Masalah bermula saat Pangeran Taehyun diculik tepat di hari besar perayaan ulang tahunnya yang ke-20. Ia lalu dibawa ke tempat terjauh dari Kerajaan dan dipaksa melakukan hal-hal terlarang, sangat menyiksa fisik dan mental Taehyun.
Namun, siapa sang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gojoseon, March 28
Terry itu bukan teman lama Soya dari Gojeoson bernama Jihoon. Terry itu bukan sembarang pemuda yang bisa dibawa Tuan Lay dengan mudah—banyak orang berspekulasi bahwa deretan pemuda tampan yang kerap disewakan oleh Tuan Lay itu adalah keponakan jauhnya, dibawa ke Goyeolga yang terkenal dengan banyaknya penduduk pengusaha kaya, meski cukup terbelakang dan miskin akan informasi antar Negri. Terry itu bukan rakyat biasa.
Dia itu bangsawan. Dia putramahkota!
Yeonjun menghela napas panjang. Entahlah, sudah untuk keberapa kalinya. Hatinya sendiri sejak tadi sudah mendekam jengkel dalam-dalam—marah juga pada diri sendiri, sejak awal dia tidak terlalu memperlakukan Taehyun sebagai seorang pangeran sebagaimana mestinya. Apakah aku akan diampuni? Apabersikaplancang akan mendapat hukuman mati?
Melirik Soya kemudian, Yeonjun jadi merasa tak berdaya. Lelaki itu paham adiknya hanya tak punya pilihan dan terlalu ceroboh. Soya si gadis ceroboh—Yeonjun sudah mengerti benar pernyataan itu.
Yeonjun pun akhirnya maju untuk mengetuk pintu kamar Taehyun setelah sepuluh menit berperang batin dengan diri sendiri.
Tok! Tok!
Terdengar suara langkah kaki lambat pada lantai kayu di dalam kamar. Taehyun memunculkan diri di pintu tak lama setelahnya. Yeonjun reflek berlutut seraya menunduk. "Hormat, Yang Mulia."
Taehyun sebenarnya tidak kaget lagi, hanya sedikit terkejut saja dengan sikap Yeonjun karena sangat berbeda dengan yang biasa. Yang dipanggil "Yang Mulia" itu hanya terkekeh memandangnya. "Sudahlah. Kau sudah terlanjur bersikap biasa denganku. Rasanya aneh saat kau tiba-tiba begini." Maniknya langsung tertuju pada Soya yang berdiri tak jauh di belakang Yeonjun, menunduk sambil meremas-remas jemarinya sendiri. "Jadi, gadis itu sudah mengaku?"
"Maafkan kelancangan adik saya berbohong pada anda, Yang Mulia."
"Adik? Dia bilang kau itu kekasihnya, dan dia adik butler-ku bernama Choi Soobin."
Yeonjun memejam tertekan, Soya ternyata sudah berbuat terlalu banyak. "Itu semua juga kebohongan. Ampuni adik saya, Yang Mulia. Ini kesalahan saya."
Taehyun terkekeh lagi. Yeonjun di sana kaku sekali. Sudah lebih dari satu bulan tinggal jauh dari kawasan istana dan lingkungan orang-orang yang menghormati Taehyun membuat pemuda itu jadi agak risih ketika mendapat kembali rasa hormat itu. Baru juga Taehyun sadari, betapa angkuh dan dinginnya dirinya tatkala dahulu harus berhadapan dengan banyak pihak, persetan apakah orang itu sama tinggi kedudukannya atau lebih tua darinya.
Bahkan pangeran muda itu kerap berbicara sinis dengan Perdana Menteri usia 40-an dengan enteng kendati saat itu dirinya masih menginjak usia belasan. Berani dan tak kenal sopan santun, didikan apatis yang lelaki itu terima sebagai garis keturunan bangsawan tertinggi sejak kecil.