa wajah ku. Tapi, bedanya di mata itu tak tersimpan emosi apapun. Wajahnya nampak datar tak berekspresi.

Mengapa ia berubah sangat cepat, baru beberapa minggu yang lalu aku bertemu dengannya di London. Tapi, sekarang? Bahkan kami seperti orang asing yang baru pertama kali bertemu.

Lengan Cal mulai melingkari pinggangku dengan possesive, wajahnya menunjukan ekspersi yang datar, tapi berbeda dengan auranya yang mulai menyeramkan.

Wajah Cal memang terlampau biasa saja. Tapi aku tahu, bahwa sesungguhnya ia menahan sesuatu di dalam dirinya.

Aku masih mengingat kejadian saat di London waktu itu. Dimana sebenenarnya aku menyelinap secara diam-diam keluar dari dan tak sengaja bertemu dengan pria bermata abu-abu itu.

Flashback on

Aku berdiri di tepian pagar rooftop hotel yang sangat tinggi ini. Angin malam sejak tadi sudah berhembus manja mengusap kulit ku.

Aku berhasil menemukan kartu akses milik Cal untuk membuka pintu penthousenya itu.

Ini adalah keberuntungan buat ku. Karena saat aku ke ruang kerjanya, aku tak sengaja menemukan kartu akses itu.

Aku tak mengerti ada apa dengan pria itu. Mengurungku seperti rapunzel di atas menara  yang tinggi. Hey! Bahkan rambutku tidak blonde.

Sebenarnya wajar saja jika ia mengurung ku, karena aku adalah uang puluhan juta poundsterlingnya. Tapi, perlakuannya terhadapku yang tidak benar-benar ku mengerti.

Aku membeku. Tersadar akan pemikiran ku saat kurasakan telapak tangan besar hinggap di bahu ku.

Apakah itu Cal?

Apakah saat aku berbalik, aku akan menemukan wajah yang tenggelam dalam amarah?

Dengan penuh keraguan aku memutar tumit ku ke belakang. Kepala ku menunduk, wajah ku menatap kebawah. Aku tak berani untuk menatap wajahnya.

"Alessa."

Aku membulatkan mata ku. Itu memang suara pria. Tapi itu bukan suara Cal,  melaiankan itu adalah suara pria yang telah lama menghilang dari pendengaran ku.

"Kyle?" Aku tergugu. Aku memundurkan langkah kaki ku ke belekang. Tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini.

Dengan sekejap ku rasakan rasa hangat yang mendekap diriku. "Ya, ini aku."

Aku menegang di dalam pelukannya. Ternyata aku benar. Ia adalah Kyle.

Ia adalah seseorang yang telah lama aku hindari. Ia adalah seseorang yang pernah mengukir indahnya kerlap kerlip bintang di hidup ku. Ia yang pernah menjadi sayap untuk ku terbang.

"Aku selalu mencari mu. Kemana saja kau selama ini?" Aku memejam kan mataku. Suaranya sangat memilukan di telinga ku.

"Mengapa kau selalu pergi jika aku mendekat?" Aku mengigit bibirku. Ia menyadarinya. Ia menyadari bahwa aku selalu menghindari dirinya.

Ku rasakan hembusan napasnya di leher ku. Mengapa mendengar suaranya membuat ku juga ikut merasa sedih? Ia telah menghancurkan semuanya, tapi mengapa ia juga sangat tersiksa.

Tidak! Ini salah!

Aku tidak bisa seperti ini!

Dengan cepat aku mendorong dirinya untuk menjauh. Ku lihat ia tersungkur ke tanah karena ia tak mengira aku akan bertindak sejauh itu. Tapi, sebelum aku mendoronya aku sempat mendengar sebuah suara seperti seseorang yang telah mengambil gambar di kamera atau ponselnya.

Tanpa mau memikirkan hal itu. Aku berlari ke arah lift dengan Kyle yang meneriaki nama ku dari kejauhan.

Aku menghembuskan napas syukur karena lift terbuka tepat saat aku menekan tombol untuk kebawah. Tanpa mau membuang waktu lebih banyak. Aku segera masuk kedalam lift dan menekan tombol close.

Ku tempelkan kartu akses untuk menunju lantai di mana penthouse Cal berada.

-

Aku berdiam diri. Televisi yang menyala seakan tidak berguna untukku.

Aku tersenyum miris. Ini pukul 00.12 tapi Cal belum datang juga.

Apa ia memang berniat menjadikan aku tahanan di tempatnya yang mewah ini?

Debum!!

Aku sangat terkejut setengah mati dari tempat dudukku.

Ku lihat Cal memasuki ruang ini dengan emosi yang menggebu.

Prank!

Kulihat Cal melemparkan sebuah guci dengan begitu kasar. Dan akhirnya malam yang begitu sangat menyakitkan pun terjadi.

Flashback off

Ya, aku sadar. Ternyata malam itu Cal bukan menyiksa ku tanpa alasan. Ia selalu menekankan bahwa aku tidak boleh berdekatan dengan pria lain.

Awalnya aku bingung pria yang ia maksud siapa.

Tapi, lambat laun aku sadar. Ia mengetahui semuanya. Semua yang terjadi di rooftop itu.

Dalam hati ku. Aku masih tidak terima atas kelakuannya. Karena saat di posisi itu aku merasa bahwa aku tidak bersalah.

Tapi, apa yang harus ku perbuat?

Aku adalah peliharaannya.

Aku mentap tangan yang tergantung di hadapan ku. Ku lihat wajah pria berambut tembaga itu dengan seksama. Ia tersenyum. Senyum yang sama yang ia berikan saat kami masih seperti orang asing waktu dulu.

"Kyle."

Aku ikut tersenyum dan dengan senang hati membalas jabat tangannya.

"Alessa."

Aku akan mengikuti permainannya.

Kurasakan genggaman tangannya terasa kencang saat aku berjabat tangannya. Aku tahu. Kali ini ia tak akan membiarkan aku pergi lagi walau di sampingku terdapat singa yang siap menerkam.

***

Bilary.

#091017

My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang