"Jane! Ahhahaha! Berhenti Jane, aduhh ahahaha." mohon Gun dengan suara serak khas bangun tidur.
"Makanya P'Att bangung dong!" seru Jane gemas.
Jane sudah mencoba memangunkan Gun sejak setengah jam yang lalu, mulai dari memanggil namanya, menepuk pipinya, menarik-narik tangan Gun, menarik selimut Gun hingga tersingkap, bahkan mengguncangkan bahunya, namun tetap tidak berhasil membangunkannya. Sampai akhirnya terbersit satu ide jahil.
Dan yah, ide itu berhasil membuat mata Gun akhirnya terbuka. Kini mereka berdua sedang bergulat di atas tempat tidur, dengan Jane yang berada di atas tubuh Gun dan tangannya yang tak berhenti menggelitiki pinggang Gun dengan gemas. Sedangkan Gun berusaha menggeliat membebaskan dirinya dari tangan Jane yang menggelitikinya.
Suara tawa dan memohon Gun, juga suara Jane yang dengan gemas menyuruh Gun untuk segera bangun memenuhi kamar Gun pagi itu, hingga tidak menyadari pintu kamar yang terbuka dengan seseorang yang berdiri mematung melihat kedekatan mereka.
Orang itu, Off, tidak menyangka dirinya akan melihat pemandangan seperti ini yang seketika mematahkan semangatnya. Hatinya berdenyut sakit melihat kedekatan mereka. Bahkan Off tidak pernah seperti itu dengan Gun selain di depan kamera. Sebaris pertanyaan terlontar di kepalanya, membuat hatinya semakin berdenyut memikirkan kemungkinan jawabannya.
"Sudah sesering apa Gun mengajak Jane ke kamarnya? Sesering apa Jane mengunjungi rumah Gun bahkan sampai tanpa sungkan membangunkan Gun di kamarnya? Aku, yang sudah mengenal Gun bertahun-tahun bahkan sangat sungkan dan ragu menemui Gun di kamarnya. Sedangkan Jane? Dia dengan leluasa membangunkan Gun di kamarnya." batin Off dengan tatapan sendu menatap Jane yang masih menggelitiki Gun serta Gun yang tertawa memohon untuk berhenti. Mereka bahkan tidak menyadari kehadiran dirinya disini.
"EHEMM."
Off sengaja mengeraskan suaranya, membuat Gun dan Jane menoleh bingung. Ketika mereka menyadari kehadiran Off disana, suasana canggung seketika melingkupi kamar yang tadinya penuh dengan suara tawa dan seruan.
Jane dengan canggung melepaskan tangannya dari pinggang Gun, lalu turun dari tempat tidur Gun.
"Hmm.. P'Att.. Aku.. aku akan ke dapur menemui Pim." ucap Jane dengan kikuk keluar dari kamar Gun.
Sedangkan Gun masih terduduk di tempat tidur menatap Off dengan raut terkejut dan salah tingkah serta malu, karena Off melihat dirinya dan Jane.
Gun tidak akan malu ataupun salah tingkah jika yang melihatnya dengan Jane adalah orang lain. Tapi ini Off. Orang yang berusaha Gun lepas cintanya. Dan sekarang Off berada di dalam kamarnya, hal yang bahkan tidak pernah berani Gun bayangkan akan terjadi.
Menemukan Off duduk di ruang tamunya waktu itu sudah cukup mengagetkannya, dan sekarang dia disini tersenyum padanya seraya mendekatinya.
"Gun."
"Gun, apa kau akan terus duduk disana? Ini sudah jam tujuh lewat."
Gun masih diam memandangi Off yang kini berbicara padanya. Pikirin Gun masih belum bisa berfungsi dengan benar, menerima kenyataan bahwa Off benar-benar sedang ada di kamarnya saat ini.
"Gun, bergegaslah mandi dan bersiap. Kalau tidak kita akan terlambat dan P'Kwang akan memarahi kita."
"Hah? Terlambat?" tanya Gun bingung.
"Iya terlambat. Kita harus ke kantor sekarang untuk series baru yang akan kita perankan."
"Apa? Tapi nanti aku ada syuting-"
"Ck Gun cepat lah mandi dan bersiap tanya nanti saja."
"Tapi-"
"Cepat mandi atau aku yang akan memandikanmu biar kita bisa cepat berangkat." ucap Off gemas melihat respon Gun yang seperti itu.
