[25]

2K 174 14
                                        

Special update untuk 5k👁️

Happy reading
.

.

.

.

"Jane, apa yang harus aku lakukan?"

Suara Gun membawa kesadaran Jane kembali dari ingatan beberapa bulan lalu saat ia melihat sisi rapuh Gun.

Jane memfokuskan kembali pandangan dan pendengarannya pada laki-laki di hadapannya ini. "Apa yang telah P'Off lakukan hingga membuat P' goyah?"

"Dia.."

Gun menjeda ucapannya cukup lama. Menyuapkan daging ke mulutnya lalu mengunyahnya perlahan. Seakan sedang tidak terjadi apa-apa. Seakan mereka sedang makan malam biasa tanpa adanya pembahasan rumit yang menggantung diantara mereka. Jane mengikuti jejak Gun. Menyuapkan sepotong daging kemulutnya. Menunggu Gun melanjutkan ucapannya.

"Dia seakan memberikan harapan padaku. Membangkitkan api harapan dalam hati ku yang sudah mulai padam menjadi arang merah, yang hanya menunggu waktunya untuk berubah hitam lalu menjadi abu sebelum tertiup angin tanpa sisa. Tapi tindakannya memantik kembali api yang sudah berbentuk arang merah. Kembali membuatnya menyala perlahan."

"Dia mulai bertindak diluar kebiasaannya. Melakukan hal-hal yang tidak pernah mau dilakukannya meski aku sudah membujuknya berkali-kali."

"Tapi sekarang, dia melakukan semua itu tanpa ada yang memintanya. Melakukan semua yang pernah dia tolak dengan keras."

Jane menyuapkan daging ketiga ke dalam mulutnya. Mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang Gun lontarkan. Menunggunya sampai tuntas mengeluarkan semua keresahannya. Sebelum akhirnya ia bisa memberi sekedar saran ataupun pendapatnya.

"Kamu tahu Jane, bagaimana senangnya aku saat akhirnya dia menelpon ku untuk pertama kali setelah sekian lama? Menjadi orang pertama yang berinisiatif menelpon ku tanpa adanya unsur pekerjaan?"

"Saat itu hatiku terasa seperti sedang dilambungkan ke atas sampai tidak ingin turun rasanya."

"Tapi aku kemudian menyadari ada yang aneh Jane. Tidak biasanya dia akan menelponku terlebih dulu, bahkan tidak pernah jika bukan karena pekerjaan yang sangat mendesak."

"Kemudian dia menawarkan untuk menjemput ku besok paginya ke lokasi syuting. Hal kedua yang membuat hatiku melambung semakin tinggi."

"Aku menahan sekuat yang aku bisa untuk tidak mengiyakan ajakannya. Meskipun hatiku sudah menjerit untuk mengiyakan tapi logikaku menahan jeritan itu."

"Apa kamu masih ingat Jane, saat kita party di rumah Jingjing. Kamu mamanggilku yang sedang menelpon di luar?"

Ingatan Jane kembali ke malam di mana ia mencari-cari Gun di dalam ruangan tapi tidak ada, sampai akhirnya ia menemukan Gun sedang berdiri dengan ponselnya di teras rumah malam itu. Jane seketika tersentak menyadari satu fakta yang baru saja menyusup ke pikirannya.

"Apakah itu pertama kalinya P'Off menelpon mu atas inisiatifnya sendiri?"

"Ya, kamu benar Jane. Itu untuk pertama kalinya. Bahkan ada beberapa panggilan tak terjawab darinya karena musik di dalam sangat keras yang membuat ku tidak mendengarnya."

"Maafkan aku P'." seketika rasa bersalah menyusup ke hatinya. Ia telah mengacaukan hal yang lama di tunggu Gun tanpa ia sadari.

"Kamu tidak perlu meminta maaf Jane."

"Apa? Tapi aku telah mengganggu-"

"Tidak, kamu tidak mengganggu ku. Aku malah sangat berterima kasih karena kamu memanggil ku saat itu."

Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUNCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang