Ainsley Felton, gadis manis yang tidak pernah percaya pada keajaiban. Hidupnya berubah terbalik ketika mengunjungi kakeknya di Kota Shea. Kota misterius yang tidak pernah terlihat di peta maupun satelit.
Awalnya, liburan akhir tahun di Kota Shea ada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~•¤•~
Kesunyian malam menimpa Mansion Dirgory saat ini. Koridor penuh lukisan antik yang biasanya ramai dilewati oleh keluarga inti Dirgory dan para pelayan, mendadak sepi tanpa menyisakan suatu tanda kehidupan.
Keheningan dipergunakan oleh Orion untuk melancarkan aksinya dengan baik. Laki-laki itu membuka pintu ruang kerja ayahnya dengan sangat perlahan namun pasti. Untungnya saja, suara derit pintu tidak dapat terdengar karena derasnya aktivitas hujan salju yang terus-menerus melanda Kota Shea.
Orion menyempatkan diri memeriksa ruang kerja milik ayahnya terlebih dahulu sebelum memasukinya. "Aman!" bisiknya ketika dirasa cukup aman kepada Boby dan Jeffrey yang sedari tadi mengikuti Sang Pemilik Rumah dari belakang.
Orion masuk terlebih dahulu, lalu diikuti oleh Boby dan Jeffrey. Tak lupa, Jeffrey yang berada di posisi paling belakang, menutup pintu ruangan dengan perlahan agar aktivitas mereka tidak tercium oleh pihak Keluarga Dirgory.
Orion menarik napas lega setelah mereka bertiga sudah sepenuhnya memasuki ruangan yang ditargetkan.
Boby mengelap keringatnya dengan kasar. "Bos, kau yakin rencana ini berhasil? Bagaimana kalau paman Blake---"
"Ssttt!" ucap Orion spontan hingga membuat Boby terdiam sembari menutup mulut dengan kedua tangannya. "Kecilkan suaramu! Orang-orang rumah bisa terbangun karena ulahmu, Bob," bisiknya.
"Ah, i-ya maaf," cicitnya.
Orion melangkahkan kedua kakinya menuju ke arah di mana kumpulan layar monitor berada. Orion sempat berdecak kagum, memperhatikan puluhan layar monitor yang menempel di dinding secara saksama.
Dia tidak menyangka, ayahnya itu cukup lihai dalam menyembunyikan puluhan kamera pengintai di setiap koridor dan perkebunan. Bahkan, baru kali ini Orion menyadari kelakuan ayahnya. Seumur hidup ia tidak pernah menginjakkan kaki di ruangan keramat milik penguasa Mansion Dirgory.
Laki-laki itu sangat mengutamakan dengan yang namanya tata krama. Karena menurutnya, jika Sang Ayah melarangnya memasuki ruangan tersebut maka ia pun harus mematuhinya.
Sejak awal Orion memang tidak berniat memasuki ruangan terlarang ini. Namun, karena sifat keras kepala akan ambisinya itu, dia mau tidak mau harus melakukan cara yang dapat mencoreng pendidikan tata kramanya sejak lahir.
Maka, jangan salahkan dirinya yang pembangkang ini ketika berusaha mati-matian menerobos masuk ke dalam ruang kerja Tuan Blake.
Orion memberikan ponsel canggihnya kepada Jeffrey. "Lakukanlah dengan cepat, Jeff. Sebelum ayahku pulang."
Jeffrey mengambil ponsel yang disodorkan oleh Orion dengan wajah serius. "Aku akan membobol kamera pengintai ini sebisaku."
Jeffrey berjalan menuju ke arah di mana layar monitor berada. Dihubungkanlah ponsel milik Orion dengan layar menggunakan kabel USB canggih yang selalu dibawanya.