[32]

1.4K 119 20
                                        

Harusnya Tay hanya mengikuti Gun sampai dibeberapa lampu merah, tapi ternyata Gun sama sekali tidak membuang ataupun memberikan bunga pemberian Off pada pengamen di lampu merah. Karena rasa penasaran, Tay mengikuti Gun sampai di tempat ini.

"Rumah siapa ini?" gumam Tay dari dalam mobilnya yang terparkir di seberang jalan.

Saat Tay tengah mengira-ngira rumah siapa yang Gun datangi, terlihat Gun keluar dari mobilnya dengan bunga pemberian Off di tangan kirinya. Lama Gun terdiam memandangi bunga itu, lalu terlihat Gun mengambil kertas kecil yang terselip di atasnya lalu meremasnya dan memasukan kertas itu ke dalam saku celananya. Ia kemudian melangkah dengan senyum cerah yang di pasang di wajahnya ketika membunyikan bel rumah bercat putih itu.

Tak lama setelah Gun menekan bel, pintu rumah itu terbuka. Betapa kagetnya Tay saat melihat Jane keluar dari dalam rumah dengan senyum lebar di bibirnya ketika Gun menyodorkan bunga digengamannya. Jane menerima bunga itu lalu memeluk memeluk dan mencium pipi Gun. Tanpa disangka saat Jane sudah melepaskan pelukannya dan menarik Gun untuk masuk, Gun malah menahan lengan Jane lantas mencium Jane tepat di bibirnya. 

Jane terlihat mematung sejenak setelah mendapat ciuman tiba-tiba dari Gun, lalu tersipu malu kemudian serta merta menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang yang melihat kejadian itu. Setelah itu Jane menatap Gun dengan wajah merengut dan memukul lengan Gun. Gun hanya terlihat tertawa riang seraya mengusak lembut kepala Jane sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam rumah Jane.

***

Kejadian itu sangat cepat dan terlalu tiba-tiba untuk diproses oleh otak Tay yang masih setengah sadar mengikuti Gun. Tay masih tenggelam dalam kekagetannya ketika dering ponsel mengagetkannya. Nama Off muncul di layar ponselnya.

"TAY! Kenapa kau lama sekali menjawab telponku?"

"Bagaimana dengan Gun? Apa dia masih menyimpan bungaku? Atau Gun membuangnya lagi?"

"Tay..! Kenapa kau diam saja!" Off terdengar kesal karena Tay tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Tay menghembuskan nafasnya perlahan lalu menjawab rentetan pertanyaan Off, "Ooii itu... hmm.. nong Gun tidak membuangnya keluar mobil ataupun memberikannnya ke pengamen di lampu merah. Ia membawa bunga itu bersamanya."

"SUNGGUH?! Dia tidak membuangnya? Kau tidak berbohong padaku kan Tay?" seruan bersemangat Off membuat Tay tak tega memberitahukan kebenarannya pada Off.

"Untuk apa aku berbohong Ai'Off. Aku mengikutinya seperti perintahmu, dan itu yang kulihat. Sudah ya, tugasku sudah selesai. Aku akan kembali ke condo untuk tidur," Tay langsung mengakhiri panggilan itu tanpa menunggu respon dari Off.

Tay menghela nafas berat memandangi ponselnya sejenak lalu mengangkat pandangannya untuk melihat rumah yang baru saja dimasuki Gun, "Maafkan aku Off, aku tak tega memberitaumu kejadian yang sebenarnya. Meski yang aku katakan padamu tak sepenuhnya berbohong. Cukup kau tau sampai disana saja."

Tay tak ingin melihat Off semakin terpuruk lagi. Sudah sebulan sejak Off datang condonya dengan wajah senang karena Gun akhirnya memanggil Off dengan "Papii" setelah sekian lama. Saat itu Tay ikut senang melihat usaha Off akhirnya ada hasil yang terlihat. Off terlihat optimis bahwa Ia akan berhasil meluluhkan Gun kembali. Ia meminta saran pada Tay apa yang harus Ia lakukan agar Gun bisa terus menyadari kehadirannya. Dan keluarlah saran Tay untuk memberikan Gun bunga setiap hari dengan kartu kecil bertuliskan tangan dari Off.

"Selain itu Off, cobalah mulai sekarang kau lebih perhatian padanya dan berusaha untuk lebih berekspresi untuk menunjukan pada Gun bahwa kali ini kau bersungguh-sungguh padanya dan kau melakukan ini bukan sekedar hanya untuk penunjang pekerjaan kalian di depan publik."

Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUNCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang