2. Godaan Hari Kedua

140 27 27
                                        

"Bin, makan!" teriak Sowon pada anaknya yang malah menjadikan meja makan sebagai bantal.

"Yang, jangan diteriakin begitu, dong," kata Seokjin yang baru saja keluar dari kamar. Pria itu baru selesai mandi dan ganti baju, supaya nanti habis sahur bisa langsung ke masjid. Beda banget dengan Soobin yang disuruh bangun saja susah, giliran sudah cuci muka dan duduk di meja makan, bukannya menyantap makanan, anak itu malah tidur lagi.

"Diteriakin aja gak bangun, apalagi dilembutin—"

"Ya, kan disiram kuah soto bisa, kenapa harus diteriakin," sahut Seokjin santai. Otomatis Soobin mengangkat kepala walau mata merah dan kelopaknya terasa berat untuk terbuka.

"Papi jahat amat," keluh Soobin dengan suara serak.

"Habisnya kamu susah banget dibangunin," cibir sang ayah, "gak malu apa sama Kamal? Dia dari jam tiga tadi aja udah ngerusuh pakai toa masjid buat bangunin orang sahur."

Kamal ini bocah empat belas tahun yang selalu bersemangat merusuhi hidup Soobin. Kelakuannya ini ngeselin banget kalau sudah main ke rumah dan ngajak-ngajak Soobin keluar buat nongkrong di warung Bude Bomi atau bersih-bersih masjid. Lebih ngeselin kalau maminya sendiri dorong-dorong Soobin biar mau ikut bocah SMP itu keluar.

Belum lagi maminya juga sering bandingin Soobin dengan makhluk yang dua tahun lebih muda darinya itu. "Lihat, itu Kamal, pagi-pagi udah bantuin bapaknya bersihin masjid."

"Si Kamal rajin banget, ya gantiin Pak Ustadz ke pasar." Padahal mah, kalau menurut Soobin yang lagi mode suudzon, Kamal bantuin Pak Sekup cuma karena ada maunya. Pasti anak itu bantuin biar dapat uang jajan lebih atau gak diancam sama bapaknya.

"Kamal, kan anaknya Pak Ustadz, wajarlah," sungut Soobin.

"Loh, kalau anak dosen, terus gak wajar gitu bangun subuh dan bangunin orang sahur?" sahut Seokjin, si bapak dosen moody-an, tak terima.

"Udahlah, jangan ngoceh terus, ayo mulai makan. Sebentar lagi adzan subuh" lerai Sowon, "makan yang banyak, Bin. Jangan kayak kemaren, nanti tengah hari udah lesu, lapar, lunglai kamu."

"Iya iya," balas Soobin sambil mulai mengambil nasi dan lauk plus soto supaya tidak seret saat makan.

Kalau lagi mode rajin, sih ya begini, soto saja dibuat sendiri untuk sahur, tapi kalau sudah pertengahan menuju akhir Ramadhan, Soobin yakin maminya bakal malas bangun atau bangun kesiangan, lalu berakhir dengan sahur hanya makan nasi campur mi rasa soto.

"Pi, kemaren si Monday nge-chat mami. Kasihan dia," kata Sowon sambil menyantap menu sahurnya.

"Honday hiapha, heh?" balas Seokjin dengan mulut penuh nasi.

Sojung mendesah berat dan memutar kedua mata malas. "Mahasiswa bimbingan situ, Bapak Seokjin!" jawab Sojung gemas.

"Oh," sahut Seokjin santai, "kayaknya dia jarang bimbingan, deh, makanya papi lupa. Eh, tapi kok dia bisa chat-an sama mami?"

"Kak Monday itu followers mami, Pi," sahut Soobin. Ya, walau ibu rumah tangga, Sowon ini cukup hits di kalangan mahasiswa atau ibu-ibu muda. Alasan hits di kalangan mahasiswa, mereka sengaja mendekati istri sang dosen supaya mulus waktu mau bimbingan. Jangan pikir mahasiswa kere itu mau menyuap Sowon. Mereka cuma berharap Sowon mau mendesak suaminya buat setuju bimbingan, atau tahu bagaimana mood dan di mana keberadaan Seokjin saat mereka hendak bimbingan.

Untungnya Sowon juga ramah dan asyik, masih kayak ABG gaya komunikasinya walau tahun ini umurnya sudah empat puluh. Kadang Sowon juga jadi tempat curhat para mahasiswa kalau sudah frustrasi buat mengambil hati Seokjin supaya mau bimbingan atau ACC sempro.

NgabuburitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang