25 - Reality by Destiny

1K 239 281
                                        

"Ahjussi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ahjussi."

"Kenapa? Ada yang sakit?"

"Bukan," jawab Yeonjun, memicing sekelilingnya. "Kita mau ke mana? Katanya mau menunggu adikku Soya agar kami bisa pergi dari Negri ini."

Alih-alih membiarkan Yeonjun berdiam di rumah guna beristirahat sampai pulih, Soobin tiba-tiba saja kepikiran sesuatu yang membuatnya dipenuhi keyakinan seratus persen. Sesuatu yang harus diselesaikan, sesuatu yang harus segera dikemukakan. Masih memacu kuda dengan fokus, Soobin merespon sekenanya, "Aku berubah pikiran," katanya. "Eratkan pegangan. Aku akan mempercepat laju kuda ini," pintanya, sehingga Yeonjun yang duduk di belakangnya memperkuat cekalan di sekitar pakaiannya.

"Apa kita akan menjemput Soya?" tanya Yeonjun, tak mudah untuk membuat pemuda itu menutup mulut dengan damai. "Pangeran itu takkan menikahi adikku, 'kan?"

"Kita tidak akan pernah bisa menebaknya."

"Apa aku bisa bertemu Putri nanti? Aku belum melihatnya saat meninggalkan istana. Virdia harus tahu kalau aku baik-baik saja, dia pasti sangat cemas."

"Kau jauh dari kata baik, Choi Yeonjun," Soobin tetap merespon seadanya. "Dan kita bukan ke istana."

"Eoh?" Yeonjun makin mengerutkan dahi dalam-dalam. Tapi dari mengamati selama hampir dua jam belakangan, rute jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju pusat kota di mana kau akan segera menemukan Kerajaan berdiri megah. Paling tidak, setelah nyaris mencapai lokasi yang sejak awal dibayangkan, Yeonjun baru bisa percaya bahwa mereka memang tidak menuju istana. Melainkan, ke pemukiman tak jauh dari area pusat.

"Sudah sampai." Soobin memelankan laju kuda dan berhenti di depan sebuah rumah yang tampak sepi.

Yeonjun langsung melompat turun meski maniknya tak putus tertuju pada bangunan sederhana itu. "Rumah siapa lagi ini? Rumah Ahjussi nomor kesekian?"

"Ayo, kita masuk saja, dan kau lihat sendiri."

Tak lagi menoleh apalagi merespon, Yeonjun berusaha maju dengan langkah tegap mendekati rumah itu. Memerhatikan detil bangunan dan mulai mengetuk sambil kepalanya tak henti mencoba menerka-nerka; tempat apa ini, dan apa maksud dirinya dibawa ke sini.

Tok! Tok!

"Permisi? Apa ada or—"

"Yeonjun?" Pintu sudah lebih dulu dibuka, dan seorang pria paruh baya refleks maju dan merengkuh tubuh jangkung putranya. Ternyata Junyoung sudah lebih dulu tahu bahwa itu Yeonjun dari mendengar suaranya saja. "Ayah ... Ayah sangat merindukanmu," lirihnya, tak sanggup membendung air mata.

"Y-Yeonjun juga." Yeonjun membalas pelukan itu. "Maaf, sudah menimbulkan kekacauan ini, Ayah. Soya ... Soya ...."

Junyoung langsung melepas pelukannya, menatap lurus sepasang manik hazel pekat putranya. "Tidak, Nak. Ini bukanlah kekacauan, atau masalah yang ditimbulkan oleh siapa pun. Ini hanya soal takdir. Tempatmu di sini, dan waktu telah bekerja dengan baik mempersiapkanmu mengemban tanggung jawab."

[✓] ETERNITYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang