24. Takdir Membawamu Kembali

1K 158 24
                                        

"Ayo cepat sebelum warga menemukan kita. Bawa si bodoh ini ke mobil!"

Beberapa pria besar membuka pintu mobil. Mengeluarkan pria dibalik kemudi yang pingsan. Sementara, teman wanitanya yang berlumuran darah dibiarkan sendiri tergencet di sisi kiri. Mukanya menunduk menghantam dashboard karena kantong udara tak mengembang. Kaca mobil berserakan. Badan mobil ringsek menabrak pohon.

=====☘️☘️☘️=====

"Dia masih bernapas!" Seorang warga mengangkat kepala. Salah satu jarinya ditempelkan ke hidung korban. Wajah, kerudung dan bajunya bersimbah darah.

"Ayo kita keluarkan!"

"Pintunya sulit dibuka. Badannya kegencet."

Posisi dibantu warga bahu membahu mengeluarkan wanita itu dari mobil.

=====☘️☘️☘️=====

"Benturan itu sangat keras. Aku tak yakin dia akan bertahan." Sekar mengulang diagnosisnya.

"Kakak masih sanggup menanganinya?" tanya Wilda.

"Tentu saja. Aku hanya kasian melihat Dokter Diaz yang selalu menunggunya bangun."

Kaki, tangan, dan tulang rusuk kiri yang patah telah dioperasi. Namun, Kinanti belum sadar dari tidur panjangnya.

Pihak keluarga bingung, bagaimana bisa Kinanti tergencet di sebuah mobil yang mengalami kecelakaan hebat. Padahal saat Bagas meninggalkannya di dermaga, Kinanti sudah menaiki kapal.

Polisi sudah menelusuri kepemilikan mobil yang ternyata mobil rental. Si penyewa meminjam KTP milik tukang becak dekat showroom rental mobil. Membayarnya mahal.

"Orangnya tinggi, kurus, rambutnya agak panjang." Deskripsi yang dibeberkan tak menguak sosok misterius. Seingat pihak keluarga, tak ada satupun teman Kinanti dengan ciri-ciri itu.

"Mbak pergi dalam keadaan kalut. Seharusnya aku tak membiarkannya sendiri." Bagas menangis tak henti menyalahkan dirinya.

=====☘️☘️☘️=====

Tiga bulan kemudian,

"Kau akan bangun, Bidadari. Kau wanita yang kuat. Kau selalu bisa bangkit dari rasa sakitmu." Diaz mengulang kata-kata manisnya.

Tangannya mengeluarkan cincin berinisial DK dari saku jas.

Saat Kinanti dibawa ke rumah sakit, Diaz menangis histeris menempelksn akat kejut jantung dan terus berteriak memanggil namanya.

"Saya menemukan ini di saku bajunya, Dokter." Paramedis memberikan sebuah cincin padanya.

.....

"Apakah boleh?" Diaz mengulang permintaannya pada Bagas.

"Untuk apa? Dokter Sekar bilang, Mbak sudah tak ada harapan."

"Abang ingin ....."

.....

Diaz Akbar memasukkan cincin ke jari manis Kinanti.  Diciumnya kening yang tergores sambil melafalkan sebait doa.

Semua mata memandangnya haru.

"Waktunya sudah habis. Ayo kita pergi!" Petugas Lapas mengelap mulutnya yang belepotan makanan.

Pesta pernikahan yang sederhana di paviliun kamar perawatan.

Nugraha menatap wajah pucat putrinya. Mencium Kinanti dengan penuh kasih.

"Ayah harap, kamu bisa datang menjemput Ayah di hari kebebasan nanti."

Diaz mengantar kepergian ayah mertuanya ke parkiran rumah sakit.

=====☘️☘️☘️=====

(Bukan)  Cinta TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang