10. Tersandung Kasus

712 127 10
                                        

Memasang wajah biasa saja, Kinanti mendengarkan news anchor berbicara di televisi.

"Setelah buron selama seminggu, seorang dokter bedah berinisial DLA akhirnya dibekuk di apartemen teman wanitanya. Dia dituding lalai melakukan tindakan medis pada korban kecelakaan yang terjadi lebih dari dua tahun lalu. Sebilah pisau bedah ditemukan bersama abu pembakaran di rumah kremasi. Putra korban yang juga petinggi partai menuntut kasus ini diproses secara hukum ...."

Kinanti tak bisa fokus menyimak berita yang masih menyita perhatian rekan-rekannya. Frasa, 'dibekuk di apartemen teman wanita' masih terngiang di kepala. Ambigu, membuatnya bingung. Sangat mengganggunya.

Bagas
[Abang pernah nanganin kasus kecelakaan massal waktu baru datang ke Makassar. Banyak korban parah, dioperasi. Abang piket malam saat peristiwa terjadi]


[Gimana Mama?]

Bagas
[Histeris. Kita nggak nyangka, buronan dokter yang lagi viral, ternyata Abang. Mama barusan terbang ke Makassar bareng Ayah nyari kebenaran info]

Kinanti terduduk dengan lemas. Dia sedang mendapatkan masalah sedangkan aku di sini hanya diam tak melakukan apapun.

=====🍎🍎🍎=====

"Mama ingin mendengar pengakuan darimu, benarkah yang dikatakan orang-orang di luar sana?" Rahma bertanya dengan hati-hati. Dia mendatangi putranya di Polda. Tak diijinkannya Nugraha untuk mengantarnya bertemu dengan Diaz. Rahma terlalu malu pada suaminya.

"Untuk apa aku bicara, Ma. Semua orang tiba-tiba menjadi hakim," jawab Diaz sarkas.

"Mama tak mempermasalahkan kasus yang membelitmu. Setiap pekerjaan ada resikonya. Mama paham tentang ini." Hibur Rahma. Bagaimanapun kesalnya dengan kelakukan Diaz, dia tetap putranya.

"Lantas, apalagi yang ingin Mama tau?" Diaz malas menanggapi. Dia sangat lelah menjawab puluhan pertanyaan yang berulang dari penyidik.

"Kehidupan pribadimu. Benarkah kamu kembali menjalin hubungan dengan Vania?" tanya Rahma. Dia terlalu takut alasan Diaz tak pernah pulang karena disibukkan wanita itu. Seperti saat kuliah dulu yang hampir gagal karena terlalu lengket dengan Vania.

"Bagaimana jika kubilang kami bertemu karena bekerja di rumah sakit yang sama? Apakah Mama akan menganggap ini suatu kebetulan?" Diaz mengabaikan pertanyaan ibunya.

"Mama harap yang kamu katakan benar. Jika sebaliknya, malang sekali nasib Kinanti."

"Jangan libatkan Kinanti dalam masalahku, Ma!" sambar Diaz. Rona wajahnya memerah.

"Kenapa? Kamu takut kehilangan dia? Tanpa kamu katakan, Kinanti pun akan terlibat dengan sendirinya," ucap Rahma dengan geram.

Tubuh Diaz bergetar hebat.

=====🍎🍎🍎=====

Nugraha kembali memeriksa salinan rekam medis korban yang diberikan Dokter Rian.

"Rekam medis ini akan menjadi bahan tertawaan orang. Masa tak tertulis siapa dokter yg menangani operasi pasien?" tanya Nugraha.

"Saat itu kondisi luar biasa panik. Puluhan korban kecelakaan datang dalam keadaan mengenaskan. Tengah malam. Darah berceceran di lantai rumah sakit. Korban luka berat perlu penanganan segera tanpa meminta persetujuan pihak keluarga."

"Jika seperti ini, putraku dijadikan tumbal. Tak ada bukti lain yang menyatakan Diaz terlibat kecuali jadwal piket malam yang mencantumkan namanya. Dasar tuduhannya subjektif. Rumah sakit yang seharusnya bertanggung jawab atas prosedur penanganan korban."

(Bukan)  Cinta TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang