Dipengujung bulan Ramadhan, si bungsu Andromea kebingungan karena tidak ada ide untuk memasakkan kedua kakaknya. Terus memutar otaknya, berusaha mengingat sayuran apa yang belum pernah ia tumis. Tapi, hasilnya nihil. Ia tidak ingat sayuran apa saja yang sudah ia tumis di hari-hari sebelumnya.
Sampai akhirnya,
"Heh! Malah bengong di dapur," tegur Seokmin yang membuat Xienna tersentak kaget.
Xienna berbalik dan sesaat kemudian ia memukul tubuh sang kakak dengan brutal. Sampai-sampai lelaki itu berteriak meminta pertolongan.
"Astagfirullah, subuh-subuh udah berantem aja."
Keduanya menoleh, melihat si sulung yang sudah berkacak pinggang dan menggeleng-geleng kepala. Seokmin dan Xienna hanya menyengir melihat Wonwoo yang menatap keduanya garang.
"Seok, adiknya jangan digangguin terus," ucap Wonwoo lalu melangkah mendekat.
"Beneran, deh, ga digang—"
"Emang ga ganggu. Cuma ngagetin," potong Xienna, "coba, kalo aku lagi pegang pisau, gimana? Nanti pisaunya jatoh, terus kena kaki, terus—"
"Terus ke rumah sakit, terus cus..." sela Seokmin seraya memperagakan seolah-olah dirinya seorang dokter yang sedang menyuntik pasien.
"Seokmin," tegur Wonwoo.
Yang ditegur hanya tersenyum lalu mengecup pipi Xienna dan menepuk-nepuk kepala sang adik. "Maafin mas, ya, adik."
"Chatime."
"Iya, nanti sore mas beliin," ucap Seokmin yang membuat mata Xienna berbinar, "mas Won maksudnya."
"Dih, kenapa jadi mas Won. Kamu, lah," seru Wonwoo tidak terima.
"Iya, Seok yang nyetir, kok. Mas Won yang bayar chatime," jelas Seokmin, "ga nerima penolakan."
"Debat aja terus. Sampe imsak," protes Xienna yang sedang memotong daun bawang.
***
Setelah perdebatan subuh tadi yang berhasil dihentikan oleh Xienna yang protes karena sudah mendekati waktu imsak. Pagi ini, Wonwoo, Seokmin dan Xienna sedang bersantai di halaman belakang rumah. menikmati sinar matahari, yang lama kelamaan terasa sangat panas dan ketiganya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
Karena sudah mendekati Idul Fitri, Xienna memutuskan untuk meliburkan usaha kecil-kecilannya bersama kedua kakaknya. Berhubung itu, hari ini mereka memutuskan untuk bermain playstation yang diletakkan di ruang keluarga lantai atas. Xienna duduk di sofa dan kedua kakaknya yang duduk lesehan.
"Dek," panggil Seokmin.
"Ga jadi, deng," lanjutnya yang membuat Wonwoo tertawa.
"Pasti mau minta buatin nutrisari, kan," beber Wonwoo seraya menepuk-nepuk bahu sang adik dan tertawa, membuat Seokmin merenggut sebal. Akhirnya Wonwoo memulai permainannya.
Tiga jam kemudian, Seokmin dan Wonwoo memilih untuk mengakhiri pertandingan untuk melaksanakan shalat zuhur.
"DEK, IMAM," teriak Seokmin saat Xienna masuk ke kamar mandi.
"Astagfirullah, solimi banget kamu," ucap Wonwoo lalu menendang bokong Seokmin.
"Kali-kali gitu, kan. Belum pernah diimamin sama Xienna, kan?" tanya Seokmin lalu tertawa membuat Wonwoo menutup mulutnya dengan sarung yang sedari tadi ia bawa.
"Eh! Buset! Malah pada tubir," sembur Xienna.
Wonwoo yang masih menyumpal mulut adiknya itu pun segera menarik sarungnya, menjauh dari Seokmin yang mukanya memerah.
"Nih, bentar lagi mewek, nih," sindir Xienna lalu memeluk Seokmin.
"Cup, cup, cup, jangan nangis, ya, mas Seok," ucap Xienna seraya menepuk-nepuk punggung kakaknya.
"Iys, bun—"
PLAK
"Seenak jidat aja manggilnya," protes Xienna setelah memukul punggung Seokmin yang sebelumnya ia peluk.
"Wah! Parah! Kekerasan dalam keluarga," desis Seokmin, "laporin KPK."
"Salah, lah. Laporin BIN," usul Wonwoo.
***
Tepat pukul empat sore, Andromea bersaudara memutuskan untuk pergi ke salah satu mall yang tidak jauh dari komplek sekalian menepati janji Seokmin kepada si bungsu. Kalo kata Seokmin, sebagai kakak yang baik hati dan tidak sombong, ia harus menepati janji. Hukumnya wajib. Akhirnya Wonwoo, Seokmin dan Xienna pergi menggunakan Lexus hitam milik Seokmin.
"Mas. Tahun ini kita mudik?" tanya Xienna yang membuat kedua kakaknya bertatatapan.
"Ga tau juga, sih. Kamu mau?" tanya balik Wonwoo.
"Engga. Mau di rumah aja," jawab Xienna, "tapi kalo liburan mau."
"Udah. Tim rebahan diem aja," jelas Seokmin lalu terkekeh geli, "kalo mau liburan, sekalian nyusul dad aja kali."
Mendengar usulan Seokmin, Xienna menjadi murung. Entah mengapa, rasanya ia enggan untuk bertemu daddynya.
Xienna menghela nafas. "Gausah, deh. Diem di rumah aja."
"Na. kamu ga kangen daddy emang?" tanya si sulung.
"Udah hampir dua tahun, loh, kamu marahan sama daddy," lanjutnya.
"Tapi, Na ga mau daddy nikah lagi," cicit si bungsu.
"Na, listen," ucap Wonwoo, "daddy itu perlu pendamping untuk ngurus hidupnya. Ok, mas tau kamu ga akan tau gimana rasanya. Cuma, seengganya kamu kasian sama daddy yang udah belasan tahun ngurus kita sendiri."
"Tapi, kita udah gede. Ga per—"
"Iya. kita emang ga perlu sosok ibu diumur kita yang sekarang. Tapi, daddy perlu sosok istri yang bisa ngurus dia. Disaat kita ga tinggal bareng, pasti susah," sela Seokmin.
Xienna menimang-nimang ucapan kedua kakaknya. Tidak terasa, dua tahun sudah ia tidak bertukar kabar dengan sang daddy. Berarti dua tahun yang lalu adalah saat dimana ia mengamuk karena berita daddynya yang akan menikah kembali dan terpaksa harus dibatalkan.
Bahkan ia masih ingat dengan jelas bagaimana dirinya yang menyumpah serapahi daddynya yang nyatanya akan menikah tapi tidak memberi kabar apapun kepada dirinya atau bahkan kedua kakaknya.
"Yaudah."
"Apa?"
"Yaudah kita samperin daddy," jelas Xienna.
"Ga akan wacana doang, nih?" tanya Seokmin memastikan.
"Kenapa emang?"
"Kemarin daddy bilang sebelum lebaran mau pulang," jelasnya membuat Xienna geram.
"emang wacana forever."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.