6. Sanksi Sosial

867 141 4
                                        

"Hallaahhh ... belasan tahun hidup serumah. Bisa jadi Kinanti telah dirusak oleh Diaz."

"Kebalik kali Mamih. Masa iya Alma yang pintar dan cantiknya kayak model ditinggalin gitu aja? Mungkin Diaz yang diapa-apain sama Kinanti."

"Yupz. Apa sih yang bikin para suami kita klepek-klepek kalau bukan pelayanan yaang .... Ituuu tuuuuhhh."

Celaan demi celaan yang terlontar dari mulut para wanita di keluarga besar istrinya saat arisan keluarga benar-benar membuatnya marah. Nugraha sebisa mungkin menahan diri. Dia berdeham keras.

Tante dan sepupu Diaz yang sedang gibah di teras rumah, terlonjak kaget.

"Mbak Dian, Gina, dan Mbak Vera; yang di dalam nyariin. Arisan mau dikocok, " ucap Nugraha. Sontak ketiganya berlarian ke dalam rumah.

Nugraha tercenung sendiri di teras. Gurat wajahnya terlihat emosi. Dia mengingat kembali masa-masa dulu saat menginjak usia tiga tahun perkawinan bersama Rahma.

"Aku ingin membawa Diaz ke Singapura. Tinggal bersamaku. Aku yakin bisa mengurusnya dengan baik." Barry, mantan suami Rahma menyambanginya ke rumah. Pria blasteran Tionghoa Perancis itu meminta haknya sebagai seorang ayah.

"Cih, aku tak percaya!" Rahma menolak.

"Tinggal bersamaku akan membuatnya kaya pengalaman hidup." Argumen yang dikemukakan Barry membuat Nugraha luluh. Dia meminta sang istri menyerahkan sepenuhnya pada Diaz.

Menurut Nugraha, usia lulus SMP sudah bisa menentukan hidupnya sendiri. Rahma yang masih tak mau mengikuti permintaan mantan suaminya tak kuasa menahan tangis saat Diaz mengatakan 'iya' begitu saja.

"Aku takut Diaz akan meniru papanya," lirih Rahma.

Kejutan besar terjadi saat keduanya menengok ke Singapura. Rahma menjerit menemukan stok 'pengaman' di kamar mandi.

Diaz bilang, dia dan papanya rutin mengadakan 'pesta' di apartemen setiap Barry berhasil menangani kasus hukum.

Kelas dua SMA, Rahma berhasil membawa Diaz pulang kembali ke Indonesia. Kemudian menyekolahkannya di pesantren.

Sayang, semua tak lagi sama. Tahun ketiga kuliah di Surabaya, seorang wanita  datang ke rumah sakit tempatnya bekerja mengatakan jika dia mengandung anak Diaz. Diaz menolak bertanggung jawab. Dia bilang bukan satu-satunya pria yang meniduri wanita itu. Dia melakukannya di pesta ulang tahun teman kuliahnya. Beramai-ramai.

Beruntung, gadis itu mau dites DNA yang diekstrak dari jaringan plasenta. Hasil tes membuktikan, janin yang dikandung bukan anak Diaz. Pria itu selamat.

Temuan di Singapura dan skandal masa kuliah menjadi rahasia berdua Rahma dan Nugraha. Akan tetapi, semua tak bisa terus ditutupi jika kelakuan si pelaku tak berubah.

Tatkala lulus dan bekerja, santer jika putra sambungnya kerap gonta-ganti pacar. Mereka tak bekerja di rumah sakit yang sama. Namun, isu di dunia profesi di kota yang sama terlalu sempit untuk tak terdengar.

Kini, putrinya bertekuk lutut di hadapan pria bajingan itu. Nugraha tak rida lahir batin. Namun, dia harus cerdik. Putrinya orang yang alot. Pendiam tapi keras saat punya tekad kuat.

Pertaruhannya pun berat. Bahtera rumah tangganya. Keduanya bersikap dingin sejak skandal terkuak.

Jika bukan karena permohonan maaf Rahma dan tangisannya yang menyayat,

"Aku bukannya tak suka Kinanti menjadi menantuku, Mas. Hanya saja, aku tak yakin Diaz mampu menjadi suami yang baik untuknya."

Hubungan mereka mungkin tak akan mencair.

(Bukan)  Cinta TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang