24. Kok Jadinya Gini, Sih?

32 10 0
                                        

Saerom sedang sibuk memilah-milah barang endorse yang nantinya akan ia jadikan bahan giveaway dalam rangka 1 juta subscibers kanal youtube-nya, Rom Rom Tv.

Suasana hatinya baik sekali hari ini. Juyeon dan Jiheon—kedua anaknya—tidak protes soal menu sahur dan kini tengah tertidur lelap usai melaksanakan shalat subuh berjamaah. Terhitung 6 hari menjelang lebaran, sponsor yang ia dapatkan juga kian bertambah. Oh, sepertinya ia tidak butuh Dewi Fortuna untuk berpihak kepadanya sebab ia—secara alami—telah dikelilingi oleh keberuntungan yang berlimpah.

Saat hendak membuang produk skincare yang sudah kadaluarsa ke tempat sampah, ia langsung diserbu putri bungsunya yang langsung menangis sambil bersimpuh di hadapannya. "Mi, maafin adek ya. Adek tahu adek banyak salah. Tapi mami kan sayang adek, jadi pasti mami mau maafin adek. Adek nggak mau masuk neraka, Mi. Hue hue hue."

Waduh, kesambet apa nih anak gue, batinnya selagi membimbing Lee Jiheon untuk berdiri. Saerom terharu, sih, jujur saja. Tidak bisa dipungkiri—walau belum mandi dan berpenampilan selayaknya orang bangun tidur yang acak-acakan—saat menangis, Jiheon terlihat sangat menggemaskan. Ia lantas bertanya, "Adek habis mimpi buruk ya, sampai nangis gini?"

Jiheon menggeleng. Ia berucap, "Kan biasanya kalau lebaran maaf-maafan, Mi. Masa mami nggak tahu, sih?"

Wanita berambut sebahu itu membeo seketika. Hah, lebaran? Ia tidak salah lihat tanggal kan?

Tak lama si sulung keluar sambil tertawa-tawa melihat adiknya dengan mata setengah terbuka. "Mi, mami tuh nggak nyadar apa emang nggak tahu sih?"

"Nggak nyadar?"

Masih sambil tertawa, Juyeon menunjuk meja makan dengan beberapa toples kue yang kini sudah raib, habis tak bersisa. Saerom pun langsung mengguncang tubuh anaknya dengan sekuat tenaga sampai gadis itu terbangun dari alam bawah sadarnya.

Dikira dapat hidayah, eh, ternyata Jiheon ngelindur.

---

Yoshi berlari ke arah rumah nomor 21 sambil membawa sekresek gorengan yang ia beli dari Budhe Bomi. Bocah berumur 5 tahun itu—entah kenapa—penurut sekali sampai-sampai Juyeon ingin barter adik.

Dibandingkan kembarannya, Yoshi lebih enak diajak bicara. Aneh, sih, pemuda seumuran Juyeon lebih suka bergaul dengan bocah lima tahun. Tapi karena Yoshi, ia serasa bisa melakukan simbiosis mutualisme. Contohnya yang satu ini. Saat pukul lima sore dan Juyeon sedang dalam posisi pw untuk beranjak keluar rumah.

"Bang Juyeon, gorengannya datang!" Beuh, mamang gofood kalah kalau begini mah, batinnya selagi membukakan pintu.

Yoshi—atau lebih sering dipanggil Boy oleh Juyeon—tersenyum lebar saat ia memberikan lebihan uang lima ribu sebagai ongkos. "Makasih, ya, Boy. Jangan bosen-bosen."

"Siap!"

Begitu bocah itu pergi, Juyeon yang tampan rupawan hampir terkena serangan jantung saat mengetahui sesosok penampakan gadis berambut panjang terurai di tengah kegelapan. "Lampunya dinyalaiin napa, sih. Gue kira mbak kunti beneran, tau!"

"Hahaha. Puasa-puasa gini masih percaya mbak kunti bisa menampakkan diri. Kurang asupan pengetahuan sekali, Anda."

Juyeon memilih tak ambil pusing dan langsung menekan saklar lampu di dekat pintu agar ia mendapat pencahayaan yang cukup. Namun, belum lima langkah ia berjalan, ia kembali dikejutkan oleh kemunculan sang Mami yang langsung memberinya tatapan menyeramkan.

