Pukul 12.10
Mobil Arm memasuki parkiran restoran sushi itu.
"Off, Kau carikan parkir ya? Aku sudah tak tahan ingin ke toilet." ucap Arm pada Off yang diam saja di sampingnya.
Off yang diajak bicara hanya mengangguk. Kemudian Arm bergegas keluar dari mobilnya. Berjalan cepat memasuki restoran. Setelah masuk Arm langsung bertanya pada pelayan tempat toilet berada.
"Arm!"
Seruan itu menghentikan Arm yang akan melangkahkan kakinya ke toilet. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru restoran, dan melihat Tay melambaikan tangannya disana di meja pojok dekat dinding bersama dua orang lagi. Arm hanya menoleh sekilas lalu meneruskan langkahnya mencari toilet, mengabaikan seruan Tay tadi. Dia benar-benar sudah tidak tahan, bisa-bisa nanti keluar disini kan sangat memalukan jika itu terjadi, mau di bawa kemana wajah tampannya ini nanti.
Saat menuju toilet Arm masih memikirkan siapa dua orang yang bersama Tay tadi. Arm tidak bisa melihatnya karena mereka memunggunginya. Postur tubuh kedua orang itu terasa familiar baginya.
"Ahh sudahlah, nanti juga Aku melihat mereka saat kembali ke meja." batin Arm.
****
Tay menggerutu pelan melihat kelakuan Arm. Bukannya mendekat saat dipanggil malah hanya menoleh sekilas saja lalu pergi.
Dua orang yang duduk di depan Tay menengokan kepalanya saat Arm sudah melanjutkan langkahnya.
"Mungkin P'Arm sedang ke toilet P', nanti juga Dia akan kemari." ucap Jane melihat Tay masih menggerutu karena diabaikan oleh Arm.
"Hmm." gumam Tay sekenannya.
5 menit kemudian, terlihat Arm berjalan mendekati meja tempat Tay berada sambil memperhatikan dengan lekat dua orang yang memunggunginya.
"Tay!" panggil Arm saat sudah dekat meja. Tay mengangkat wajahnya dari ponsel juga kedua orang yang memunggunginya itu menoleh.
"Ohh ternyata Gun & Jane." batin Arm ketika mereka berdua menoleh.
"Kau lama sekali Arm. Aku sudah sangat lapar. Aku panggil tadi Kau malah mengabaikan ku." gerutu Tay pada Arm yg sudah duduk di samping kirinya.
"Tadi jalanan macet Tay. Aku bukan mengabaikan mu. Aku sedang buru-buru ke toilet sudah tidak tahan lagi. Kalau aku meladeni mu bisa-bisa keluar di sini nanti." sahut Arm. Tay hanya mendengus mendengar alasan Arm.
"Tay, Kau tidak bilang jika mengajak Gun dan Jane ikut makan siang disini?" tanya Arm pada Tay.
"Kami tadi tidak sengaja bertemu P'Tay yang berdiri di depan pintu restoran menunggu mu P'Arm. Jadi akhirnya kami mengajak P'Tay ke dalam untuk memesan satu meja saja." itu Gun yang menjawab.
Arm hanya mengangguk saja, kemudian tersadar, "Untuk apa Kau menunggu ku di depan restoran? Kan bisa menunggu di dalam? Untung mereka mengajak mu ke dalam kalau tidak bisa-bisa tidak dapat meja." sekarang gilira Arm yang menggerutu mendengar kebodohan Tay yang menunggunya di depan pintu.
"Aku tidak mau masuk sendirian." Tay beralasan.
"Kalau begitu, ayo sekarang kita memesan makanan Aku sudah sangat lapar P'." ucap Jane menengahi argumen antara Arm dan Tay agar tidak berlanjut ketika melihat Arm akan menjawab perkataan Tay.
"Tunggu sebentar!" seru Arm sambil mengedarkan matanya ke arah pintu masuk restoran.
"Apalagi Arm?" tanya Tay tidak sabaran karena Ia sudah sangat ingin memesan sushi.