"Ap-apa.. tidak perlu! Aku.. aku akan mandi sekarang!" ucap Gun dengan panik dan wajah yang mulai memerah mendengar perkataan Off.
Off menahan senyumnya melihat Gun berlalu ke kamar mandi dengan semburat merah di wajahnya akibat dari perkataannya tadi.
Sesungguhnya perkataan Off tadi hanya untuk mengertak Gun agar cepat mandi. Karena Off tidak akan sanggup melakukan apa yang ia katakan tadi.
***
Suasana canggung memenuhi meja makan Gun pagi itu. Off, Pim, dan Jane tenggelam dalam kecanggungan. Sampai akhirnya nenek datang mencairkan sedikit suasana disana.
"Wahh pagi-pagi sekali sudah banyak tamu." ucap Nenek seraya duduk di ujung meja. Off dan Jane menyapa nenek Gun dengan senyuman sopannya. Sedangkan Pim sedikit merasa lega dengan kedatangan nenek di antara mereka.
"Gun dimana apa masih tidur? Teman-temannya sudah menunggu yang di tunggu malah tidak ada disini." tanya nenek setelah menyadari tidak ada Gun di antara mereka.
"Gun tadi sedang mandi nek." ucap Off.
"Itu P'Gun sudah datang nek." ucap Pim.
Tepat setelah Off menjawab pertanyaan nenek Gun muncul di abang pintu dapur. Gun mengenakan celana hitam selutut dipadukan bersama kemeja lengan pendek garis-garis dengan dua kancing tetasnya yang di biarkan terbuka. Sebuah topi hitam tergenggam di tangannya. Gun langsung berjalan lurus ke ujung meja tempat nenek duduk. Lalu memeluk nenek dari damping dan juga mencium pipinya.
"Pagi nek."
"Jam berapa ini Gun? Lihat teman mu sudah menunggu mu sejak tadi. Tidak baik membuat tamu menunggumu."
"Jane juga tidak keberatan menunggu ku. Lagi pula dia kan sudah biasa menunggu ku sebelum berangkat ke lokasi." ucap Gun membela diri.
"Tapi itu tidak baik Gun. Apalagi Jane harus selalu memangunkan mu yang susah sekali membuka mata. Nenek heran kenapa Jane masih mau membangunkan mu, bahkan sampai membutuhkan waktu setengah jam untuk membuat matamu terbuka."
Ucapan nenek membuat Gun melepaskan pelukan pada neneknya dengan wajah sedikit merengut.
Hal ini sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi di meja makan sejak beberapa tahun terakhir. Tepatnya sejak mereka hanya tinggal bertiga saja di rumah itu. Gun juga melakukan hal yang sama pada Pim, memeluknya dari samping, mencium pipi adiknya itu, dan mengucapkan selamat pagi.
Lalu Gun berjalan ke arah kursi kosong di sebelah Jane. Namun sebelum duduk di kursi itu, Gun berdiri di belakang kursi Jane menundukan sedikit tubuhnya, kemudian memeluk Jane dari belakang serta mengecup singkat pipi Jane.
"P'Att.." gumam Jane canggung melirik Off di sebrang meja yang memperhatikan mereka.
Memang hanya pelukan dan kecupan singkat sedetik, tidak seperti saat Gun melakukannya pada Pim dan nenek. Tapi tetap saja itu mampu menimbulkan kilatan terluka mucul di mata Off. Gun seperti melupakan kehadiran Off pagi itu, hingga saat Gun duduk di kursinya dan memfokuskan pandangannya kedepan barulah Gun menyadari Off yang duduk di hadapannya saat ini. Rasa bersalah tiba-tiba merasuki hatinya. Tapi logika Gun menampik rasa bersalah itu.
Gun menatap Off yang juga sedang memandangnya dengan tatapan yang tidak dapat Gun pahami. Suasana canggung kembali melingkupi meja makan pagi itu untuk kedua kalinya.
****
**Ada yang kangen OffGun di cerita ini?
Sorry gw baru lanjutin ceritanya. Mood gw beneran jelek belakangan ini. Gw sampai hapus wp dan nelantarin OffGun disini.
Tpi sekarang gw bakal berusaha buat lanjutin lgi cerita ini sampai selesai.
Thanks buat kalian yang masih mau nungguin cerita ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanfictionIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
