Masalalu indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang.
-- Jamari Yusuf --
"Sertu, masih sakit kah?" Ujar seorang wanita cantik berambut pendek, hidung mancung, alis tegas seperti busur panah, bibir merah merona, menggunakan seragam PDL lengkap yang dilapisi jas putih kebanggaan dokter.
Tapi langsung mengalihkan pikiran nya, pasti Meylina menunggu nya dirumah.
"Sertu heyyy." Ucapnya sekali lagi karena tak mendapat respon dariku.
"Ah iya." jawab Jamaru kaku.
"Masih sakit?"
"Siap salah ndan!"
Senyumnya manis masih sama seperti dulu pertama bertemu. Dia adalah mantan pertama Jamari seorang Pa (PK) dokter TNI Letda (K) Siwi Arumukti Wiraatmaja, putri dari Letnan (Kol) Dirgantara Wiraatmaja komandan batalyon nya dulu sebelum menjadi Paspampres.
Tepukan halus dilengan Jamari. "Istirahatlah, danki dan danton mu sedang menuju kemari."
Pikiran nya melayang ke beberapa hari yang lalu.
Flashback on.
Tusss.
Tusss.
Aku tertembak dibagian lengan tapi aku masih melancarkan aksi tembakanku. Dari arah jam 3 ada seseorang bersama dengan pasukan nya membantuku dan melumpuhkan musuh. Mereka adalah personil patroli perbatasan Pamtas RI-MLY yang tak sengaja mendengar letupan peluru saat sedang jaga patok.
Aku melihat pangkat balok dikerah nya dan hormat. "Siap danton!saya butuh bantuan, danki dan danton saya masih ada didalam hutan. Salah satu dari mereka ada yang terluka."
Aku lihat kembali nametage nya "Isnantara B".
Semua memori masa lalu terputar kembali di otakku bak kaset lama. Ingatku pada seorang wanita yang sangat aku cintai yang telah memilih pria lain. Ya pria yang sekarang ada dihadapanku, pria yang membantuku sekaligus menyelamatkan nyawaku.
Aku kira wanita yang aku cintai mencintaiku tulus apa adanya, tapi apa daya centang dilengan. Wanita mana yang tidak memilih seorang perwira?gaji lebih besar, pangkat lebih menjamin. Wanita memang jika sudah tahu pangkat pasti memilih balok dipundak dan kerah dari pada centang di lengan. Apalah daya kami yang hanya seorang bintara, pesona kami pun kalah dengan seorang perwira.
"Anak buah saya yang akan menjemput. Sedang ada misi kamu?" tanyanya.
"Eh." kataku berusaha melupakan sejenak masa lalu.
"Siap danton!"
"Berapa jumlah pasukan?" Tanyanya kembali.
"Siap 3 danton!"
Danton menginterupsi anggota nya untuk menjemput danki dan pasukannya.
"Masih sanggup kamu berjalan?"
"Siap masih!" tegasku.
"Sebentar lagi 50 km kedepan ada pos jaga." katanya.
50 km?sebentar?itu jarak yang cukup jauh bila ditempuh pejalan kaki bisa 1 hari semalam tanpa istirahat. Belum lagi beban berat ransel berkilo-kilo dengan persenjataan lengkap dengan amunisi. Dan kondisi lenganku terluka menganga lebar.
Flasback off.
Jamaru bersyukur selamat dari misi, jika dia gagal dalam tugas bagaimana nasib Meylina dan calon anak nya. Pasti mereka berat kehilangan Jamaru belum lagi kondisi Meylina yang sedang hamil. Bukankah prajurit harus tidak takut mati tapi dia masih belum bisa meninggalkan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Danru Paspampres
Romance^^My First Story^^ Takdir yang membawaku padanya, bagaikan ikan di air dan sayur di gunung. Walaupun ikan yang jauh dilaut dipertemukan dengan sayur didarat dalam satu piring. Ibaratkan jodoh walau terbentang jarak berkilo kilo meter jika memang jod...