"Pasti nyuruh Yoshi beli takjil lagi, kan?"

Yang ditanyai menghembuskan napas panjang. "Iya, Mi. Juyeon ngaku."

"Kenapa nggak beli sendiri, sih? Orang rumahnya Budhe Bomi deket juga. Jalan paling nggak sampe bikin kaki keseleo." Jiheon ikut berkomentar, semakin memperjelas gendenrang perang diantara mereka berdua.

"Juyeon mager, Mi, bukan males. Lagian kalau sore gini bawaannya emang lemes terus, tenaganya udah abis," jelas Juyeon membuat Saerom terdiam untuk beberapa saat.

"Tadi Yoshi dikasih ongkos, kan?"

Juyeon mengangguk.

Saerom kembali bertanya, "Berapa?"

"Lima ribu. Kenapa emangnya, Mi?"

Ibu dua anak itu tersenyum aneh. "Gapapa. Takut dikira eksploitasi anak aja," jawabnya lantas langsung kembali ke dapur.

Kini giliran Jiheon yang menghela napas panjang, benar-benar tak habis pikir. "Eksploitasi anak? Bang, maksudnya?"

Juyeon hanya bisa mengendikkan bahu tanda tak mengerti. Entah mengapa, tenaganya terasa terkuras habis pada puasa hari ini.

---

Saerom melakukan live youtube setelah buka puasa dengan dalih agar lebih bertenaga dan agar ia juga bisa lebih mudah berpikir tentang apa yang hendak ia katakan di depan kamera sebab perutnya sudah kenyang.

Belum lama ia melakukan live bahkan ia juga belum mengumumkan barang-barang apa saja untuk giveway-nya kali ini, jumlah penontonnya sudah mencapai ratusan ribu. Wow, sepopuler itukah Rom Rom Tv? Saerom benar-benarmerasa bersyukur sampai mengucapkan belasan terima kasih kepada para subscriber-nya yang tengah menonton.

"Anak bujangnya nggak ikutan, Bun?" ucap salah satu komentar yang membuatnya langsung salah fokus. Hal seperti ini memang sering terjadi. Ia sendiri sudah mengakui bahwa putra sulungnya itu memiliki paras menawan di atas rata-rata.

Karena sering menolak muncul di hadapan kamera, Saerom berusaha membujuknya kali ini. "Eh, tau aja anak bujang saya ganteng, ehehe. Sebentar ya, kali ini coba saya ajakin. Barang kali mau."

Saerom segera berpindah ke ruang tengah di mana kedua anaknya tengah akur menonton televisi sambil rebahan. "Bang, coba deh sapa. Subscriber-nya Mami ada yang kepengen nge-fans banget sama kamu, loh."

Belum sempat Juyeon memberikan respon, Jiheon sudah lebih dulu menutup lensa kamera dengan telapak tangannya dan menjauhkan benda itu dari wajah sang kakak.

"Dek, kok ditutupin, sih? Nanti wajahnya abang nggak kelihatan."

"Ini namanya eksploitasi anak, Mi. Mami nggak boleh ngerekam wajah anaknya sembarangan!"

Saerom dibuat melongo untuk beberapa saat setelah mendengar perkataan si bungsu. Ia pun lantas bertanya, "Emangnya adek tahu apa itu eksploitasi anak?"

"Tahu, lah. Adek tadi udah tanya ke Mbah Google. Mami kan tadi sore juga bilang."

"Coba jelasin, apa maksudnya."

Jiheon berdehem sebelum mulai bicara sementara Juyeon terlihat menampakkan ekspresi datar di anatara mereka berdua. "Eksploitasi anak itu kegiatan memanfaatkan anak untuk keuntungan orang tua atau pihak tertentu. Mami mau ikut ngerekam wajahnya abang biar pengikutnya nambah, kan?"

Skak mat.

Moral value of the day, punya anak kayak Jiheon emang kudu sabar banget, dah.

Dan naasnya, Saerom terlambat menyadari bahwa subscribers-nya telah mendengar seluruh konversasi mereka.

Duh, kok jadinya gini, sih?  

Duh, kok jadinya gini, sih?  

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
NgabuburitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang