Syuting hari ini untuk TOL special episode berakhir sekitar pukul 9 malam. Terlihat semua orang disana sibuk berkemas untuk pulang. Tapi tidak dengan satu orang, Off Jumpol.
Off sejak keluar dari toilet bukannya berkemas malah berkeliling lokasi mencari keberadaan Gun. Ia sudah bertanya pada beberapa kru disana tapi tidak ada yang melihatnya.
"P' apa kau melihat Gun?" ini yang kelima kalinya Off bertanya pada kru, berharap kali ini ada yang tahu.
"Gun? Dia sudah pulang."
"Sudah pulang P'?" tanya Off memastikan lagi.
"Iya Off, tadi saat kau ke toilet aku melihat Gun tergesa-gesa ke parkiran. Gun bilang dia sudah terlambat karena sudah ada janji."
"Ahh baiklah P' terimakasih." ucap Off.
Lagi-lagi Off kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Gun. Off merasa dipermainkan oleh takdir. Disaat dirinya sudah menyadari perasaannya dan ingin menggapai orang yang ia cintai agar tidak pergi terlalu jauh, semesta seperti tidak mendukungnya. Mempersulit semua langkah yang ia ambil, membuatnya semakin jauh.
"Off, kau sudah berkemas?" tanya kru tadi.
"Belum P'".
"Cepat berkemas kita sudah selesai disini." ucap kru itu sambil berlalu meninggalkannya.
Off berbalik mengikuti kru itu untuk berkemas. Setelah berkemas Ia bergegas menuju mobilnya.
Dalam perjalanan pulangnya Off kembali mengingat hal yang terjadi hari ini. Off merasa senang. Sangat senang karena bisa berada sedekat ini lagi dengan Gun. Meskipun Gun tetap menjaga jarak darinya dan sedikit berbica padanya kecuali berhubungan dengan naskah. Tak sekali pun Off melepas tatapannya dari setiap gerak-gerik Gun. Ketika Gun tersenyum, tertawa karena lelucon yang dilontarkan Mike, ketika ia fokus dengan naskahnya, kerutan yang muncul di dahinya kala sedang serius. Semuanya tak luput dari perhatian Off. Off merasa seperti ia tidak ingin kehilang setiap momen yang dapat ia lihat dari Gun.
Seketika senyuman terbit di bibirnya mengingat semua itu. Lalu tiba-tiba rasa kecewa menyeruak diantara rasa senang itu. Rasa kecewa ketika Gun menolaknya siang tadi dan lebih memilih Jane daripada dirinya.
"Seperti inikah yang Gun rasakan ketika aku sering menolak setiap ajakannya."
"Apakah sesakit ini yang kau rasakan ketika aku menolak ajakan mu Gun?"
"Bertahun-tahun aku sering menolak ajakan mu dengan berbagai alasan, kau tetap saja keras kepala mengajak ku melakukan banyak hal berkali-kali."
"Sekarang aku tahu apa yang kamu rasakan selama beberapa tahun ini."
"Sekarang aku tahu sakit yang kau rasakan ketika aku menolakmu."
Off tersenyum miris mengingat semua penolakan yang ia berikan pada Gun dulu. Dan sekarang ia merasakannya.
"Tunggu aku Gun, aku akan menggantikan semua rasa sakit dan kecewa yang kau rasakan dulu." ucap Off dalam hatinya.
***
Pria itu tergesa memasuki salah satu toko di mall. Ia berjanji mengambil pesanannya pukul 7 malam, tapi nyatanya syuting selesai hampir pukul sembilan. Untung saja toko itu masih buka pada jam segini.
"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin mengambil pesanan saya sore tadi." ucap Gun.
"Atas nama siapa Tuan?"
"Gun Atthapan."
"Baik, tunggu sebentar disini Tuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketika Rasa Itu Telah Berubah || OFFGUN
FanfictionIa akhirnya menyerah akan rasa yang hanya Ia rasakan sepihak. Sesuatu yang awalnya hanya sebuah lelucon belaka yang Ia perbuat. Membuatnya jatuh terlalu dalam. Namun, saat Ia telah memutuskan untuk menyerah, tanpa Ia ketahui "Dia" mulai menyadari...
