[22]

2K 171 18
                                        

"Papii apa yang kamu lakukan?"

"Kenapa kamu menyiksa diri sendiri hanya untuk makan dengan Gun?"

"Apa yang terjadi pada mu Papii?"

"Tindakan mu ini tidak seperti Papii yang Gun kenal selama ini."

"Papii yang Gun kenal tidak akan pernah mau mengunjungi rumah Gun, meski Gun sudah mengundang bahkan memohon pada mu agar mau ke rumah Gun."

"Papii yang Gun kenal tidak akan pernah mau menunggu Gun sampai seperti ini hanya untuk makan."

"Papii yang Gun kenal tidak pernah menelpon Gun lebih dulu meski hanya untuk pekerjaan."

"Papii yang Gun kenal tetap membangun dinding yang susah Gun lewati. Meskipun Gun sering memeluk Papii dan berada di sekitar Papii, tapi itu tidak pernah meruntuhkan dinding itu."

"Tapi Papii kenapa sekarang seolah-olah dinding tebal itu hancur dengan sendirinya Papii?"

"Kenapa Papii menghancurkan dinding itu sekarang, disaat Gun sudah lelah dan menyerah untuk melewatinya?"

"Kenapa baru sekarang Papii melangkah mendekat ketika Gun sudah mulai merangkak naik dari jurang dalam tempat Gun terjatuh?"

"Kenapa baru sekarang Papii menghalangi langkah Gun ketika sudah menemukan tali yang akan menarik Gun untuk naik?"

Semua kata-kata itu Gun ucapkan dengan lirih sambil menatap wajah Off yang masih tertidur di sana. Air matanya mengalir tanpa bisa Gun cegah saat mengatakan semua itu. Semua yang Gun ucapkan adalah apa yang Gun rasakan selama ini atas perubahan sikap Off. Perubahan yang membuat hati Gun kembali goyah. Bahkan ketika melihat Off tertidur seperti itu tadi rasanya Gun ingin memeluk Off melupakan semua rencananya untuk melepaskan Off. Tapi logikanya masih menang dari pada suara hatinya yang menjerit ingin menyentuh dan memeluk Off.

Gun mengusap air mata yang membasahi pipinya, kemudian berdiri dari duduknya untuk mengambil makanan yang tadi ia hangatkan. Saat Gun berbalik, tanpa Gun tahu setitik air mata juga jatuh mengenai meja makan itu. Air mata yang berusaha Off tahan sejak tadi akhirnya jatuh setitik namun segera ia hapus dan kembali memejamkan matanya. Off sebenarnya sudah sadar akan kehadiran Gun dan Pim sejak suara mereka terdengar di pintu dapur. Tapi Off diam saja, ia tidak bergerak. Off ingin tahu kemana perginya Gun hingga pulang larut malam seperti ini. Dan saat itu juga Off serasa ada yang menamparnya ketika mendengar jawaban Gun. Dimana Gun pergi memberi kejutan ulang tahun untuk Jane. Serta Gun yang meminjam ponsel Jane untuk log in akun pribadinya. Mendengar itu hati Off terasa sakit, sesak. Sejauh mana hubungan Gun dan Jane saat ini? Pertanyaan itu terlintas di kepala Off.

Off berusaha menenangkan pikirannya dan menormalkan kembali nafasnya ketika mendengar Gun mendekat ke arahnya. Off berusaha keras agar tidak mengangkat kepalanya. Lama tidak terdengar suara apapun, tapi Off merasakan tatapan Gun yang tak lepas darinya. Off tidak tahu apa yang Gun pikirkan ketika melihatnya seperti ini.

Ketika Off sibuk berusaha mengatur wajahnya agar tetap terlihat seperti orang yang sedang tertidur, Off merasakan pergerkan di atas meja. Dimana Gun mengambil makanan di atas meja untuk dihangatkan. Lalu terdengar kursi di tarik dengan pelan di depannya, kemudian hening. Lima menit Gun tidak bersuara apapun. Membuat Off merasa was-was. Tapi Off tetap mempertahankan wajah damainya seperti orang tidur. Hingga akhirnya suara Gun terdengar. Suara yang sarat akan kebingungan. Off menjawab semua pertanyaan Gun itu tanpa dalam diam tak berniat untuk menyuarakannya.

"Papii apa yang kamu lakukan?"

"Aku ingin meraihmu Gun. Aku tidak ingin kau pergi dariku."

Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUNCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang