"Kalo saya jadi Bu Kinanti, gak bakal mau pindah ke daerah. Tunjangannya kecil," kata Pak Jafar. Pria setengah baya, guru fisika, tiba-tiba duduk di sofa. Kinanti yang mejanya berdekatan dengan satu set sofa di ruang guru, mendengar dengan jelas.
Namanya disebut, tangan yang sedang merapikan buku, berhenti bergerak. Senyum tersungging dari bibir tipis yang diulas lipstick berwarna nude. Alami tapi tak pucat. Tak berlebihan untuk digunakan di kantor.
"Saya malah seneng Bu Kinanti pindah ke sini. Bisa kondangan ke ibukota. Jajap penganten. Maen lagi ke Ancol kayak jaman esde," canda Pak Jufri, wakil kepala sekolah bidang kurikulum yang menerima kedatangannya dengan tangan terbuka.
"Iya, Pak Jufri yang jadi mantennya."
"Pak Jufri mesti dapet pasangan yang jauh. Biar sering jalan-jalan."
"Nggak, ah. Males, tua di jalan." Yang digoda membalas lempeng.
"Jangan malu-maluin, Pak. Rumah deket gerbang tol, perjalanan ke Jakarta gak jauh, kok."
"Dia maunya ke Jakarta naek bajaj. Biar kena angin gak nyium bau bensin. Makanya males ngikut ke mana-mana."
"Ganteng tapi tukang mabuk. Payah."
"Ogah jadiin mantu. Gak bisa ngajak anak saya honeymoon ke Bali."
"Gak bisa diajak umroh hahaha ...."
"Mau lah kalo diajak umroh. Tapi dimodalin mertua hahaha ..." Pak Jufri tertawa garing mendengar banyolannya sendiri.
"Kemaruk!!!"
Kinanti lagi-lagi tersenyum mendengar keriuhan di ruang guru. Baru seminggu pindah ke skolah ini, rekan-rekannya bersikap terbuka. Guru senior mau berbaur dengan dia yang masih bau kencur. Menjadikan salah satu pejabat teras sebagai objek bercanda yang menyenangkan. Menyenangkan bagi yang meledek.
=====🍎🍎🍎=====
"Syukurlah kalo kamu seneng di sekolah baru." Uwa Sasti, kakak dari pihak ibu, menimpali. Mereka sedang berada di teras. Menikmati suasana senja yang sepi. Tak ada keramaian di balai depan yang disulap menjadi perpustakaan terbuka.
Bertahun lalu, dia sempat khawatir Kinanti menjalin hubungan dengan kakak sambungnya. Mantan pustakawan yang menghabiskan masa pensiun di kota udang, mengajak keponakan untuk tinggal bersama. Mengurus Balai Bambu, wadah bagi anak-anak muda yang tertarik dunia menulis. Kedua anaknya sedang menimba ilmu di negeri orang.
Rekam jejak Kinanti yang pernah menjadi pengelola buletin kampus, menulis beberapa buku, menjuarai lomba dan membina ekskul karya ilmiah, menjadi modal yang cukup untuk membina bibit-bibit muda menyalurkan bakat.
Sesuatu yang mulai ditinggalkan kaum milenial. Minat terhadap kemajuan iptek tinggi. Namun, daya baca rendah. Ujungnya, merasa puas menjadi penikmat konten digital berbentuk gambar hidup yang memanjakan mata.
Terlalu sayang potensi Kinanti sempat hilang karena dicabutnya tugas tambahan. Energi yang tak tersalurkan disamping berita sumir yang terus berhembus membuat citra negatif melekat pada dirinya. Keceriaan menghilang, sikap ketus sering meletus.
"Ayo tinggalkan ibu kota, tempat ini terlalu kejam memberangus imajinasimu," ajaknya berkali-kali pada Kinanti.
Jakarta, kota megalopolitan yang katanya semakin individualis. Namun, segala kenyinyiran ada di sana. Kinanti tahu persis tentang itu.
=====🍎🍎🍎======
[Hai, Bidadari! Apakah kerupuk udang Cirebon serenyah senyummu? Suatu saat, Abang ingin mencobanya]
KAMU SEDANG MEMBACA
(Bukan) Cinta Tabu
RomanceTumbuh bersama dalam keluarga baru tak menjadikan Diaz Akbar benar-benar menganggap Kinanti sebagai adiknya. Mereka, menjalin hubungan asmara. Keluarga disorot karena hal yang dipandang tabu oleh masyarakat. Setelah sekian tahun 'menepi' untuk mere...
