12. Penolakan

1.3K 71 7
                                        

Happy reading

Suara hujan yang berjatuhan mampu menciptakan keheningan. Tercium aroma tanah basah, apalagi dengan suasana malam yang gelap.

"Kak?

Rido menoleh ke arah Arabelle. Mengangkat satu alisnya, "Kenapa?" tanya Rido kemudian.

Ara menggigit bibir bawah nya pelan. Ingin bertanya tetapi ia masih ragu. Tapi semenit kemudian ia menggeleng, berusaha mengusir pikiran negatif nya.

"Kalo Ara panggil kakak Adrian, boleh?" ucap nya dengan cepat.

Rido tersenyum. Lalu tak lama ia mengangguk, "Boleh," ucap nya kemudian.

"Makasii Kak!" seru Arabelle riang.

"Sama-sama."

•••

Daniel menggeram marah saat Papanya mengambil pisau kecil yang selalu ia bawa di saku hoodie nya itu. Lalu pria paruh baya itu membuang pisau kecil itu ke tumpukan sampah.

"Kamu harus berubah! Berapa kali Papa bilang? Hal seperti itu tak baik, Daniel!"

Daniel berdecih. Bukan mau nya seperti ini, jika Daniel bisa. Daniel akan berubah, tetapi ia tak bisa. Hasrat untuk membunuh nya tak bisa Daniel tahan.

"Papa dulu juga pernah ngerasain, kan? Susah Pa! Jangan pernah paksa Daniel terus-terusan!" balas Daniel kemudian mengambil pisau nya dari tumpukan sampah, menjijikan.

"Buang, Daniel! Menghilangkan nyawa gak akan pernah buat kamu puas!"

"Terserah, Daniel cuma mau lakuin apa yang Daniel suka."

Lalu setelah itu, Daniel membuka pintu mobilnya, menjalankan mobil hitamnya itu menuju suatu tempat. Ia perlu mendinginkan pikirannya sekarang.

Tak butuh waktu lama karna ia menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan. Daniel sampai di suatu rumah yang terbilang megah. Ia turun dari mobilnya, berjalan menuju pintu. Lalu mengetuk pintu itu.

Lama tak mendapat jawaban, Daniel semakin kencang mengetuk pintu. Bahkan bisa dibilang itu bukan mengetuk, tetapi menggedor.

Pagi ini ia datang ke rumah Rido alias Adrian. Bukan ingin bertemu lelaki itu, tetapi ia ingin bertemu dengan Arabelle, gadisnya.

Pintu terbuka, menampilkan Ara dengan seragam sekolahnya. Ia tersenyum, akhirnya Daniel bisa melihat wajah polos ini lagi. Wajah yang tak pernah absen dari pikirannya.

"Siapa Ra?"

Ara melihat ke arah belakang, Adrian. Lelaki dengan kaos hitam itu menautkan dua alisnya saat melihat Daniel. "Mau apa lo?" tanyanya datar.

"Bukan urusan lo," balas Daniel tak kalah datarnya.

"Kamu pulang, ya?" tanya Daniel kepada Ara, lelaki itu memegang tangan Ara.

"Pulang kemana? Rumah dia di sini, sama gue. Gue kakak nya!" Bukan Ara yang menjawab, melainkan Adrian.

"Gue gak peduli. Gue ngomong sama Ara, bukan lo."

"Ra! Inget apa ucapan gue semalam!" ucap Adrian membuat Ara terdiam.

Ara melepaskan tangannya dari tangan Daniel. Ya, Ara kembali ingat ucapan Adrian semalam.

"Gue kakak lo. Kalo lo gak percaya, kita tes DNA besok setelah lo pulang sekolah."

"Gue bener-bener sayang sama lo, Ra. Gue gak mau lo deket sama Daniel, karna dia gak bisa jaga lo. Tapi, keputusan tetep ada di lo, Ra. Pilih Daniel, dan jangan anggap gue kakak. lagi. Atau pilih gue, dan tinggalin Daniel."

Arabelle [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang