Gelap dan pusing. Hanya itu yang bisa aku rasakan. Aku ingin melihat pemandangan di luar sana, tetapi mengapa kelopak mataku susah untuk dibuka? Apa yang sebenarnya yang telah terjadi? Apa?
"Bangun sayang." Suara itu, itu pasti suara mama. Beberapa hari ini, aku selalu mendengar suara itu, suara yang sama. Tapi mengapa mama terisak? Ada apa sebenarnya? Mengapa aku tidak tahu apapun tentang ini semua?
"Kak, Ryo kangen kakak." Ryo? My little brother? Mengapa rasanya ada yang memeluk tubuhku? Oh tuhan, kumohon, bantu aku untuk membuka kedua kelopak mata ini. Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada semua ini?
Aku mendengar suara pintu terbuka, namun, tak lama kemudian tertutup kembali. Apa sekarang aku sendiri disini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Vy, kapan sih kamu bangun? Gak tahu apa aku sendirian terus? Gak tahu apa kalo aku itu butuh kamu setiap saat. Jangan bikin aku jadi orang gila karna ngomong sendiri deh, aku kan kangen kamu Vy. Cepet bangun ya, Chelsea selalu sayang Shilvy." Aku bisa merasakan seseorang mencium kedua kelopak mataku. Hey, kenapa aku bisa merasakan sesuatu, tapi aku tak bisa membuka kedua kelopak mataku? Ada apa ini? Apa aku sedang bermimpi? Kuharap iya, karna aku tak mau berlama-lama seperti ini.
Bagas POV
Kenapa harus seperti ini jadinya? Kenapa aku tak tahu jika dia mempunyai luka yang sangat parah? Oh god, aku sudah tak tahu lagi harus kemana. Harus bagaimana. Jangan biarkan dia pergi ya tuhan. Aku sangat menyayanginya.
Hari ini, tepat pada tanggal 14 Februari 2014, aku dan Shilvy genap berpacaran 10 bulan. Kalian pikir walaupun aku cowok, aku gak tahu kapan aku anniv atau pacaran? Tidak, aku sangat menghafalnya.
Setiap kali melihat wajahnya yang cantik itu tertidur, selalu saja pertanyaan-pertanyaan itu melintas di pikiranku.
Mengapa dia membenciku?
Apa ada yang salah dari diriku? Aku merasa tak pernah menyakitinya. Melihat kilatan matanya saat malam reunian itu, terlihat sangat jelas jika dia tak menyukai diriku. Apalagi saat dia lebih memilih Elang yang mendampinginya ke taman. Mengapa bukan aku saja? Apakah dia tidak tahu bahwa aku sakit hati melihatnya bergandengan tangan dengan Elang? Oh tuhan, cobaan apalagi yang kau berikan?
Sudah seminggu dia tertidur. Aku jadi ingat, apa waktu aku kecelakaan dia juga menemaniku? Mungkin tidak. Tapi, Kak Laurine mengatakan jika dia menjagaku setiap hari. Ah, aku jadi pusing sendiri mengingat hal itu.
Kini aku terduduk di sofa ruangan Shilvy. Aku melihat dia dari kejauhan. Mengapa dia selalu terlihat menawan meskipun dia pucat? Aku sangat menyayanginya. Tapi mengapa dia membenciku? Ah, sudahlah lupakan. Hari dimana Shilvy hampir tertabrak mobil itu, aku sangat kaget. Bagaimana tidak? Jahitan yang berada di kepala Shilvy terlepas. Padahal kata aunt Natalie, jahitan itu sudah bertahun-tahun adanya. Aku takut saat melihat dari kepalanya mengeluarkan banyak darah. Aku takut, bukan takut akan darah, tapi aku takut kehilangan Shilvy. Tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil Shilvy, sekalipun itu malaikat pencabut nyawa.
"Kak, makan dulu. Ini Ryo bawain makanan." Lamunanku buyar seketika saat Ryo menyenggol lenganku.
"I-iya." Aku mengambil bungkus makanan yang Ryo berikan. Ternyata isinya bubur. Dan yang istimewa, itu bubur kesukaan Shilvy. Ah, aku jadi tambah merindukannya.
"Kemarin kak Lilly datang, tapi dia langsung pergi lagi." Ucap Ryo.
Lilly? Astaga, aku melupakannya! Apa dia akan marah? Ah, tidak mungkin. Dia tidak seperti nona childishku yang sedang tertidur.
"Kak Bagas kok ngelamun?"
"E-eh, gak kok Yo. Dia sama siapa kesini?"
"Kayaknya sih sendirian."
"Oh yaudah. Habis gini kakak pamit ya Yo."
"He'em." Ryo menganggukan kepalanya, lalu kembali memakan bubur itu.
Setelah selesai makan, aku langsung pergi dari rumah sakit. Aku menitipkan Shilvy kepada Ryo, ya, karna orang tua Shilvy sedang mengambil pakaian Shilvy. Aku menaiki ducatiku, menuju rumah Lilly. Maafkan aku Lilly.
Tak butuh waktu lama, kini aku telah berada di depan rumah Lilly. Mbok Ila, pembantu Lilly menyuruhku agar segera masuk, dan akhirnya aku memasuki rumah Lilly yang sangat besar ini, namun selalu saja sepi.
Aku melihat Lilly sedang asyik dengan macbooknya. Dengan perlahan-lahan aku memasuki kamar Lilly.
"Door." Ucapku setengah berteriak.
"Aaaaah—Bagas?" Haha, Lilly selalu saja memasang wajah polosnya itu.
"Kamu kenapa ke rumah sakit, tapi tidak menemuiku hah?" Ucapku sambil membelai rambut Lilly. Hal yang selalu aku lakukan kepada Lilly.
"Aku tak mau mengganggumu. Sepertinya, Shilvy lebih membutuhkanmu."
"Kamu apaan sih? Kamu itu juga membutuhkanku kan? Temui aku saja, aku kan bisa pamit ke Ryo, agar menemanimu."
"Tak apa Bagas, aku bisa sendiri kok. Lagian, Shilvy lebih berharga."
Aku terdiam. Shilvy lebih berharga? Itu pasti. Sampai kapanpun dia akan selalu menjadi berlian di hatiku. Tapi, Lilly, dia juga sangat berharga bagiku. Oh tuhan, mengapa semua ini harus terjadi?
"Ih, ngapain ngelamun sih?" Aku terkejut saat Lilly mencubit lenganku.
"Hehe, maaf ya."
"Iya deh."
"Makan di luar yuk."
"Kamu bersungguh Bagas? Aku mau."
"Ayo berangkat."
Bagas POV Off
Ryo POV
Kak Bagas kenapa sih? Kenapa kak Bagas lebih mementingkan Kak Lilly daripada kak Shilvy? Apa Kak Bagas dan Kak Lilly mempunyai hubungan spesial? Lalu bagaimana dengan Kak Shilvy?
"Kak, Kak Bagas itu jahat ya. Masa dia cuman nemenin kakak seminggu? Terus, dia kenapa lebih memilih kak Lilly daripada Kakak? Padahal waktu Kak Bagas seperti ini, kakak rela gak pulang sebulan demi kak Bagas, tapi, apa ini balesan kak Bagas. Kak Shilvy tenang aja ya, nanti Kak Bagas dapat balasan dari Ryo, asalkan Kak Shilvy bangun. Ayo kak kita liat dunia luar bareng. Kita berantem bareng. Ryo sangat merindukan Kakak."
Aku terus mengusap lengan Kak Shilvy. Kak Shilvy menangis? Apa dia merespon setiap ucapanku? Apa setelah ini Kak Shilvy akan sadar?
"Kak, kakak tahu apa yang diucapkan Ryo? Ayo Kak, bangun. Jangan tidur terus!"
Aku terus menerus memyuruh Kak Shilvy membukakan matanya. Tapi, mengapa dia tidak membukan matanya? Padahal, ia terus-menerus mengeluarkan air mata?
Apa aku sedang bermimpi sekarang? Apa ini nyata? Kak Shilvy, kak Shilvy membuka kelopak matanya.
"Kak, kakak sudah kembali? Ryo sayang kakak." Aku langsung memeluk Kak Shilvy. Aku merindukannya, sangat amat merindukannya.
"Air." Itu ucapan pertama kak Shilvy. Dengan segera aku mengambilkan air putih yang berada di nakas.
"Ini kak, diminum ya." Kak Shilvy mengangguk, lalu meminum airnya itu, dengan sedikit bantuanku.
Terima kasih tuhan, terima kasih telah menggembalikan kakakku tercinta. Terima kasih.
Ryo POV Off
Aku tidak tahu ini dorongan dari mana, aku dengan kekuatan penuh membuka kelopak mataku, dan akhirnya terbuka. Tapi aku merasa sedih, kenapa orang yang pertama kali aku lihat bukan Bagas? Apa dia tidak menemaniku sama sekali? Ah, kamu itu bego Shilvy. Pasti lah dia asyik jalan bersama Lilly, tidak mungkin dia akan memikirkanmu.
Setelah aku meminum air, aku mengambil handphoneku, dan ternyata sekarang tanggal 14 Februari. Anniv 10 bulanku dengan Bagas? Apa dia ingat? Apa dia selalu ingat? Aku akan mencari tahu, siapa sebenarny Lilly. Kalo sampai dia memang pacar Bagas, aku akan segera membunuhnya!
KAMU SEDANG MEMBACA
My Arrogant Boyfriend
Ficção AdolescenteWARNING!! [CERITA ABSURD. KALIAN BISA BACA CERITAKU YANG LAIN] Mempunyai pacar adalah keinginan setiap manusia. Menurut beberapa orang, mempunyai pacar itu tak memandang apapun. Dia gak ganteng, dia gak kaya, dia gak pinter, yang penting rasa sayang...
