Matanya masih setia memandangi tangga itu, tak berpindah seincipun meski disana hanya tinggal udara kosong semata. Semua perhatiannya masih terpusat akan apa yang dilihat disana.
Tadi ia sedang larut dalam obrolan hingga terdengar suara dari tangga yang mengintrupsi obrolan itu. Saat menolehkan kepalanya ke arah tangga ia melihatnya disana. Berdiri kaku dengan pandangan tak percaya melihat dirinya duduk dan mengobrol. Sedangkan dirinya juga ikut larut dalam keterkejutan melihat dia berdiri di sana hanya dengan menggunakan boxer hitam tanpa atasan memamerkan kulitnya yang putih bersih dan kaki jenjangnya, tubuhnya masih basah dengan air yang menetes dari rambutnya. Matanya terpaku melihat keindahan itu. Ya benar, indah adalah kata yang tepat untuk menggambarakannya. Apalagi ketika warna merah perlahan merambati wajah hingga mencapai telinganya, memberikan kesan yang membekas dihatinya ketika melihat itu. Seakan hatinya berbisik untuk kepalanya.
"Lihatlah warna merah yang muncul, menandakan seberapa pengaruh dirimu hanya karena melihatnya seperti itu."
Bisikan itu tak urung membuat senyum terbit di bibirnya. Ya, benar dirinya masih menjadi penghuni di hatinya meskipun sekarang sedang berbagi tempat dengan perempuan itu. Dan sekarang ia akan merebut hati itu menjadi miliknya sepenuhnya. Sekarang ia yakin untuk berjuang lebih keras lagi setelah memastikan tempatnya di hati itu belum sepenuhnya ia hapus.
"P'Off."
"P'Off."
"P'Off!"
Tepukan pada pundaknya serta namanya yang di ucapkan dengan cukup keras membuat Off sedikit berjengit kaget. Lalu menolehkan kepalanya melihat Pim menatapnya dengan pandangan heran.
"Kau kenapa P'?" tanya Pim saat Off menoleh padanya.
"Ohh, tidak. Aku tidak apa. Tadi kau bilang apa Pim? Maaf tadi aku tidak fokus." ucap Off tidak enak pada Pim. Off tidak sadar telah mengabaikan Pim karena dirinya terlalu terpesona melihat kehadiran Gun di tangga. Sungguh ini bukan pertama kalinya Off melihat Gun seperti itu. Ia sering melihatnya karena mereka selalu di tempatkan di satu kamar yang sama ketika ada Fanmeeting di luar negeri. Saat itu ia biasa saja tidak seperti tadi, dan juga seingatnya Gun juga biasa saja tidak malu seperti tadi. Atau Off saja yang tidak pernah memperhatikannya. Entahlah.
"Aku tadi mengatakan ingin mengajak P'Off makan malam bersama disini dengan aku, P'Gun dan juga nenek, karena ini pertama kalinya P' benar-benar datang kesini. Jadi apa P' mau?" tanya Pim mengulang pertanyaannya.
"Ya tentu, tentu saja aku mau. Nanti setelah syuting aku akan kesini." ucap Off dengan bersemangat.
Ini kesempatan Off untuk lebih dekat dengan Gun dan juga keluarganya. Off memang sudah mengnal Pim, karena Pim sering mampir ke gedung perusahaan. Tapi tidak dengan neneknya. Nenek Gun sangat ingin bertemu dengan Off sejak tahu Off adalah partner Gun dalam bekerja selama 5 tahun terakhir. Nenek Gun juga ingin dekat dan mengenal semua teman-teman cucunya itu, terutama Off. Off sebenarnya sudah sering ditawari untuk mampir ke rumah Gun hanya sekedar untuk makan malam, tapi Off selalu menolaknya. Dan ajakan makan malam itu kembali ditawarkan padanya sekarang, tentunya Off tidak akan menolaknya lagi.
"Baiklah terimakasih P'Off, nenek pasti akan sangat senang mengetahui dirimu akhirnya mau makan malam disini." ucap Pim dengan bersemangat. Setelah itu Pim mengalihkan topik pembicaraan mereka, bertanya tentang syuting yang sedang mereka lakukan, tentang kuliahnya sendiri, keinginan Pim yang juga tertarik untuk masuk ke dunia entertainment.
Langkah sepatu terdengar menuruni tangga, kembali mengintrupsi obrolan mereka. Pim dan Off menolehkan kepalanya melihat Gun sedang menuruni tangga dengan ponsel yang menempel pada telinganya.
"Iya, ini P' sudah selesai, mau berangkat sekarang."
"...."
"Kamu udah sampai kampus kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanfictionIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