"Nahh, itu Dia. Lama sekali Aku suruh mencari parkir saja." ucap Arm saat melihat orang yang Dia cari disana.
Ketiga lainnya ikut mengalihkan pandangannya ke pintu restoran. Disana Off sedang mendorong pintu restoran untuk masuk. Off terlihat menyisir setiap sudut restoran itu mencari keberadaan ke dua sahabatnya.
Lalu matanya bertemu dengan mata seseorang yang sedang memenuhi pikirannya. Matanya seakan terkunci pada mata orang itu.
****
"Off!"
Panggilan Arm itu membuat Off mengalihkan pandangannya ke seberang meja, tempat Arm dan Tay duduk. Di sana terlihat Arm melambaikan tangan memanggil dirinya.
Off berjalan mendekati meja itu. Matanya kembali menatap Gun yang sudah memunggunginya. Off terlalu fokus memperhatikan Gun, banyak hal berkecamuk dalam kepalanya saat ini. Sampai Ia tak menyadari Gun tidak duduk sendirian di hadapan Arm dan Tay. Langkah Off terhenti saat hanya tersisa 5 langkah sampai pada meja.
Disana, di sebelah kiri Gun, tempat yang biasa Ia tempati ketika bersama Gun, sekarang telah terisi oleh Jane.
Rasa senang di hatinya tadi ketika matanya bertemu dengan Gun lenyap perlahan. Digantikan rasa sesak seperti ada yang meremas hatinya perlahan.
"Kenapa Aku seperti ini? Hatiku terasa nyeri melihat Gun dan Jane. Aku harusnya tidak seperti ini. Aku harusnya senang Gun akhirnya tidak lagi menempel pada ku." batin Off.
Off melanjutkan langkahnya. Berusaha memaksakan senyumnya saat tiba di meja.
"P'Off, Kau disini juga? Aku kira tadi P'Tay hanya bilang bersama P'Arm saja?"
"P'Off" satu kata ini bagaikan petir di siang hari yang terik. Membuat orang berjengit kaget tanpa adanya antisipasi akan terjadinya hal itu.
Semua mata di meja itu memandang Gun dengan keterkejutan yang kentara.
Termasuk juga Off. Off menghela nafasnya pelan mendengar pertanyaan Gun yang kembali menggunakan kata itu. Ini sudah yang kedua kalinya dalam minggu ini. Gun memanggilnya seperti itu.
"Hmm, tadi Aku bertemu Arm di depan lift saat akan naik ke kondo. Lalu Dia mengajak ku untuk ikut ke sini." Off berusaha agar terlihat biasa saja saat menjawab pertanyaan Gun.
Gun hanya mengangguk saja mendengar jawaban Off. Suasana terasa canggung akibat percakapan singkat antara Off dan Gun yang tak pernah terjadi sebelumnya.
"Nahh, sekarang sudah lengkap, kan? Ayo segera memesan, Aku sudah sangat lapar P'." Jane memecahkan kecanggungan itu dengan seruan bersemangat.
"Jane, kamu sungguh tidak sabaran sekali sih." ucap Gun sambil mengusak rambut Jane. Membuat Jane berusaha menjauhkan kepalanya dari jangkauan Gun.
"P'Gun! Aku kan sudah bilang jangan rusak rambut ku!" seru Jane sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Bukannya berenti Gun malah semakin iseng untuk mengerjai Jane dengan tetap berusaha mengusak rambutnya. Terdengar tawa kecil dari mulut Gun melihat Jane yang kesal seperti ini.
Ntah sejak kapan, mengusak rambut Jane menjadi kebiasaan baru Gun ketika mereka bertemu. Ia suka melihat ekspresi Jane yang kesal. Melihat Jane mengomel karena Ia merusak rambutnya. Namun rasa kesal Jane tidak akan bertahan lama dan itu yang Gun suka dari Jane.
Kedekatan Gun dan Jane ini mengundang tanda tanya di kepala masing-masing orang yang ada di meja itu.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanfictionIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
