Pukul 14.00
Acara yang Off dan Gun hadiri selesai. Tempat itu mulai terlihat sepi. Hanya tersisa staff agensi disana dan juga P'Kwang. Tapi tidak ada Gun.
Entah sejak kapan dia menghilang dari tempat itu, tidak ada yang melihatnya.
"Off, dimana Gun? Kita sudah selesai disini. Ayo naik bereskan barang-barang, lalu kita akan makan bersama dengan staff yang lainnya." ujar P'Kwang pada Off.
"Aku tidak tahu Gun dimana. Dia sudah menghilang sejak tadi." ucap Off.
"Aduhh dia ini kenapa sih sering sekali menghilang akhir-akhir ini. Dihubungi pun juga susah." keluh P'Kwang karena perubahan Gun yang tiba-tiba ini.
"Off, jujur pada ku. Apa kau dan Gun bertengkar lagi?" tanya P'Kwang serius. Karena hanya ada satu alasan penyebab Gun bersikap seperti ini. Yang pastinya bersangkutan dengan Off seperti pertengkaran mereka dulu. Meskipun yang kali ini tidak sampai separah dulu.
"Tidak P'Kwang, kami tidak bertengkar. Aku juga tidak tahu kenapa Gun bersikap seperti ini. Dia sudah seperti ini sejak minggu lalu." jujur, Off juga tidak tahu alasan dari perubahan Gun. Ia juga berusaha mencari tahu penyebabnya tapi sampai saat ini semuanya nihil.
"Ya sudahlah, untuk sekarang biarkan dulu. Nanti aku akan menghubunginya untuk mengatakan kita pergi makan bersama agar dia bisa menyusul. Ayo sekarang kita keatas." ucap P'Kwang pada akhirnya. Off mengiyakan ucapan P'Kwang lalu mengikutinya dan staff lainnya memasuki lift ke lantai 2.
Saat sampai di lantai 2 Off dan P'Kwang berjalan berdampingan. P'Kwang membuka pintu ruang make up. Dan disana orang yang mereka cari dari sejak di bawah tadi.
"Gun, kau disini rupanya. Dari tadi kami mencari mu." ucap P'Kwang saat melihat Gun sudah berada disana.
"Ohh, P'Kwang. Sudah selesai dibawah? Maaf tadi aku naik duluan" Gun menolehkan kepalanya saat mendengar suara P'Kwang disana.
"Sudahlah tidak masalah. Kami mencari mu tadi karena kami akan makan bersama setelah dari sini. Takutnya kau malah tertinggal." ujar P'Kwang sambil berjalan memasuki ruangan. Dibelakangnya terlihat Off masih berdiri di dekat pintu. Mata mereka kembali bertemu sesaat, namun Gun mengakhirinya dengan memalingkan wajahnya.
"Sepertinya Aku tidak bisa ikut P'Kwang. Aku sudah ada janji setelah ini." beritahu Gun pada P'Kwang.
"Kamu ada acara setelah ini P'Att? Pergilah, kita bisa pergi lain kali." terdengar suara dari balik punggung Gun.
P'Kwang dan Off menolehkan kepalanya ke meja di belakang Gun. Disana terlihat ponsel Gun sedang menampilkan video call dengan Jane yang di loudspeaker.
"Tidak apa, aku tidak akan ikut dengan mereka. Aku sudah janji sama kamu hari ini." ujar Gun sambil mengambil ponselnya.
"Tapi P'Att kamu..."
"Sudah kamu tunggu saja disana, aku akan menjemput mu sekarang." setelah mengatakan itu Gun langsung mematikan video callnya dengan Jane.
"Maaf ya P'Kwang, aku tidak bisa ikut." ucap Gun sambil memasukan ponselnya. Gun ternyata sudah selesai merapikan barangnya.
"Ahh tidak apa, lagi pula ini hanya makan bersama biasa. Tidak ada hal penting. Kau bisa pergi jika sudah ada janji." ujar P'Kwang.
"Kalau begitu Aku duluan P'Kwang." Gun berjalan menuju pintu dimana Off masih berdiri disana. Mereka saling menatap sebentar.
"Sampai jumpa P'Off." katanya sambil memutuskan tatap itu lalu melewati Off begitu saja.
"P'Off" kata itu membuat P'Kwang menaikan alisnya heran. Ia menatap pintu tempat Gun keluar. Kemudian berpindah menatap Off yang masih mematung di dekat pintu. Benar-benar ada yang tidak beres disini. P'Kwang mengenal mereka berdua dengan sangat baik. Jika Gun sudah memanggil Off dengan kata itu, berarti Off sudah membuat sebuah kesalahan. Sehingga membuat Gun membangun dinding pembatas diantara dirinya dan Off.
Memang masalah kali ini tidak sampai mengganggu projek dan acara yang mereka hadiri bersama. Meskipun Gun sangat professional saat sedang di depan kamera, tapi tetap saja hal ini tidak dapat dibiarkan terlalu lama.
***
Gun menghentikan mobilnya di depan kampus Jane. Gun meraih ponselnya lalu menghubungi Jane.
"Jane, kamu dimana? Aku sudah di depan."
"Aku masih di kantin P'Att. Tunggu sebentar Aku akan ke sana sekarang." ucap Jane di telpon.
"Oke, aku tunggu." lalu Gun mematikan sambungan telpon itu.
Gun menaruh ponselnya. Menyandarkan kepalanya ke stir mobil. Pikirannya kembali memutar ulang kejadian tadi di depan ruang make up. Hatinya sakit saat berdebat seperti itu dengan Off. Apalagi Off tadi membentaknya karena telat. Tapi ini adalah resiko yang harus Gun terima jika ingin melepaskan. Memang awalnya terasa sulit seperti ini, namun lama-lama Ia akan terbiasa. Sakit hatinya saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit hatinya beberapa tahun ini yang selalu menerima penolakan. Dari yang kasar hingga yang paling halus.
Sudah cukup. Ia juga punya batasnya. Ia lelah terus mengejar hal yang tidak pasti. Mungkin hatinya saat ini terus berteriak agar kembali padanya seperti dulu dengan Off. Tapi logikanya menentang dengar keras hal itu. Dan saat ini Gun lebih mendengarkan logikanya daripada hatinya seperti dulu.
Logikanya saat ini mengatakan untuk melepaskan. Dan Ia pasti bisa melakukannya. Apalagi sekarang Gun mempunyai sandaran yang menopangnya ketika Ia lengah dengan mendengarkan suara hatinya. Sandaran yang tidak pernah Gun duga akan datang padanya, disaat Ia merasa sangat lelah.
Tok... tok.. tok
Ketukan pada jendela mobil membuat Gun mengangkat kepalanya dari stir mobil. Bibirnya seketika ikut tersenyum melihat senyum diluar jendela mobilnya. Disana Jane tersenyum dengan manisnya sambil sedikit membungkuk di kaca jendela. Lalu Ia memutari mobil Gun menuju kursi penumpang ketika melihat Gun sudah membukakan kunci.
"Hai P'Att, bagaimana acaranya tadi?" tanya Jane setelah duduk di kusi penumpang sambil mengenakan seat belts.
Helaan nafas Gun menjawab pertanyaan Jane. Menghentikan Jane dari kegiatannya memasang seat belt. Jane menolehkan kepalanya. Melihat Gun menatap kosong kearah depan.
Melihat itu Jane meraih tangan Gun lalu menggenggamnya dengan erat. Membuat Gun menolehkan kepalanya pada tangannya yang di genggam Jane. Lalu mengangkat kepalanya dan menemukan Jane tersenyum padanya. Senyum yang akhir-akhir ini membuatnya tenang hanya dengan melihatnya.
"P'Att, jika ini memang sudah keputusanmu. Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya. Perlahan tapi pasti. Kamu akan merelakannya. Aku disini akan mendukung apapun tindakan mu." ucap Jane masih dengan senyum menenangkannya. Dan juga kata P'Att yang Jane ucapkan seperti memberi Gun ruang baru untuk berekspresi, membuat Gun menjadi dirinya yang lain ketika hanya berdua dengan Jane.
"Tapi P'Att, aku hanya ingin kamu kembali meyakinkan hatimu akan keputusanmu ini. Jika hati dan pikiran mu sudah sejalan untuk melepaskan, kamu akan lebih mudah merelakannya. Namun jika hati dan pikiran mu mengatakan bertahan, maka bertahanlah. Semuanya menunggu pilihanmu. Apapun pilihanmu aku akan disini untuk mu, P'Att." usai mengatakan itu Jane mengeratkan genggamnya. Memberikan Gun kekuatan sekaligus sandaran.
Gun menatap Jane dalam, lalu memberikan senyuman terimakasih padanya sambil menggenggam balik tangan Jane yang menggenggam tangannya.
"Terimakasih Jane. Terimakasih karena kamu mau berdiri disampingku disaat aku seperti ini." ucap Gun dengan menatap mata Jane.
"Semoga P'Att mu ini tidak membuatmu kecewa." batin Gun.
Sebenarnya, Jane tahu Ia tidak bisa berharap terlalu banyak. Karena Ia tahu bagaimana Gun sangat mencintai Off. Bahkan semua orang di perusahaan melihat itu dengan jelas. Tapi Jane tetap bersyukur bisa sedekat ini dengan Gun. Apapun akhirnya nanti Jane akan selalu mendukung P'Att nya.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanfictionIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
