[20]

2K 166 9
                                        

"Tay."

"Hmm."

"Lihat ini."

"Apa?"

"Kau berhenti dulu makan, lihat ini!" seru Arm kesal seraya menydorkan ponsel miliknya di depan wajah Tay.

"Apa? Kau menganggu makan ku saja." Tay merengut kesal menatap Arm yang duduk di sampingnya.

"Makanya lihat ini!"

Tay lalu mengambil ponsel Arm dan melihat apa yang membuat Arm mengganggu makannya. Seketika wajah kesal Tay berubah.

"Kalau dia tidak disana, lalu bagaimana dengan Off?" Arm hanya mengangkat bahunya, tanda tidak tahu.

"Tay coba kau telpon Off, tanyakan bagaimana makan malamnya."

"Ahh benar juga."

Tay lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Off. Tak menunggu lama pada dering ketiga Off sudah menjawabnya lalu Tay meloudspeaker panggilan itu agar Arm juga mendengarnya.

"Halo Tay? Ada apa?"

"Tidak, aku hanya penasaran bagaimana makan malam mu dengan Gun, hmm?" Tay berusaha membuat suaranya seperti sedang menggoda Off.

"Hmm."

"Kenapa hanya hmm? Kau terdengar tidak bersemangat. Makanannya tidak enak? Seingatku masakan neneknya Gun itu sangat enak saat terakhir kali aku makan disana."

"Bukan itu."

"Apa nenek Gun tidak menyukai mu?"

"Tidak, nenek Gun sangat baik pada ku."

"Lalu apa?" Tay semakin mendesak Off agar mau bicara. Tay mendengar Off menghela nafasnya.

"Gun belum pulang sampai sekarang."

"Apa? Dia kemana?"

"Aku tidak tahu. Sejak syuting selesai dia sudah pergi lebih dulu dengan taksi tidak menunggu ku. Aku kira dia langsung pulang. Tapi saat aku sampai di rumahnya Pim bilang Gun belum pulang. Padahal Pim sudah mengiriminya pesan bahwa aku akan datang untuk makan malam di rumahnya."

Hening. Setelah mendengar penjelasan Off, Tay dan Arm sama-sama terdiam. Merasa kasihan akan sahabat mereka. Mereka melihat bagaimana bersemangatnya Off akan makan malam bersama Gun di rumahnya, bahkan Off terlihat bangga akhirnya dia bisa makan malam disana. Tapi itu semua berakhir seperti ini. Arm dan Tay tidak tahu apakah Gun sengaja melakukan ini pada Off? Sesakit hati itukah Gun sampai tega seperti ini? Tapi Tay dan Arm berusaha membuang pikiran buruk mereka. Pasti Gun mempunyai alasannya sendiri.

"Jadi kau hanya makan malam bersama Pim dan nenek Gun?"

"Tidak."

"Apa? Kau tidak jadi makan malam disana? Lalu kau dimana?" tanya Tay beruntun.

"Aku masih di rumah Gun, tapi aku tidak makan. Aku membiarkan nenek dan Pim makan terlebih dahulu. Aku masih menunggu Gun pulang."

"Jadi kau belum makan sampai sekarang!? Astaga Off! Kau bisa sakit jika sampai jam segini belum makan. Aku dan Arm bahkan sudah mengunjungi tiga restoran sejak tadi."

Tay semakin kasihan dengan sahabatnya ini. Bagaimana bisa ia tidak makan hanya untuk menunggu Gun? Yang mana Gun sedang makan enak diluar sana.

"Off sebaiknya kau pergi saja dari rumah Gun, susul kami di sini. Mau sampai kapan kau menunggu Gun yang tidak tahu kapan akan pulang? Cepat kemari makan disini dengan kami." kali ini Arm yang berbicara, Arm benar-benar tidak tega mendengar Off seperti ini.

Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUNCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang