22. Rencana Lain

860 138 16
                                        

"Saya anak paling tua. Tak bisa kembali ke Jeneponto meninggalkan keluarga yang sedang mengalami masa-masa sulit. Saya harap, Dokter mengerti." Diaz menelepon pemilik klinik.

"Tentu saja aku paham. Semoga keluargamu diberikan kekuatan melewati ujian ini." Terdengar balasan dari seberang. Diaz menutup sambungan telepon.

Satu masalah terselesaikan. Tinggal beberapa yang lain.

Segelas kopi yang dia racik membantunya menghilangkan penat. Diaz harus bekerja. Tak bisa terus mengandalkan papanya.

=====☘️☘️☘️=====

"Apa, nyari kerja? Aku tak salah dengar, heh?!" Barry menertawakan rencana Diaz.

"Saat di Jeneponto, aku menahan diri tak memberi modal karena dihalang-halangi mamamu. Agar kau belajar hidup sengsara. Bisa mandiri. Bertanggung jawab. Tapi sekarang, keadaannya lain. Bisa-bisanya putraku mengemis pekerjaan pada orang lain.

"Jangan kayak orang miskin, Diaz! Tak sulit bagiku membangun usaha untukmu." Barry jengkel.

"Reputasiku jelek, Papa. Tak akan ada yang datang jika aku membuka klinik di Jakarta," jawab Diaz pesimis.

"Heehh ... memang dirimu artis sampe orang-orang masih ingat kasus lamamu. Jangan besar kepala!" ejek Barry. Diaz malas meladeni papanya yang cerewet.

"Orang-orang mungkin sudah lupa. Tapi sesama dokter pasti tau. Ituuu--"

"Kudengar sepupu-sepupu istrinya Bagas jadi dokter. Kenapa kau tak join saja dengan mereka?"

"Tak usah, Papa. Itu memalukan."

"Aku akan lebih malu jika kau luntang-lantung melamar kerja." Sebelumnya Barry mendiamkan Diaz karena Nugraha memiliki banyak relasi rekan seprofesi. Sekarang, kondisinya terbalik. Jika tertimpa musibah, banyak kenalan pura-pura tak kenal.

=====☘️☘️☘️=====

"Bukannya ini Dokter Diaz residen di kampus?!" Diaz mengangguk canggung. Mukanya datar. Dia tak tahu wanita muda yang menyapanya. Mungkin adik kelas di kampus. Dulu, Diaz hanya memperhatikan para wanita yang masuk kategori cantik. Cantik versi dirinya. Gampang diajak ke tempat tidur.

Indri terkagum-kagum melihat idolanya duduk di depannya.

"Ya ampuun ... makin ganteng rambutnya silver. Eh, Mas. Becanda, kok." Indri mengusap-usap bahu suaminya, Ardi, yang tiba-tiba merapatkan diri. Menatap tajam Diaz Akbar. Posesif.

"Dua orang dokter bedah anak, dua dokter bedah umum, satu orang dokter anak, satu orang dokter umum dan residen bedah. Apakah ini cukup untuk mendirikan rumah sakit bedah?" tanya Barry tak sabar. Mereka berkumpul di sebuah restoran mewah.

Indra, saudara kembar Indri, garuk-garuk kepala.
"Hhmmm ... Ini tawaran menarik, Tuan. Tapi harus kami diskusikan bersama. Kebetulan kami praktek bareng di Cikarang." Indra menyebutkan nama rumah sakit terkenal di kota industri.

"Saya setuju. Ntar heboh kita keluar bareng tanpa alasan jelas," ketus Ardi berkata. Membayangkan dia dan istrinya harus satu kantor dengan idola istrinya, sangat mengerikan. Apalagi dia tahu rekam jejak Diaz Akbar. Bakal ada tsunami dalam rumah tangga mereka.

"Maaf, ikut campur, Om Barry. Ini kan bisnis. Saudara-saudara saya gak paham. Lebih baik Om sewa konsultan. Setelah rencana mateng, Om bisa kembali hubungi mereka." Bagas menengahi. Jika bukan karena kebaikan Barry mencari kuasa hukum untuk ayahnya, Bagas sebenarnya malas membantu Diaz. Setiap melihat mukanya, pengin nonjok.

"Oke, baik. Dua minggu lagi saya hubungi kalian. Permisi." Ayah dan anak berlalu dari hadapan mereka.

Indri menatap kepergian Diaz tanpa berkedip. Wilda mencolek kakaknya.
"Ehm, Kak ... Mas Ardi matanya hampir loncat tuh!"

(Bukan)  Cinta TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang