Masalah bermula saat Pangeran Taehyun diculik tepat di hari besar perayaan ulang tahunnya yang ke-20. Ia lalu dibawa ke tempat terjauh dari Kerajaan dan dipaksa melakukan hal-hal terlarang, sangat menyiksa fisik dan mental Taehyun.
Namun, siapa sang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yeonjun sempat melihatnya. Seorang perempuan berpakaian bagus di antara pepohonan jauh di seberang sungai sana. Firasatnya sangat tepat. Keputusan terbaik untuknya cemas dan langsung menyusul sang adik yang sedang sendirian di sungai ini. Soya dalam bahaya, dan Yeonjun harus selalu ada untuk melindunginya.
Setidaknya hanya satu dugaan Yeonjun yang salah saat ini. Dirinya ternyata tidak sekuat itu untuk merasa mampu kembali tegak dan membawa mereka berdua menyingkir dari sungai itu. Malahan, darahnya malah mengucur lebih banyak pasca anak panah itu berhasil mereka cabut dari dadanya. "Ahhk!" desis Yeonjun memejam, masih berusaha sekuat tenaga mengatasi rasa sakit.
"Oppa! Oppa, sekarang bagaimana, uh?" racau Soya, tetap menahan punggung Yeonjun menyender padanya. Air mata mulai kembali bergulir membasahi pipinya.
"Aku ... tidak apa-apa. Aku janji," balas Yeonjun dengan napas tersengal-sengal.
Tak lama kemudian, Choi Soobin muncul mencari mereka. Tadinya dia hendak mengunjungi Yeonjun dan Soya di rumah tuanya itu, paling tidak sekedar memastikan kedua tamunya memiliki persediaan pangan dan air bersih mengalir yang cukup. Namun melihat kakak adik tersebut kesulitan di pinggir sungai, membuat pria itu tak memerlukan pikir panjang lagi untuk menyusul.
"Hey, apa yang terjadi?" tanyanya panik, langsung merengkuh Yeonjun untuk dia gendong ke depan tubuhnya.
"A-Ahjussi?" panggil Yeonjun lemah, pasrah saja saat menyadari tubuhnya telah terangkat.
"Kenapa bisa sampai seperti ini, uh? Hey, Nak. Bertahanlah," desis Soobin cemas, dan mulai memandang defensif ke sekeliling. "Nona muda, ayo ikuti aku. Di sini pasti tidak aman. Kita juga perlu membawa anak ini ke tabib. Ayo, cepat!" perintahnya. Yang kemudian langsung disetujui Soya dengan ikut berlari memegangi sisi pakaian Soobin.
Mereka berlari cukup kencang. Yeonjun cukup kuat untuk memastikan dirinya tetap tersadar meski penglihatannya barangkali sudah mengabur karena kehilangan banyak darah. Soobin membawanya ke rumah tabib Desa yang terpercaya tak jauh dari rumahnya. Membaringkannya pada ranjang rendah pasien, Soobin tak lupa menitipkan pesan serupa perintah pada tabib pria di sana. "Selamatkan dia. Jangan sampai dia mati. Ini perintah kerajaan." Membuat sang tabib sontak terbelalak, dan melangsungkan pengobatan dengan tegang.
Di sisa tangisannya Soya hendak menghampiri Yeonjun, namun Soobin menghadangnya. "Nona, kita harus menunggu di luar. Tabib biasanya harus ditinggalkan sendiri dengan pasiennya ketika bekerja."
"T-tapi—"
"Tolong menurut saja, Nona." Soobin langsung menuntun lembut si gadis keluar. Membawanya duduk bersisian di sebuah kursi kayu memanjang di teras kediaman tabib itu. Melirik Soya yang masih sesenggukan pelan, membuat prajurit itu berinisiatif mengeluarkan kain kecil dari sakunya. "Usap itu."
Soya menoleh malas, tatapannya kosong. "Eoh?"
"Air matamu," jawab Soobin. "Pangeran takkan suka melihatmu begini. Dia pasti murka kalau melihat keadaan obat tidurnya seperti sekarang."