11. He smile like opium.

5.3K 353 36
                                        

11.

Aku mengerutkan dahi ku dan kembali menoleh ke arah Cal saat sebuah tawa yang sangat geli terdengar.

"Terserah kamu mau berkata apa, Ale." Kerutan di dahi ku terbentuk lebih dalam lagi saat Cal memberhentikan tawanya dan berkata dengan serius pada ku.

"Aku tidak peduli kau mau memaafkan aku apa tidak." Ku lihat Cal melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum lebar.

Ada apa dengannya?! Mengapa ia berkata seperti itu?!

"Apa maksud mu?" Tanya ku padanya. Cal sangat membingungkan untukku mengerti.

Ku lihat senyum di bibirnya semakin melebar saat ku bertanya. "Kau masih tidak paham?"

Aku hanya diam, tidak memberikan respon apapun pada Cal yang terlihat sangat menyeramkan di balik senyumannya itu.

Aku menahan ludah ku di pangkal tenggorokan. Aku tak mampu meneguk ludah ku sendiri saat tanganya mendarat di atas kepala ku. Lalu dengan perlahan nan lembut, Cal menjalankan telapak tanganya ke tengkuk kepalaku.

Aku hanya bisa diam saat Cal mendorong tengkuk ku ke depan, dan mengarahkan kepalaku ke dadanya. Dan aku masih saja tak bisa berkutik saat Cal memeluk ku.

"Kau itu hanya wanita yang ku beli." Detak jantungku mulai berpacu dengan cepat.

Mengapa ia kembali menegaskan hal itu?!

"Jadi, kau tidak mempunyai hak un--"

"CUKUP!"

Aku mendorong dadanya dengan kasar. Aku tak kuat, aku tak mampu mendengar lanjutan dari kalimatnya. Jika aku membiarkan dirinya meyelesaikan kalimat tersebut, itu sama saja seperti aku menusuk jantung ku perlahan.

"Aku sudah tahu, kau tidak perlu menegaskannya lagi." Aku berucap dengan wajah datar, lebih tepatnya kaku.

Senyum di bibirnya semakin manis, dengan kata lain ia semakin terlihat menyeramkan.

Cal membuat bunyi 'prok' dari kedua telapak tangannya yang di adukan. "Bagus."

"Ternyata aku memang tak salah membeli mu. Karena kau wanita yang cerdas." Aku terperangah akan tingkah Cal barusan. Berpikir dengan keras, apa yang ia rencanakan sebenarnya. Aku sama sekali tidak berterimakasih dalam hati pun saat ia berkata aku 'cerdas', malah remasan kencang yang berda di dalam diriku semakin terasa saat ia berkata seperti itu.

Cal memposisikan badannya kearah depan, lalu Cal mulai memainkan tabletnya dengan damai. Aku sendiri pun berusaha merileks, berbalik badan dan melihat ke arah jendala.

Apa tujuan utama mu, Cal?

***

Pintu lift terbuka di lantai yang berbeda, pemandangan pertama yang ku lihat adalah sebuah ruangan besar dengan kaca yang terbentang yang menampilkan pemandangan kota New York dari atas sini.

Kaki ku dengan otomatis melangkah saat Cal melangkah, karena tangan ku yang sedari tadi terus di genggamannya membuat ku tertarik.

"Kita akan tinggal di sini untuk sementara."

Aku mengerutkan alis ku, Cal melepaskan genggamannya dan membuka kulkas dengan santai.

"Kita?"

Cal tersenyum kecil, lalu ia melemparkan minuman kaleng yang dengan sigap langsung ku tangkap. Untung saja kaleng itu tidak jatuh ke kaki ku seperti di London waktu itu.

"Kau berharap kita berpisah?" Ku lihat Cal memanyunkan bibirnya. Sial! Harus ku akui bahwa Cal sangat terlihat menggemaskan dari tempat ku berdiri.

Cal berjalan ke arah ku dengan pelan, mata ku terus mengikuti tubuhnya yang semakin mendekat, lalu dengan perlahan aku memundurkan langkah ku. Cal seperti anak anjing rabies, lucu tetapi berbahaya.

"Kita tak akan pernah terpisah, sayang." Lalu dengan sekejap senyum Cal kembali mengembang, bulu kuduk ku terasa meremang di balik sweater ku.

Ku dengar dering ponsel berbunyi, dan itu bukan dering ponsel ku. Ku lihat Cal merogoh sesuatu di dalam saku celananya, ku duga itu adalah bunyi ponsel Cal.

Perlahan senyum di bibirnya meluntur membuat aku mengerut kan alis ku curiga. Ku alihkan pandangan ku ke layar ponselnya.

Senyum miris ku pun terukir saat aku tahu siapa yang menghubunginya.

Kia.

Dan Cal, pasti akan meninggalkan aku lagi.

"Dimana kamar ku?" Aku membuka suara ku sambil melangkahkan kaki ku melihat kesekitar ruangan. Dengan kata lain, aku sedang mengalihkan pembicaraan agar yang di dalam sini pun tak perih.

Aku menoleh padanya, ku lihat Cal pun sedang memperhatikan diri ku. Cal tetap diam, tak kunjung mengeluarkan suara.

"Apa tadi panggilan yang penting? Apa kau akan pergi?" Tanyaku, mencoba sedikit mengobati rasa penasaran ku.

Cal tampak diam sebentar, lalu ia menggeleng dan tersenyum. Cal melangkahkan kakinya ke arah, lalu dengan cepat ia merangkul ku dan membawa ku untuk berjalan beriringan dengannya.

"Tidak, panggilan itu tidak penting sama sekali." Aku menoleh padanya, wajahnya terlihat sangat santai, seakan-akan hal itu memang bukan hal besar.

Deringan ponsel Cal kembali terdengar, ia kembali merogoh saku celananya, di sana tertera nama yang sama seperti panggilan sebelumnya.

Nafas ku mulai sedikit tercekat saat melihat hal itu, sudah kuyakini bahwa Cal pasti akan pergi menemuinya.

"Apa kau akan pergi?" Terkutuklah suara ku yang sangat terdengar menyedihkan ini.

Percuma aku memendam rasa kesal atau benci padanya, karena itu sama sekali tak berpengaruh untuknya.

Dia selalu berubah-ubah secepat angin yang berhembus.

Ku rasakan rangkulannya bertambah erat di bahu ku, membuat aku menoleh ke wajahnya.

Hate it! Dari sudut pandang mana pun, tetap saja ia terlihat menawan.

"Apa kau tidak mengingat ucapan ku waktu itu? Aku berkata bahwa kau tidak akan bisa jauh dari ku."

Ya, aku mengingatnya Cal. Dengan kata lain, kau tidak akan pergi. Tapi, apa kah aku bisa mempercayai mu? Aku tidak ingin bertaruh lagi, Cal.

"Sekarang kau istirahat, karena nanti kita akan dinner di suatu tempat yang aku yakin kau akan suka." Ku lihat senyum Cal bersinar dari bawah sini.

Aku hanya mengangguk dengan diam. Berharap detak jantung ku tidak terdengar sampai keluar.

Kau terlalu banyak tersenyum, dan senyummu itu lebih parah dari sebuah candu untukku.

***

Hulla!!

Siapa yang nungguin hayo? Wkwk

Published : 15, Juli 2017

#140717

My MASTER IS STRANGER [ON HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang