Danki telah kembali dari hutan sejak dua hari yang lalu dan mendapat instruksi lusa kepulangan kami. Sejak kejadian Meylina mendengar suara seorang wanita setelah itu aku belum menghubunginya kembali. Aku juga belum menjelaskan apapun, lebih baik sepulang misi aku jelaskan detailnya. Aku menghubunginya kembali untuk memberi kabar kepulanganku, dan baru diangkat setelah tiga kali kuhubungi.
"Assalamualaikum." ucapku pertama kali.
"Wa'alaikumussalam."
"Dik, mas mau memberikan kabar baik."
"Kabar baik apa mas?" Tanyanya.
"Lusa mas pulang."
"Alhamdulillah, aku tunggu mas." Jawabnya antusias seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Ada perasaan lega tapi lebih banyak khawatir. Kenapa Meylina harus berpura-pura baik-baik saja setelah kejadian kemarin, membuatku semakin merasa bersalah dan berpikir aku bukanlah suami yang baik untuknya. Mungkin kemarin aku sedikit tergoda tapi tak pernah terlintas sedikit pun untuk mendua apalagi poligami. Aku masih waras untuk melakukan semua itu.
"Iya, dik bagaimana perkembangan anak kita?" tanyaku.
"Alhamdulillah baik mas, minggu lalu juga sudah cek ke dokter."
Aku dibuat tersenyum. "Alhamdulillah. Qadarullah mas masih tugas, jika mas pulang ingatkan untuk mengantar adik cek kandungan ya." Kataku.
"Iya mas."
"Selesai pulang tugas mas akan jelaskan semuanya dik." ucapku pelan.
"Insyaalloh mas, kan belum tentu mas nanti menjelaskan semuanya kan?"
"Insyaalloh mas akan jelaskan semuanya."
"Aku percaya kok sama mas. Jadi mas jangan rusak kepercayaanku. Mas kan seorang tentara jangan hanya pandai menjaga negara saja tapi gagal menjaga hati." Ujarnya menohok sekali.
"Dik kamu tidak percaya sama mas?" Tanyaku pelan sambil meredam emosi.
"Sertu Jamari bagaimana keadaan lenganmu?apakah perbannya sudah diganti?" Tanpa ketuk tanpa salam Letda Siwi masuk begitu saja.
Kenapa setiap aku sedang ada waktu dengan Meylina pasti Siwi selalu datang. Masalah yang satu belum selesai ditambah masalah lagi.
"Siap sudah!" Jawabku cepat ingin segera mengakhiri percakapan tak penting ini. Jika Siwi bukan atasanku sudah ku usir dia sedari tadi.
"Baiklah. Oh iya sertu, jas praktek ku tertinggal disini kah?" Tanyanya.
Aku langsung melihat ke semua tempat, perasaanku semakin panik pasti Meylina sudah mendengar semuanya. Takut-takut Meylina berpikir lain karena jas praktek Siwi tertinggal dimess. Bagaimana bisa jas perempuan tertinggal dikamar pria jika memang tidak bertemu dalam satu kamar. Memangnya kemarin Siwi saat mengobati lukaku melepas jas nya saat dikamar mess.
"Siap salah ndan. Tidak ada jas disini." ucapku menahan emosi.
"Mungkin di lain tempat." ujarnya tak kunjung keluar.
"Izin ndan, saya sedang telfon dengan istri bisa komandan keluar dulu."
Masa bodoh jika harus sikap taubat sampai malam karena mengusir komandan sendiri. Jika tidak diusir sampai kapan dia akan tetap disini mengganggu waktuku dengan Meylina saja.
"Setelah ini kamu temui saya dan ambil sikap taubat!" bentaknya.
"Siap komandan!" Tegasku.
"Dik." panggilku karena tak kunjung berbicara yang diseberang.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Danru Paspampres
Romance^^My First Story^^ Takdir yang membawaku padanya, bagaikan ikan di air dan sayur di gunung. Walaupun ikan yang jauh dilaut dipertemukan dengan sayur didarat dalam satu piring. Ibaratkan jodoh walau terbentang jarak berkilo kilo meter jika memang jod...
