Ainsley Felton, gadis manis yang tidak pernah percaya pada keajaiban. Hidupnya berubah terbalik ketika mengunjungi kakeknya di Kota Shea. Kota misterius yang tidak pernah terlihat di peta maupun satelit.
Awalnya, liburan akhir tahun di Kota Shea ada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hembusan angin dingin mampu menuntunmu ke dunia antah berantah
~•¤•~
Semenjak kejadian tadi siang, Ainsley menghabiskan harinya di sisi lain rumah Sor yang megah. Ruang tamu penuh lukisan antik dengan karpet beludru merah lah yang menjadi tempat singgahnya saat ini. Bukan semata-mata untuk bersantai, melainkan disidang oleh Luke dalam waktu lama.
Mimik wajahnya memuram, memperhatikan sang pesulap yang tak kuasa berhenti mengoceh. Keruwetan semakin bertambah, ketika sapu terbang secara terang-terangan menjajakan teh hangat untuknya. Usut punya usut, Sor memperkerjakan sapu taman miliknya sebagai pelayan. Entah apa yang ia masukkan ke dalam sapu itu hingga bisa hidup layaknya manusia?
"Baiklah, aku memaafkanmu. Dengan catatan, kau tidak boleh melarikan diri seperti tadi lagi, heh." Luke berucap sembari menyilangkan kedua kakinya di sofa. Tubuh mungilnya nyaris tak terlihat, tertutup bantal.
"Benar, apa yang dikatakan oleh Remus. Kau tidak bisa bertingkah sesuai dengan keinginanmu di tempat ini. Jika ada sesuatu yang membahayakan di luar sana, kami belum tentu bisa menolongmu." Sor meletakkan setoples kue kering di atas meja tamu. Lalu mengambil tempat, tak jauh dari Luke dan Ainsley. Sekaligus, memberikan isyarat kepada pelayan sapu terbangnya untuk segera kembali ke dapur.
Ainsley meminum secangkir teh hangatnya sejenak. "Iya, aku mengerti. Setelah ini, aku akan lebih berhati-hati lagi."
Luke berdehem. "Lalu ... kapan rencanamu itu akan berjalan? Aku dengar, seorang gadis jenius dengan tekad kuatnya ingin menyingkap tabir kematian Ariadna dan Harold."
Ainsley secara spontan menyemburkan teh hangatnya ke lantai setelah mendengar kalimat yang baru saja dilontarakan oleh Luke. Kedua mata indahnya langung tertuju ke arah Hugo. Jauh di depan jendela besar dengan motif abstrak, laki-laki itu memilih memisahkan diri dari orang-orang sejenak untuk mempelajari jurnal peninggalan ayahnya. Mengingat juga bahwasanya Luke terlalu berisik, tentu saja Hugo dengan cepat tanggap langsung mengambil keputusan agar terdiam di sofa yang jauh demi kelangsungan hidup panca indranya.
"Aku tidak habis pikir, apakah kau sedari tadi mencoba membaca isi pikiranku, Luke? Ataukah mungkin, Tuan muda Lichfield yang memberitahumu?" Ainsley tersenyum singkat seraya melirik sinis ke arah Hugo yang untungnya cukup acuh.
Luke tertawa. Tawa khasnya itu terdengar cukup jahat jika didengar oleh orang lain. "Pilihan pertama. Aku yang mencoba membaca isi kepalamu. Percayalah, Pangeran tidak akan mungkin menyebarkan rahasiamu dalam waktu cepat. Jadi mulai sekarang sebagai tim, kita harus saling mempercayai, Tricks. Bukankah begitu, Pangeran?"
Alih-alih menggubris, Hugo justru memutar bola matanya jengah seraya menyumpal telinganya dengan tisu. Luke yang menyaksikan respon dari si jubah hitam pun hanya bisa terkekeh menanggapi.