Manusia terkadang lupa bersyukur saat nikmat yang mereka rasakan bahkan sudah banyak diterima. Bagi Bambam, menjadi seorang muslim adalah anugerah terindah di dalam hidupnya. Ia menyadari jika Allah azza wa jalla tidak pernah pelit dalam memberikan hidayah kepada setiap hamba-Nya.
Bambam sangat bersyukur telah menjadi seorang muslim. Walaupun kehidupan sosialita sebelumnya telah tergantikan dengan Bambam yang lebih sering sendiri. Alasannya karena ia sangat malas jika harus kembali berjalan menuju kantornya. Bambam lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Bahkan, berbaur dengan para tetangga pun ia sangat jarang. Bambam bahkan sering berbelanja lewat online daripada harus berjalan ke depan menuju toko komplek.
Di komplek HA, rumahnya yang terletak di paling ujung semakin membuat Bambam terbiasa sendiri. Kehidupannya yang serba cukup membuatnya merasa tidak membutuhkan orang lain. Faktanya, Bambam sangat membutuhkan orang lain untuk membantunya. Setidaknya, menemaninya makan sahur, berbuka puasa, juga sholat tarawih bersama para penghuni komplek.
Hari ini, tepat hari ke dua puluh tiga Bambam menjalani rukun islam yang keempat itu. Di jam sepuluh pagi ini, komplek masih sepi; mungkin saja para penghuninya masih tertidur karena harus meraih keberkahan dari lailatul qadr.
Bambam menghela napasnya, ia segera membuka tirai jendela yang selama ini selalu ia tutupi. Hal yang membuat para tetangga tidak mengetahui jika rumah paling ujung itu sebetulnya berpenghuni.
Sesekali tatapannya memicing seolah menatap sesuatu yang sangat jauh. Kemudian bibirnya tertarik membentuk seulas senyuman simpul. Faktanya, Bambam memang sedang menatap sesuatu yang jauh. Bahkan, sangat jauh. Ada hal yang sangat ia rindukan. Tetapi ini bukan tentang kehidupan sosialitanya yang menggila. Melainkan, orang yang pernah ada di sana.
Bambam menghela napasnya, kembali menutup tirai saat satpam komplek menatapnya dari bawah. Ini bukan soal Bambam yang tak mau berbaur. Sungguh. Bambam sangat ingin berbaur dengan para tetangga, berjalan bersama-sama penghuni lain menuju masjid, ngabuburit sambil berolahraga, berjalan ke depan untuk berbelanja, bahkan buka bersama dengan yang lainnya.
Tetapi, ketakutan yang selama ini ia rasakan tak pernah memudar. Sedikit pun tidak pernah, Bambam ingin, tetapi ia sangat takut. Ia takut jika kejadian lama kembali terulang. Ia takut, ia akan kembali menjadi gunjingan para tetangga. Ia sangat takut, maka dari itu tidak pernah menampakkan batang hidungnya.
Tetapi lagi ... Bambam sangat menyadari jika hidup akan terus berjalan. Waktu harus ia susuri dengan penuh rasa keikhlasan. Ia mengerti jika setiap kejadian yang terjadi sudah ditentukan oleh Sang Maha Pengatur segalanya. Namun, ia tak pernah bisa. Apalagi jika mengingat seseorang kini telah mendekam di rumah sakit jiwa karenanya. Ya, faktanya Bambam semenyebalkan itu hingga pernah membuat orang gila. Dan yang lebih parahnya, orang itu kini sedang terbaring di rumah sakit dengan alat-alat yang membuatnya akan bertahan lebih lama.
Bambam sudah mencoba meminta maaf kepada pihak keluarga. Namun yang diterimanya sebuah kalimat asing yang membuatnya mengasingkan diri. Bambam juga telah meminta maaf pada yang bersangkutan. Tetapi malah menerima kabar jika yang bersangkutan mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Dan kini, di bulan yang suci ini; Bambam berniat untuk kembali menata hidupnya agar lebih baik. Satu-satunya cara dengan diam dan tidak bertindak seenaknya.
Sedang sibuk bekerja di hadapan laptop, ponselnya berdering nyaring; panggilan dari sang ibunda yang tak mungkin bisa ia abaikan.
"Assalamu'alaikum. Kenapa, Bu?"
"Bam ... Aisyah meninggal."
Sesuatu menghancurkan hati sanubarinya sangat keras. Di hari kedua puluh tiga ini; rasa yang seharusnya sudah baik-baik saja semakin tak terasa. Kini, yang diterimanya sebuah penyesalan yang semakin dalam.
"Aisyah ... maaf."
Ya, hari yang penuh berkah ini semakin membuatnya tersadar jika dirinya sangat penuh dengan dosa. Inginnya berbahagia, namun garis takdir tidak seperti yang diinginkannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.