Mengenai sebuah hubungan yang dibentangkan oleh perbedaan.
Antara aku dan kamu . . . Dapatkah berubah menjadi kita?
⛓Warn:
•Crime-Action
•Non-baku
•Some harsh words, slightly mature
•Including a lot of crime scene and action
Cover picture by me @wa...
Ada debar asing yang mengiringi langkah Keara begitu dirinya menginjakkan kaki di area lantai dasar Senayan City hari ini. Ini bukan kali pertamanya pergi kemari, ditambah dengan lokasinya yang lumayan dekat dengan kantor Mabes Polri, tentu debar yang di alami Keara sekarang bukan dipicu oleh suasana tempat yang asing, melainkan karena sosok yang kini tengah berdiri sembari memainkan ponselnya didepan gerai salah satu pakaian mewah.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Empat hari berlalu sejak mereka pertama beremu dan mengobrol, Keara masih merasa ada sesuatu dalam diri Ben yang membuatnya wajib merasa was-was setiap detik. Meskipun dia sendiri sudah pernah melihat senyum si pemuda, namun keraguannya soal idenititas asli Ben masih abu-abu. Bahkan ketika lelaki itu sudah memberitahunya tentang dimana tempatnya bekerja beserta sebuah kartu nama dengan label firma hukum terkemuka sebagai buktinya ㅡBen bilang dia bekerja sebagai seorang pengacara ngomong-ngomong.
Dia menatap gundah pada sebuah kartu tipis ditangan kirinya, lalu dengan langkah mantap mulsai menghampiri tempat lelaki itu masih berdiri tegap.
"Halo, Ben. Sorry telat." Sapanya dengan senyum cerah yang berbanding terbalik dengan gemuruh dalam hatinya, "Kamu udah nunggu lama ya?"
Lelaki itu hanya menggeleng sekilas sebagai balasan, lalu mulai menilik penampilan Keara dari atas kebawah. Membuat yang dilirik jadi salah tingkah campur risih.
"Kenapa? Ada yang salah sama penampilanku?" Tanyanya hati-hati.
Hari ini Keara memang pergi hanya dengan mengugunakan kaus putih oversized lengan pendek dipadu dengan celana denim biru tua dan sebuah sneakers putih yang tampak nyaman dipakai berkeliling, juga backpack berukuran sedang yang berisi laptop. Rambutnya diikat tinggi, cenderung asal-asalan namun masih presentable. Jelas penampilan yang berbanding terbalik kalau dibandingkan dengan penampilannya tempo hari yang kelihatan lebih feminim dengan dress, sling bag, juga sepatu hak tinggi dan rambut dibiarkan tergerai.
Bukan apa-apa sih, hanya saja Keara baru selesai bekerja sewaktu Ben mengajaknya bertemu. Dan yang lebih beruntung lagi, hari ini dia tidak sedang memakai pakaian dinas. Sebagai seorang anggota penyidik, pakaian kantornya sehari-hari bersifat cenderung kasual. Keara biasanya melapisi kausnya dengan cardigan berkerah agar terlihat lebih pantas, tapi kali ini dia memutuskan untuk meninggalkan cardigannya dan hanya pergi memakai kaus tipis karena cuaca diluar yang kebetulan sedang cerah.
"Nggak ada. Kamu cuma kelihatan lebih . . . Beda." Ujar Ben.
"Kalau beda yang kamu maksud itu berarti berantakan, then it is. Maaf banget, tadi aku habis ketemu sama teman sebelum kesini, jadi nggak sempat touch-up lagi." Bohongnya dengan senyum lima jari.
Tanpa di duga, Ben justru turut mengulas satu senyum super tipisnya.
"Oh iya, nih kartu kamu." Kata Keara sembari mengulurkan satu keping kartu yang tidak asing bagi Ben, "Tolong jangan salah paham, aku beneran nggak punya niat untuk nyuri apapun dari kamu. Kartu kamu cuma nggak sengaja kebawa aku kok. Salahku juga sih, waktu itu nggak buru-buru ngembaliin kartu kamu abis beli popcorn dan malah dikantongin."