Ainsley Felton, gadis manis yang tidak pernah percaya pada keajaiban. Hidupnya berubah terbalik ketika mengunjungi kakeknya di Kota Shea. Kota misterius yang tidak pernah terlihat di peta maupun satelit.
Awalnya, liburan akhir tahun di Kota Shea ada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hidup itu membutuhkan strategi, sama seperti permainan catur
~•¤•~
"Hugo," panggil seorang pria berperawakan tegap dengan pakaian khas bangsawan, tampak sibuk menggerakan pion caturnya.
"Iya ayah?" jawab seorang anak kecil berwajah tampan berumur sekitar lima tahun.
Pria itu tersenyum menatap putra semata wayangnya. "Kemarilah, Nak."
Hugo kecil beranjak berdiri, duduk di depan ayahnya---tak jauh dari papan catur. Hening, menyisakan suara kelotak catur di dalam ruangan nan megah. "Ayah?" tanya Hugo sekali lagi.
"Hmm?" Sang ayah bertanya balik.
"Kenapa ayah hanya diam saja? Ayah ingin tanya apa?" tanya Hugo kecil dengan begitu polosnya.
Sang ayah tertawa. Wajah tampan dan bijaksananya memancarkan aura hangat bagi setiap orang yang melihatnya meskipun sudah memiliki kerutan menua. Hugo terlihat kesal, lalu beranjak pergi.
"Nak, ayah kan menyuruhmu kemari," ucap sang ayah mengingatkan, berusaha menahan tawanya.
"Ayah ingin mengerjaiku lagi 'kan?"
"Tidak."
"Lalu, barusan itu apa?" ujar Hugo dengan menunjukan wajah kesalnya, memperlihatkan kedua pipinya yang berubah menjadi tembem dan memerah.
"Ayah hanya menyuruhmu kemari, bukan menanyakan sesuatu padamu kan?" jawab sang ayah seraya tertawa kecil.
Hugo cukup kebingungan mencerna semua ucapan sang ayah. Pria itu tersenyum, lalu mengelus gemas puncak kepala putranya hingga membuat rambut hitam Hugo berantakan.
Hugo tidak marah atas perlakuan Sang Ayah, justru ia bingung dengan sikap ayahnya yang misterius.
Pria itu menggerakkan pion caturnya yang berwarna hitam, lalu bergantian menggerakan pion putihnya. Hugo hanya memperhatikan ayahnya bermain. Apakah ayahnya itu tidak bosan bermain sendiri tanpa lawan?
Hugo tampak tertarik, memperhatikan bidak-bidak catur yang dimainkan oleh ayahnya dengan saksama. "Kenapa ayah tidak mengumpankan pion-pion itu untuk menyelamatkan gajahnya?" tanya Hugo kesal ketika ayahnya rela membiarkan bidak ratu hitam miliknya membunuh gajah putih.
"Tidak Hugo, mengorbankan bidak lemah untuk menyelamatkan yang lebih baik ... tidak mencerminkan pribadi yang bagus," kata Sang Ayah.