7. Khianat Perdana

942 123 17
                                        

[Hai, Bidadari. Coto Makassar sangat enak. Suatu saat, Abang akan mengajakmu kemari]

Info pesan
Terbaca: -
Tersampaikan: √√

Diaz tersenyum menyimpan ponselnya ke saku celana.

Makassar semakin mempesona. Diaz selalu suka. Rambut tebalnya tertiup semilir angin Pantai Losari. Pantai tanpa pesisir yang justru menampilkan keunikan tersendiri.

Di masa-masa liburan kuliah, Diaz sering berkunjung. Diajak Vania, pacarnya yang juga berasal dari kota ini. Bagaimana kabar gadis itu? Terakhir mereka bertemu lima tahun lalu.

"Aku mau nikah, Hubby. Minggu depan. Lebih tepatnya, dijodohin. Ayo, bikin aku makin gak bisa ngelupain kamu."

Dua hari tiga malam menghabiskan waktu bergelung dalam selimut. Benar-benar berkesan.

Matanya mengarah ke gedung bertingkat berlantai sepuluh yang letaknya tak jauh dari areal pantai. Pembangunan rumah sakit di bagian belakang belum selesai. Target si pemilik, rumah sakit itu harus menjadi rujukan dalam lima tahun kedepan. Ambisius. Itu sebabnya para dokter spesialis berpengalaman didatangkan dari seluruh negeri. Ditawari gaji fantastis.

Setelah puas berjalan-jalan menyusuri bibir pantai, Diaz kembali menggulir ponselnya. Mengecek info pesan.
Terbaca: √√
Tersampaikan: √√

Selalu begitu. Kinanti tak pernah membalas. Hanya pesan penting yang direspon. Itu pun bukan berupa balasan di aplikasi ponsel. Namun kedatangannya.

Desakannya agar Kinanti memutuskan taaruf dengan Wilman. Disusul permintaannya agar jujur tentang perasaannya pada kedua orang tua mereka. Gadis penurut. Dia mau saja diajak bertemu di kafe langganan. Pertemuan yang diabadikan seseorang. Diaz tak peduli siapa pelakunya. Namun, deretan foto itu menimbulkan beragam makna yang kemudian memancing murka mamanya.

Atau saat dirinya berkabar sakit. Sekonyong-konyong Kinanti datang bersama Fajar dan Fitri. Menjelang malam. Padahal dia sedang berada di luar kota. Rela pulang lebih awal. Penuh perhatian membawakannya makanan.

Hati pria mana yang tak meleleh mendapatkan perlakuan manis begitu rupa. Hingga Fajar menjulukinya d' lucky coward bastard. Bajingan pengecut yang beruntung. Diaz terkekeh.

Namun, tentu saja ada yang kurang. Diaz terbiasa mendapatkan peluk hangat wanita. Bersama Kinanti, Diaz tak mendapatkan itu. Dia hanya berharap, cukup kuat untuk bertahan sekian tahun lamanya. Dalam dingin dan sepi. Terakhir kali, Diaz bangun dalam dekapan Alma lebih dari dua bulan lalu.

                   =====🍎🍎🍎=====

Kinanti tersenyum simpul membaca pesan dari Diaz. Dia kembali meletakkan ponsel di atas meja. Tangannya membuat tanda silang ke delapan di kalender. Artinya, sudah selama itu pula kekasih hati pergi. Dia berharap, mereka dapat kembali bersatu dalam ikatan halal. Merenda kasih jauh dari lingkungan yang semakin sesak dengan caci dan maki.

Kinanti tak mau membalas sapa mesra yang selalu diterima tiap hari. Cukup hatinya yang terperangkap si pengirim pesan. Ini pun selalu kebat-kebit tiap ada notif dari nomor kontak bernama ABANG.

Semua ada kadarnya. Semua ada waktunya. Sayang, prinsip Kinanti tak sejalan dengan Diaz.

                    =====🍎🍎🍎=====

"Jika gedung belakang sudah selesai, kita buka lagi penambahan spesialis. Semua peralatan dengan teknologi terbaru sudah siap. Beberapa dokter yang akan ikut bergabung sudah dikonfirmasi. Baik, untuk sementara itu dulu. Kita lanjutkan besok." Direktur dan jajaran petinggi menutup agenda rapat.

Diaz masih merapikan berkas saat beberapa orang masuk. Mereka pasti bukan dokter karena tak memakai baju kebesaran khas profesi ini.

"Halo .... Apa kabar Anda semua?" Direktur menjabat erat para tamunya. Dia mempersilakan duduk.

(Bukan)  Cinta TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang