Bagi sebagian besar orang, momen yang paling dirindukan dari Ramadan adalah tarawih atau mungkin sahur dan buka puasa bareng keluarga. Namun, bagi Jisung, momen yang paling dinantikan tidak lain dan tidak bukan adalah ngabuburit di samping gerobaknya Budhe Bomi.
Ngabuburitnya bukan sambil ngopi-ngopi ya, soalnya lagi puasa. Jisung ikut mabar alias main bareng sama anak-anak kompleks lainnya. Bedanya sama mabar di luar bulan puasa adalah mereka nggak boleh pakai kata-kata kasar dan untuk menambah keseruan, mereka sepakat mengadakan denda seribu perak untuk tiap kata kasar yang terlontar selama mereka mabar.
Kalau songongnya lagi kumat, Jisung tuh suka sok ngide banget ngajak temen-temennya buat mabar, kayak Haechan, Jeno, Renjun. Gayanya sih oke punya, seolah bilang kalau dia bakal menang di pertempuran kali itu juga. Cuma ya... ujung-ujungnya Jisung kalah telak gara-gara sinyal provider-nya yang suka ngadat.
Makanya, hari ini Jisung ngajakin Bang Jae. Bukan ngajakin abangnya buat ikut mabar, tapi buat nebeng tethering biar sinyalnya kencang. Namanya juga mahasiswa ya, provider-nya Bang Jae sedikit lebih dewa daripada provider-nya Jisung.
Jisung lagi asyik jongkok di samping Budhe Bomi yang lagi bikin adonan buat tempe mendoan waktu tiba-tiba Haechan, Jeno, dan Renjun nongol dari tikungan depan masjid. Bang Jae tidak peduli sama sekali, memilih sibuk membaca quran terjemahan versi digital yang tampil di layar ponselnya.
Mukanya Haechan bete banget. "Ji, kita bertiga nggak jadi ikut mabar."
Jisung langsung bangkit dengan ekspresi tidak setujunya. "Lah? Kenapa?"
"Ada tugas ngisi Buku Harian Ramadan dari sekolahan. Disuruh ikut kajian di masjid."
"Yah! Gue udah ngajak abang gue nih."
Jeno menceletuk, "Yaudah, mabar sama abang lo aja."
"Dih, abang gue mana tau ginian. Noh, ngabuburitnya baca quran!"
Di sebelah Jeno, Renjun yang takjub langsung geleng-geleng sambil berdecak pelan. "Pantesan abang lo pinter. Kerjaannya kalau nggak ngaji ya belajar mulu. Kagak kayak elo, mikir sebutan buat lawannya turunan aja mikirnya lama banget."
Haechan menoleh. "Hah? Emang lawannya turunan apaan, Jun?"
Jeno menimpali, "Tanjakan, kali?"
"Ngaco dia, Jen. Kita aja belom diajarin materi turunan," sahut Haechan.
"Renjun kan beda level, Chan. Dia emang pinter."
"Oiya. Bener juga."
Jisung akhirnya mendengus keras. "Mau turunan kek, mau tanjakan kek, terserah deh. Tapi ini beneran lo pada nggak bisa mabar?"
Ketiganya mengangguk kompak.
"Kita pamit dulu, ya. Mau belok ke jalan yang benar dulu," kata Haechan, "tapi ntar kalau udah selesai ya kita balik ke jalan sesat lagi."
"Yeee sama aja bohong!" seru Renjun.
Jeno melerai. "Eh, udah, udah. Bentar lagi kajiannya mulai!"
"Dadah, Jisung!!!"
Akhirnya, mereka meninggalkan Jisung sendirian di tempatnya. Hanya sebentar, sebab setelah itu, Jisung kembali menghampiri Bang Jae yang masih tenang di bangku.
"Bang," panggilnya.
"Apa?"
"Nggak jadi tethering."
Bang Jae mengangkat kepala, mendapati Jisung yang sebal duduk di sebelahnya. "Kenapa?"
"Temen-temen aku pada nggak bisa mabar."
"Oh."
Jisung melotot. "OH DOANG?"
"Ya terus apa lagi? Abang harus loncat-loncat kegirangan di atas gerobaknya Budhe Bomi?"
Giliran Budhe Bomi yang teriak. "YA JANGAN LAH! BUDHE JUALAN PISANG GORENG! BUKAN PISANG PENYET"
Budhe Bomi langsung beranjak dan menghampiri pembeli di gerobaknya. Bang Jae hanya tertawa sementara Jisung mengentakkan kakinya ke tanah. "Lagian mereka ngapain sih sok-sokan ikut kajian cuma buat ngisi Buku Harian Ramadan? Haechan bilang, ujung-ujungnya dia juga bakal balik sesat lagi."
"Dek."
"Apa?"
"Nggak pernah ada yang tau hidayah datengnya dari mana. Sekarang dia mungkin bilang gitu, tapi siapa tahu setelah kajian, dia dapet ilmu yang bikin dia ngerasa harus memperbaiki diri dan akhirnya memilih buat tetap berada di jalan yang benar?"
"..."
"Manusia itu bisa berubah, Dek. Hari ini jahat, bisa jadi besok baik." Bang Jae menoleh, menatap Jisung yang masih diam di tempatnya. "Dulu kamu benci banget sama sayur sampai bisa muntah tiap habis makan sayur. Sekarang apa? Kamu jatuh cinta sedalam-dalamnya sama sayur."
"Itu karena Mama selalu maksa aku buat makan sayur."
Lelaki itu tersenyum. "Kadang, sesuatu yang baru terasa seperti paksaan bagi kita. Kita enggan atau malas melakukan hal itu. Kita mungkin nggak berencana, tapi pada umumnya, setelah terpaksa, lama-lama kita jadi terbiasa. Tanpa harus disuruh atau diingatkan, kita tergerak untuk melakukannya. Sampai akhirnya, kebiasaan itu bisa membuat kamu merasa butuh. Hati kamu merasa nggak tenang kalau kamu belum melakukan hal itu dan kamu merasa apa yang biasa kamu lakukan itu adalah sebuah keharusan yang ikhlas kamu jalani."
Jisung masih diam mendengarkan Bang Jae yang kembali bersuara.
"Teman-teman kamu mungkin masih ada di tahap paksaan. Mereka ogah-ogahan ikut kajian."
"Lama-lama, mereka bisa terbiasa, Bang?"
"Bisa banget."
"Terus, mereka merasa butuh?"
"Betul."
"Mereka semua jadi baik, sedangkan aku masih sibuk main game?"
Dia lagi-lagi tersenyum. "Pilihannya ada di tanganmu. Kamu mau terusik buat bangkit dan ikut memperbaiki diri atau tetap asyik main game tanpa ada perubahan sama sekali."
"Bang..."
"Abang cuma mau ngasih tau, kalau kamu mulai berpikiran begitu, tandanya ada hidayah yang mau menghampiri kamu. Pertanyaannya, mau kamu jemput atau kamu biarkan dia lewat begitu aja?"
"Laknat begini juga aku tau jawabannya, Bang."
"Jadi, apa?"
"Jemput lah."
"Kalau gitu, mending kamu pulang, bersih-bersih, terus ikut kajian ke masjid."
"... Abang ikut nggak?"
"Nanti siapa yang bantuin Bunda di rumah kalau Abang ikut?"
Jisung mendengus pelan. "Yaudah, aku kajian dulu ya, Bang."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.