Off memarkirkan mobilnya. Ia keluar dari mobil, menguncinya kemudian berjalan menuju kondoniumnya yang berada di lantai dua.
Off berjalan dengan langkah gontai menuju lift. Pikirannya penuh akan dua orang yang ada di taman perusahaan tadi.
Off sampai di depan lift, menekan tombol ke lantai 2. Saat menunggu lift pikirannya kembali memikirkan hal itu. Sampai Ia tak menyadari ada yang menyapanya.
"Off kau baru dari perusahaan? Apa kau sudah makan siang? Aku berencana pergi makan di luar bersama Tay. Apa kau mau ikut, Off?"
Tidak ada sahutan dari Off atas ajakan itu. Hal ini membuat orang yang bertanya sedikit heran, lalu Ia menepuk pundak Off pelan untuk mendapatkan perhatian Off padanya.
"Ehh, Arm! Sejak kapan kau disini?" tanya Off sedikit kaget melihat Arm tiba-tiba berada di sampingnya.
Arm sedikit mendengus mendengar pertanyaan Off. Lalu menjawab,"Aku sudah disini sejak kau menekan tombol lift untuk naik. Aku juga sempat bertanya padamu apa kau sudah makan siang dan berniat mengajakmu makan bersamaku dan Tay di luar. Tapi kau malah tak menyadari kehadiranku."
"Ahh, benarkah? Maaf tadi aku sedang tidak fokus."sahut Off, merasa sedikit tidak enak pada Arm karena tidak menyadari kehadirannya.
"Sudah lupakan saja." jawab Arm sambil mengibaskan tangannya.
"Jadi apa kau mau ikut makan siang bersama kami?" tanya Arm, kembali mengulang pertanyaan yang sama.
Off menimbang sejenak ajakan itu, lalu mengiyakannya.
"Baiklah aku ikut." ucap Off akhirnya.
"Kalo begitu ayo kita bergegas jika tidak Tay akan mengomel karena kita terlambat. Kau tau kan Tay sangat bersemangat kalo sudah berurusan dengan makanan. Dari kemarin Dia sudah mengoceh tentang tempat makan ini." ucap Arm sambil terus berjalan menuju pintu keluar dengan Off mengikutinya di belakang dalam diam.
Saat sampai di parkiran Arm kembali bersuara, "Aku saja yang mengmudi."
"Oke." jawab Off singkat.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil Arm. Arm mengmudikan mobilnya keluar dari parkiran menuju tempat makan dimana Tay pastinya sudah menunggu disana.
Off diam saja selama perjalanan. Dalam hatinya Ia berharap dengan bersama kedua sahabatnya Ia bisa melupakan rasa tidak nyaman yang tadi dirasakannya.
****
Tay Tawan berdiri di depan pintu sebuah restoran sushi. Sesekali Ia melihat jam tangannya, kemudian beralih melihat ponselnya.
"Kenapa Arm lama sekali, apa dia tidak tahu Aku sudah sangat ingin mencicipi makanan disini. Kaki ku pegal berdiri disini menunggunya datang." gerutu Tay dalam hatinya sambil terus berkali-kali melihat jam tangannya. Juga sesekali memperhatikan mobil yang memasuki parkiran.
Sampai akhirnya Tay melihat mobil yang Ia kenali memasuki halaman parkir restoran itu.
Alih-alih mobil Arm, yang Ia lihat justru mobil Gun yang parkir disana.
Gun keluar dari mobilnya. Saat Tay akan berteriak memanggilnya, Ia melihat Gun memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk seseorang. Tay mengurungkan niatnya. Ia memperhatikan siapa yang akan keluar dari sana.
Rasanya tidak mungkin Off. Karena jika Gun bersama dengan Off, Gun akan sangat malas untuk mengemudi. Dia akan membiarkan Off yg membawa mobil dan Ia bisa bersantai di kursi penumpang. Selain itu Gun tidak akan membukakan pintu mobil untuk Off.
Tay masih memperhatikan Gun, terlihat Gun berbicara sebentar dengan orang itu kemudian membukakan pintu mobil itu dengan lebar. Gun sedikit menyingkir membiarkan orang itu keluar, kemudian menutup kembali pintu mobilnya.
Melihat orang yang keluar dari sana membuat Tay sedikit kaget dan heran. Orang itu adalah Jane Ramida.
"Bagaimana bisa Gun bersama dengan Jane? Apalagi hanya berdua saja?" batin Tay.
Gun dan Jane berjalan mendekat kearahnya. Sepertinya mereka belum menyadari keberadaannya yang berdiri di depan restoran. Mereka terlihat sangat dekat, apalagi dengan Jane yang mengamit lengan Gun. Sesekali Gun tersenyum mendengar perkataan Jane yang Tay tidak tahu apa itu. Tay melihat senyuman itu. Senyuman yang sering Tay lihat Gun berikan kepada Off. Tay merasa ada yang aneh disini.
Mereka semakin mendekat ke arahnya. Tay sudah bersiap menyapa mereka tapi ternyata Gun sudah mengalihkan pandangannya ke depan dan sedikit kaget melihat Tay berdiri disana. Tapi itu hanya sekejap yang kemudian digantikan dengan senyuman cerahnya lalu menyapa Tay demgan bersemangat. Sangat berbeda dengan Gun yang tadi berbicara dengan Jane.
"P'Taayy!" seru Gun membuat Jane akhirnya memfokuskan pandangannya kedepan dan ikut tersenyum melihat Tay disana.
Tay melambaikan tangannya untuk menjawab seruan itu. Gun terlihat tergesa menghampirinya dengan Jane yang masih menggandeng lengannya.
"Aku tak menyangka akan bertemu kalian disini." sapa Tay ketika mereka sampai di depannya.
"Aku juga tak menyangka melihat P'Tay disini. Tadi kami berencana makan siang, lalu Jane merekomendasikan restoran yang baru buka ini. Katanya sushi disini sangat enak." ucap Gun dengan bersemangat.
"Iya, benar. Disini sushinya sangat enak P'. Aku sudah kesini bersama temanku saat restoran ini pertama dibuka. Benar-benar memuaskan. Jadi Aku mengajak P'Gun kesini untuk mencicipinya." ucap Jane sambil tersenyum.
"Benarkah? Aku jadi semakin tidak sabar untuk mencicipinya!" ujar Tay ikut bersemangat mendengar perkataan Jane, melenyapkan sedikit rasa aneh yang ada di hatinya ketika melihat Gun dan Jane bersama.
"Ya sudah ayo kita masuk sekarang, Aku juga sudah tidak sabar mencicipinya. Apa lagi yang Kau tunggu P'?" tanya Gun.
"Aku sedang menunggu Arm. Aku membuat janji makan siang dengannya untuk mencicipi restoran ini. Tapi sampai sekarang belum juga sampai." jawab Tay sambil sedikit menggerutu karena Arm tak kunjung datang juga.
"Tunggu di dalam saja P'. Kalau menunggu disini nanti mejanya sudah penuh." usul Gun padanya.
"Dan juga, bagaimana kalau kita memesan satu meja bersama? Apa kau keberatan P'Tay?" tanya Jane menimpali usulan Gun tadi.
"Tentu saja tidak! Lebih banyak orang lebih baik. Daripada Aku hanya makan berdua dengan Arm." jawab Tay akhirnya.
Lalu mereka berjalan bersama beriringan ke dalam. Memesan satu meja untuk mereka semua.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanficIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
