Ainsley Felton, gadis manis yang tidak pernah percaya pada keajaiban. Hidupnya berubah terbalik ketika mengunjungi kakeknya di Kota Shea. Kota misterius yang tidak pernah terlihat di peta maupun satelit.
Awalnya, liburan akhir tahun di Kota Shea ada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~•¤•~
Cahaya dari belasan lilin berpendar, menerangi ornamen antik milik Keluarga Lichfield. Sepi melompong menghinggapi ruang tamu mewah, seakan mansion ini memang dirancang sebagai sarang hantu. Lukisan keluarga dipajang indah pada dinding yang berdebu. Semua tampak kuno dan tidak terawat bagi Ainsley. Oh, mana mungkin bukan si jubah hitam pemarah merupakan laki-laki pemalas?
Pak Sebastian---kepala pelayan mansion---menuangkan Teh Chamomile untuk mereka berlima. Dentingan cangkir-cangkir keramik yang khas membuat Ainsley nyaman duduk di sofa bersebelahan dengan Orion, Jeffrey dan Boby pada satu tempat yang sama---tak jauh dari perapian.
Demi menahan rasa gatal akibat tanaman beracun, mereka menangkalnya dengan menyibukkan diri untuk meminum secangkir teh atau memakan kue kering yang disajikan.
Hugo meminum secangkir teh hangat sejenak lalu menaikkan sisi kiri alis, mendapati keanehan pada keempat bocah di hadapannya. Sementara Pak Sebastian masih dengan setia berdiri di sebelahnya, menunggu perintah yang ditujukan. "Katakan terlebih dahulu, mengapa kulit kalian memerah seperti tomat?"
Orion menghela napas kesal. "Seperti biasa, sepupuku ... tanaman beracun selalu saja tumbuh secara liar di hampir setiap mansion. Apakah kau tidak pernah membersihkannya?"
"Oh, akibat tanaman beracun. Baguslah. Justru karena kesialan itu, kalian bisa menyamarkan identitas dengan sangat baik, bukan? Efeknya tidak sampai lima belas menit, semua akan baik-baik saja," ujarnya seraya kembali meneguk Teh Chamomile. "Bukankan begitu, Orion sepupuku?"
Pak Sebastian terkejut, mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Hugo. "Tunggu, Tuan Muda. Laki-laki ini Orion? Putra sulung Keluarga Dirgory?! Astaga, maafkan saya karena tidak bisa mengenali anda, Tuanku. Sepertinya semua penjaga juga turut memikirkan hal yang sama seperti diriku," ucapnya sembari membungkuk menghadap Orion.
Seperti biasa, Orion kembali menunjukkan senyuman khasnya--- memancarkan sisi kharisma yang sempat menghilang beberapa minggu. "Tidak masalah, aku sangat berbaik hati untuk memaafkan dan secara otomatis kau memuji penyamaranku yang berhasil. Terlebih lagi, itu sudah menjadi masa lalu."
Hugo menyeringai kecil tatkala mendengarnya. Bukan Orion namanya jika tidak membanggakan diri di segala situasi. "Pak Sebastian, tolong umumkan kepada seluruh pekerja Mansion Lichfield untuk merahasiakan kedatangan mereka berempat, jangan biarkan Paman Blake ataupun Bibi Jane mengetahuinya."
"Akan saya laksanakan seperti perintah anda, Tuanku." Sebastian mengangguk, menerima perintah yang telah diberikan.
Orion meneguk salivanya, jelas setiap aktivitasnya selalu dipantau oleh Blake dan Jane---kedua orangtuanya. Apa yang ia lakukan memanglah bentuk dari pembangkangan seorang putra terhadap aturan Keluarga Dirgory. Hati nuraninya lah yang menuntun untuk melakukan semua ini. Bahkan sekarang, Orion pun kabur dari mansion tanpa sepengetahuan mereka. Terlebih lagi, kedua manusia itu terlalu sibuk berkutat dengan berkas-berkas hingga lembur dan jarang pulang.