Getaran ponselnya menyadarkan Gun dari lamunannya. Layar ponselnya menampilkan P'Kwang yang menelponnya lagi. Tanpa menunggu lama Gun langsung menjawabnya.
"Gun! Akhirnya kau menjawab telponku. Kau dimana sekarang? Sebentar lagi acaranya di mulai, kau juga harus segera di make up." ucap P'Kwang dengan suanya yang terdengar sedikit lega.
"Maaf P'Kwang Aku tidak memeriksa ponselku. Sekarang Aku sedang di dalam lift untuk ke atas, sebentar lagi Aku sampai disana." setelah Gun mengatakan itu terdengar denting lift yang menandakan Ia sudah sampai.
"Aku sudah sampai," ucap Gun lalu mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari P'Kwang.
Gun melangkah keluar dari lift. Berjalan menyusuri lorong itu kemudian berbelok ke kanan. Disana terlihat P'Kwang berdiri di depan pintu ruang make up bersama dengan Off.
Gun tidak dapat melepaskan pandangannya dari Off. Banyak hal berkecamuk dalam kepalanya. Tanpa di sangka Off menolehkan kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Gun yang juga sedang menatapnya sambil berjalan mendekat. Tatapan Off yang tidak dapat Gun artikan seperti mengunci mata Gun disana. Seakan tak membiarkan Gun pergi seincipun.
Tinggal beberapa langkah lagi, tapi kuncian mata diantara mereka masih berlangsung. Sampai akhirnya P'Kwang menyadari kehadiran Gun disana setelah mengangkat kepalanya dari ponsel.
"Gun! Akhirnya kau sampai disini!" seru P'Kwang yang melihat Gun sudah mendekat.
Mendengar suara itu, membuat Gun yang pertama memutuskan kuncian mata di antara mereka. Gun mengalihkan tatapannya pada P'Kwang.
"Maaf P'Kwang sudah membuatmu menunggu." jawab Gun saat sampai di hadapan P'Kwang dan Off.
Saat P'Kwang akan bertanya lagi, suara Off terdengar mendahuluinya.
"Gun kau dari mana saja?! Kau biasanya tidak pernah seperti ini, kau selalu tepat waktu! Kenapa malah telat sekarang. Bukannya kemarin aku sudah menelpon mu. Harusnya kau ingat dengan jadwal hari ini. Kau harusnya tidak menolak ajakan ku kemarin!" seru Off terdengar kesal.
Gun dan P'Kwang terlihat kaget melihat reaksi Off yang seperti ini. Off biasanya tak peduli dengan masalah begini. Tapi sekarang Off terlihat kesal. Padahal masih ada waktu sebelum acara dimulai.
"Maaf membuatmu kesal karena aku sedikit telat. Tadi aku harus mengantar Jane ke kampusnya dulu baru kesini. Tapi tadi aku terjebak macet jadi waktu ku terbuang saat menunggu macet." jawab Gun dengan nada yang juga terdengar kesal dan penekanan pada kata telat.
Kali ini jawaban Gun yang membuat P'Kwang dan Off kaget. Sejak kapan Gun sedekat ini dengan Jane sampai mau mengantarnya ke kampus? Kurang lebih seperti itulah yang P'Kwang dan Off pikirkan mendengar ucapan Gun.
Semua rasa khawatir yang Off rasakan tadi berganti dengan rasa kesal dan kecewa yang entah datang dari mana. Rasa khawatir yang Off rasakan sejak P'Kwang mengatakan Gun belum datang membuatnya tak berhenti memikirkan kemungkinan yang buruk, karena Gun tidak pernah seperti ini. Sehingga ketika Off melihat Gun baik-baik saja Off tidak bisa menunjukan rasa khawatirnya dengan benar, malah terlihat seperti Ia kesal karena Gun telat. Tapi sejujurnya itu adalah ungkapan khawatir yang Off ucapkan.
Namun setelah Off mendengar alasan Gun telat, rasa khawatir itu digantikan rasa kesal yang luar biasa. Rasa kesal yang membuatnya ingin meneriaki Gun saat itu juga. Rasa kesal yang Off tidak mengerti.
Off menenangkan dirinya lalu berbalik menghadap lorong yang akan membawanya menuju lift. Sebelum Ia melangkah pergi, Off berkata pada Gun,
"Besok-besok saat ada acara kita berdua, kau harus berangkat bersamaku!" ucap Off dengan penekanan yang dalam lalu melangkah pergi.
Sedangkan Gun mematung sesaat mendengar perkataan Off.
"Kau tidak perlu membebani dirimu denganku karena aku telat hari ini. Aku bisa mengatur waktu ku kau tidak perlu mebuang waktumu menjemputku!" seru Gun dengan suara yang keras karena Off sudah menghilang di belokan. Meskipun begitu Off masih dapat mendengar seruan Gun itu.
Hati Off terasa nyeri mendengar jawaban itu. Off masih saja tidak mengerti hatinya sendiri. Selalu menolak apa yang hatinya bisikin. Sama seperti saat ini Otaknya tidak dapat mengerti kenapa Ia bersikap seperti ini seharusnya Off tidak seperti ini. Namun hatinya mengatakan bahwa wajar jika Off bersikap seperti ini karena Ia khawatir dengan Gun.
Off menggelengkan kepalanya. Berusaha menjernihkan pikirannya yang kusut. Off menekan tombol lift untuk turun lalu melangkah memasuki lift.
Disi lain Gun masih berdiri di depan pintu ruang make up bersama P'Kwang. Gun masih kaget dengan sikap Off yang seperti itu.
"Gun." P'Kwang menyentuh pundak Gun untuk mendapat perhatiannya.
"Jangan kau pikirkan perkataan Off. Sekarang kau harus bersiap-siap untuk acara yang akan dimulai 30 menit lagi." Gun menganggukkan kepalanya. Lalu melangkah memasuki pintu ruang make up.
"Kau tenangkan pikiran dan emosimu dulu di dalam sambil bersiap-siap. Jangan sampai hal kecil ini membuat acara terganggu." P'Kwang kembali bersuara membuat Gun mengangguk lagi sebagai jawabannya.
"Aku juga akan berbicara pada Off agar mengendalikan emosinya dan menenangkan pikirannya. Supaya masalah kecil ini tidak mengganggu kalian nanti di acara." ucap P'Kwang sambil berjalan meninggalkan Gun.
"P'Kwang! Maafkan Aku." seru Gun membuat P'Kwang menghentikan langkahnya lalu berbalik tersenyum pada Gun.
"Sudah tidak perlu minta maaf, sekarang kau harus cepat bersiap-siap." ucap P'Kwang yang diangguki oleh Gun.
P'Kwang melangkah dengan pikirannya yang di penuhi banyak pertanyaan yang tidak bisa Ia jawab. Ia sudah lama bekerja bersama Off dan Gun. Tidak pernah hal ini terjadi sebelumnya. Kecuali ketika Off dan Gun bertengkar dulu hingga Gun memblokir Off di semua akses. Setelah itu semua baik-baik saja tidak ada yang terjadi. Sampai saat ini ketika mereka berdua bertengkar karena hal kecil yang seharusnya tidak diributkan.
Sekarang P'Kwang merasa ada yang salah dengan mereka berdua. Banyak hal yang tidak biasanya terjadi hari ini.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanfictionIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
