. . .
Maa haam mai hai chan rak go mai dtong naarak
Tam naa baep nia mai rak mai long rok yaak loey
Kon mai chai pak dai bpai laew haam tam salad tam choey moey
Maa haam mai hai chan kit ter eng lae aep kit
Taa kuen naarak eek nit chan kong bpen taat ter
Ter chaang doo dee sai jai doo ying doo ying dee gwaa tee jer
Ja rak ter jon yut haai jai
. . . .
Alunan lagu "too cute to handle" memenuhi mobil Off yang sedang berhenti di lampu merah. Lagu ini membangkitkan kenangan Off pada saat sikap Gun berubah terhadapnya untuk pertama kali. Saat itu tepat ketika lagu ini dirilis dan mereka menampilkannya disebuah stasiun tv. Dan saat itu juga pertama kalinya Off sadar bahwa dirinya lebih tidak suka lagi jika Gun memanggilnya dengan sebutan P'Off. Padahal itu yang sangat ia inginkan ketika Gun mulai terus menerus memanggilnya dengan Papii. Tapi ternyata dirinya sangat kesal ketika mendengar Gun memanggilnya Off.
"Tiiiiinnnnnn"
Klakson mobil mengembalikan kesadaran Off dari lamunannya. Ia bergegas melajukan mobilnya melewati lampu lalu lintas yang sudah berubah warna dari merah ke hijau.
Alunan lagu itu masih menemani Off diperjalanannya menuju lokasi syuting The Gifted Graduation. Saat ini sudah memasuki jam makan siang. Off berinisiatif untuk datang membawakan makanan untuk crew yang syuting disana. Sebenarnya itu hanya alasannya saja agar bisa makan siang disana dengan Gun. Karena jika bukan Off yang datang untuk menghampiri Gun, maka Gun tidak akan pernah mau menerima tawarannya untuk makan siang bersama dengannya.
Mobil yang Off kendarai memasuki halaman sekolah yang digunakan untuk syuting. Off memarkirkan mobilnya tepat disebelah mobil milik Gun. Dan Off merasa sangat bersyukur Gun tidak pergi makan siang berdua dengan Jane. Off berjalan menuju gedung sekolah dengan membawa satu kantong plastik besar berisi berbagai makanan untuk para crew dan satu totebag ukuran sedang yang sudah pastinya itu untuk Gun.
Dari pintu masuk gedung, Off melihat Jane berjalan tergesa - gesa dengan tangan yang terus merogoh ke dalam tasnya.
"Oii.. Jane. Perhatikan langkahmu , nanti kau bisa terjatuh atau menabrak seseorang jika berjalan seperti itu. Apalagi tadi kau menuruni tangga."
"Aww P'Off! Ahh yaa maaf P'. Aku tidak menyadari kehadiranmu." ucap Jane merasa bersalah karena hampir saja melewati Off begitu saja dengan tidak sopan.
"Kau mau kemana terburu - buru seperti itu? Ayo kita makan dulu sudah jam makan siang, aku membawa banyak makanan untuk kalian dan crew yang sedang syuting hari ini."
"Aduhh maaf P' aku tidak bisa ikut makan siang dengan yang lain, sejam lagi aku ada ujian di kampus P," jelasnya dengan penyelasan.
"Ahh sayang sekali Jane, padahal aku-"
"JANEEE!!"
Ucapan Off terhenti ketika teriakan Gun dari arah tangga terdengar memanggil Jane. Gun terlihat berlari dari arah tangga dengan satu tangan memegang bucket bunga dan tangan lainnya membawa ponsel serta kunci mobil. Gun sampai dengan nafas terengah-engah di depan Off dan Jane.
"P'Gun! Kenapa kamu berlari seperti itu dan memanggil namaku?" tanya Jane heran.
Gun masih menunduk beberapa saat mengatur nafasnya setelah berlari menyusul Jane, kemudian menegakan tubuhnya menghadap Jane dan tanpa ia sadari membelakangi Off sehingga tak menyadari kehadirannya.
"Kamu ini, kenapa terburu-buru begitu sampai tidak menunggu P' menyelesaikan adegan tadi?" rengut Gun kesal pada Jane.
"Aww P'Gun, maafkan Jane na. Jane lupa ada ujian sejam lagi, jadi terburu-buru agar tidak terlambat sampai di kampus." Helaan nafas terdengar dari Gun saat tau alasannya pergi tanpa memberi tahu.
"Lain kali jangan seperti itu Jane, kabari P' kalau kamu harus pergi cepat ke suatu tempat, na. Lihat apa saja yang kamu tinggalkan karena terburu-buru seperti itu?"
"Ahhh ponselku P'!" seru Jane lega melihat ponselnya berada pada Gun.
"....dan juga bunganya," ucap Gun seraya menyerahkan kedua benda itu pada Jane.
"Khop kun kaa P'Att." Jane mengambil bunga dan ponselnya dari Gun lalu memeluknya sebagai ucapan terimakasih Jane.
"P' anatar kamu ya Jane?" tanya Gun seraya melepaskan pelukannya.
"Tidak P' aku bisa pesan taxi untuk ke kampus," tolaknya.
"Kalau begitu kamu bisa gunakan mobil P' saja. Jangan pesan taksi."
"Tapi, bagaimana kamu pulang nanti P'?"
"Jangan pikirkan aku, sekarang yang penting kamu cepat sampai di kampus untuk ikut ujian. Kalau pesan taksi pasti lama menunggunya. Lebih baik pakai mobil P' saja, na." ucap Gun dengan memaksa Jane mengambil kunci mobilnya.
"Sudah pakai saja."
"Uhhh.. hmm.. baiklah, aku pergi dulu P'."
Jane baru akan meninggalkan tempat itu seketika sadar akan keberadaan Off yang memperhatikan mereka sejak tadi. Jane benar-benar melupakan keberadaan Off sejak Gun meneriakan namanya tadi. Dengan kikuk Jane berpamitan pada Off.
"Ah.. P'Off. . aku pergi dulu ya,"
Off hanya menganggukkan kepalanya, matanya masih fokus menatap bunga yang dipegang Jane. Ia menatap bunga itu sejak Gun menyerahkannya pada Jane. Off tidak mungkin salah lihat. Itu bucket bunga yang ia kirimkan untuk Gun pagi ini. Karena bucket bunga itu, ia meminta bantuan Tay untuk mengikuti Gun. Pantas saja Tay mengatakan Gun tidak membuang bunga itu ataupun memberikannya pada sembarang orang di lampu merah. Ini lebih menyakitkan dari dua hal itu.
"P'Off . . ." Gun menggumamkan nama Off ketika menemukan Off berdiri di belakangnya. Jujur Gun sangat terkejut saat Jane berpamitan pada Off, lalu ia seketika memutar tubuhnya untuk melihat Off benar ada di sana.
"Gun, bunga itu . . ." ucap Off lirih menatap Gun dengan pandangan kecewa dan terluka.
Gun hanya menatapnya diam tanpa kata. Lidahnya kelu. Tak tau harus berkata apa untuk menjelaskannya pada Off. Kejadian ini terasa devaju bagi Gun. Kejadian itu terulang lagi, namun bedanya kini bukan dirinya yang merasa kecewa ataupun terluka.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanfictionIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
