"P'Gun ada paket untuk mu!"
Teriakan Pim terdengar jelas oleh Gun dari kamarnya di lantai dua. Mengabaikan teriakan itu sambil terus merapikan barang yang harus ia bawa ke lokasi syuting.
"P' Gun, kenapa kau tidak menjawab ku?
Ini paketnya aku letakan disini ya." ucap Pim lalu berbalik keluar kembali ke lantai bawah menyiapkan makanan.
Gun berhenti sejenak dari kegiatannya merapikan bawaannya dan medekati paket itu. Helaan nafas pelan lolos dari bibirnya kala mengambil paket yang berupa sebuah bucket bunga dengan selipan kartu kecil di tengahnya.
"Selamat pagi Gun. Semoga kau suka bunganya kali ini. Aku harap kau tidak membuangnya atau memberikan bunganya ke orang lain na, simpan untuk dirimu sendiri."
- Pappi
Gun termenung membaca isi kartu tersebut. Rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya. Biasanya dalam kartu itu akan tertulis kata - kata manis dan penyemangat untuk Gun setiap harinya. Namun kali ini isi kartu itu berbeda.
"Bagaimana dia tahu?" batin Gun.
Dalam sebulan terakhir tepatnya sejak Gun tanpa sengaja memanggil Off dengan sebutan "Pappi", setiap hari semenjak itu akan selalu datang sebuah bucket bunga di pagi hari. Saat pertama kali Gun mendapatkan bucket bunga itu senyum merekah dibibirnya tak dapat ia tahan. Hatinya dibawa terbang ke awan saat membaca kartu kecil yang terselip disana. Hari itu Gun mengabaikan kegelisahan pikirannya bahwa Gun akan goyah dengan menerima bunganya. Tapi Ia hanya mendengarkan betapa senang hatinya mendapatkan bunga itu. Bagaimana Gun bisa mengabaikan bunga itu, yang mana merupakan hal yang sangat langka bagi Off untuk melakukan hal semanis ini untuknya di dunia nyata bukan hanya dalam series yang mereka perankan.
Maka Gun menyimpan bunga itu di kamar dan meletakannya di nakas samping tempat tidur. Namun ternyata itu bukan bunga terakhir yang datang ke rumahnya. Besok paginya sebuah bucket bunga datang lagi ke rumahnya, lalu besoknya, dan besoknya terus sampai sudah sebulan berlalu bucket bunga itu tetap datang setiap pagi. Beberapa hari pertama Gun menyimpan bunga-bunga itu, tapi semakin hari logika Gun tak lagi membiarkan Gun untuk menyimpannya. Logikanya tak lagi membiarkan hati Gun sepenuhnya menguasai tubuhnya seperti dulu hingga menyebabkan Gun terluka karena mengabaikan fakta.
Oleh karena itu Gun lalu membuang bucket bunga yang datang ke rumahnya, atau memberikannya pada orang yang lewat ketika Ia berhenti di lampu merah, terkadang Gun juga akan memberikan bucket itu pada Jane.
Memang terkesan jahat dan tidak menghagai pemberian itu. Awalnya Gun pun merasa berat melakukannya. Tapi ia harus, jika tak ingin hatinya memupuk harapan semu dan terluka kembali seperti dulu.
Gun masih memandangi tulisan di kartu itu ketika getaran ponsel di meja nakas menginterupsinya. Nama Jane nampak di layar ponselnya yang menyala.
"Halo Jane." sapa Gun saat wajah Jane terlihat di layar ponselnya.
"P'Att kamu jadi menjemput ku?"
"Tentu saja, aku sudah siap dan tinggal berangkat. Tunggu na."
"Syukurlah, aku kira P' masih tidur hehe." ucap Jane dengan nada suaranya yang meledek Gun.
"Heyyy, P' sekarang udah rajin bangun pagi na." rengut Gun tak terima.
"Hahahaha iya deh yang rajin. P' hati-hati dijalan ya."
"Byee ja."
Setelah video call itu terputus Gun bergegas mengambil kunci mobil dan tas yang biasa Ia bawa ke lokasi syuting. Tak lupa Gu mengambil bunga pemberian Off untuk ia bawa. Entah akan diapakan bunga itu nanti olehnya.
***
"Bagaimana?"
"Dia membawanya ke dalam mobil."
"Tolong ikuti dia sampai lampu merah ya, Tay. Setelah itu kau boleh meninggalkannya."
"Ya, ya akan ku ikuti. Tapi ingat janji mu Off kau harus membantu ku juga nanti." ucap Tay di sebrang telpon.
"Iya kau tenang saja aku pasti membantu mu."
"Baiklah, aku mau mengikutinya dulu mobilnya sudah keluar dari garasi."
Sambungan telepon itu terputus begitu saja tanpa Off sempat mengatakan hal lain. Off menghela nafasnya dengan berat. Sudah sebulan dan tak ada kemajuan yang berarti.
****
Hii!
Ada yang kangen sma cerita ini?
Sorry chapter kali ini pendek, gw baru sempet nulis segini doang
Nanti kalo gw ada waktu dan ada ide bakal update lebih panjang
See ya :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanfictionIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
