"Kinanti operasi mata di Bandung karena tak ingin membebanimu," papar Rahma pada Diaz saat mempersiapkan acara syukuran yang akan digelar bada duhur.
Diaz yang sedang membentangkan karpet, menatap penuh cinta pada wanita yang sibuk menata minuman di atas meja. Sadar ada yang memperhatikan, Kinanti menoleh. Pipinya terasa panas. Dia menundukkan kepala.
Ya, ampun. Aku seperti remaja yang sedang jatuh cinta, bisiknya pada diri sendiri.
Tetangga, keluarga dekat, dan para anak yatim turut diundang.
=====☘️☘️☘️=====
Sepasang suami istri melihat interaksi pasangan baru itu.
"So sweet banget!" rutuk Renata dari kejauhan.
"Bang, lihat deh." Sikunya menyenggol pinggang Ganindra Aulia. Membuat suaminya kegelian.
"Apa sih?"
"Noh!" Pandangannya mengarah pada pasangan yang sedang makan makanan penutup, siomay. Ibu jari Diaz terangkat naik membersihkan sisa bumbu kacang yang menempel di sudut bibir Kinanti. Membawanya pada mulutnya. Mesra sekali.
"Ah, cuma gitu doang. Abang bisa lebih dari itu. Bikin ikan cue sama cupang bareng kamu," elaknya.
Renata tertawa mengingat malam pertama dan awal kehamilan si kembar.
"Mimih cerita, katanya Abang pernah mau dijodohin sama Mbak Kinanti," beber Renata membuka rahasia.
"Emang?!" Aulia terperanjat. Dia tak pernah tau kakak ipar Qorina akan didekatkan padanya.
"Tapi dia nolak!" Renata tertawa senang.
"Mimih gak kreatif," ujar Aulia santai.
"Maksudnya?"
"Anak Bunda ada empat, ya besan juga harus punya empat. Masa dua anaknya punya mertua yang sama."
"Iya, ya."
"Ini malah paket hemat, adik dijadiin besan." Aulia geli.
"Mereka lebih ngirit. Suami istri kok besanan." Perkataan Renata merujuk pada tuan rumah yang mengadakan acara, Rahma dan Nugraha.
=====☘️☘️☘️=====
"Pegel," kata Diaz sambil merebahkan diri di atas kasur. Acara tadi siang tak memakai jasa pihak ketiga. Alhasil Diaz, Bagas dan Pak Gufron bolak-balik memindahkan perabot di rumah. Giska melarang ayahnya bantu-bantu.
"Diminum dulu obatnya." Kinanti membawa air putih dan beberapa pil. Tadi, dia sempat ngobrol tentang kondisi kesehatan Diaz pada Wilda yang memberinya obat pereda nyeri dan vitamin.
Diaz kembali bangun. Kinanti membuka kemasan obat yang langsung diminum suaminya.
Kinanti baru akan beranjak saat Diaz berkata.
"Eh, itu ...."
"Apa?"
"Sini."
"Jangan! Maksudku ... nanti saja. Aku belum siap." Kinanti menjauhkan wajah.
"Boleh, kan?" Kinanti cemas suami tak rida.
"Tentu saja. Honeymoon masih lama. Nunggu musim dingin di Eropa."
Kinanti bernapas lega.
=====☘️☘️☘️=====
Beberapa bulan kemudian.
"Ayolah, seharusnya kau senang tinggal di apartemen murah." Diaz Akbar berdecak sebal mendengar derai tawa Andrey Repin di telepon.
"Kau berdosa karena menertawakan orang yang hampir mati kedinginan," umpat Diaz.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Bukan) Cinta Tabu
RomanceTumbuh bersama dalam keluarga baru tak menjadikan Diaz Akbar benar-benar menganggap Kinanti sebagai adiknya. Mereka, menjalin hubungan asmara. Keluarga disorot karena hal yang dipandang tabu oleh masyarakat. Setelah sekian tahun 'menepi' untuk mere...
