Daniel kembali melihat ke arah jendela. Wanita di sebelah rumahnya sedang tertawa sambil menyuci mobilnya. Ia sangat terlihat bahagia. Tiba-tiba Daniel merasa seperti ada orang di belakangnya, ia pun menengok ke belakangnya dan menemukan temannya yang sedang menjilat-jilat es krim dengan mata misterius.
"Lo stalker? Kok natepin cewek sebelah gitu banget?" celutuknya.
"Seong Woo, lo gila? Siapa juga yang ngeliatin dia. Lagi juga ini apaan sih orang lagi puasa kok lu malah makan es krim, sih?" balas Daniel sambil mengambil es krim yang masih dijilat-jilat oleh Seong Woo.
"EH! Es krim gue!" Seong Woo mengejar Daniel yang membawa lari es krimnya. Setelah merasa lelah, Daniel berhenti berlari dan Seong Woo mengambil alih es krim yang sudah setengah meleleh.
"Besok aja gue puasanya, males. Enggak ada emak gue ini yang ngomelin kalo enggak puasa." Seong Woo mengeluarkan lidahnya untuk mengejek Daniel.
Daniel membalasnya dengan memutarkan bola matanya. "Gue bilangin tante, tau rasa lo."
Sudah hamper seminggu orang tua Daniel dan Seong Woo berlibur ke kota lain dengan tujuan silahturami. Sedangkan mereka kaum muda ditinggal sendirian di rumah seperti film Home Alone. Bedanya, mereka berdua memang tidak ingin ikut ke rumah-rumah saudara yang kerjaannya hanya senyum, basa-basi, salam-salaman—ugh, nightmare. Setidaknya itulah pemikiran mereka berdua.
Hari ini, tepatnya hari ke-12 puasa di bulan Ramadhan. Dan, tentu saja, Seong Woo dengan imannya yang limited edition sudah menyerah diri dengan puasa. Katanya sih, nanti kalau sudah selesai bulan Ramadhannya mau diganti puasanya yang bolong. Tapi... semua orang juga tau itu suatu kebohongan manis.
"Biar gue tebak, lo, Kang Daniel, pasti suka kan sama cewek sebelah? Siapa namanya? Ah, gue lupa," ujar Seong Woo sambil duduk di sofa dengan kaki mengkangkang kemana-mana.
"Terserah imajinasi lo," balas Daniel malas. Puasa yang 3 jam lagi buka ini membuatnya lelah letih dan tidak ingin menanggapi Seong Woo yang semakin lama semakin laknad.
"Hm, bener kalo gitu ya," jedanya, "woi, kalo gitu, undang aja dia, kita adain bukber!" lanjutnya excited.
"Bukber apaan, lo aja puasa kagak." Daniel tidak menghiraukan saran gila Seong Woo. Lagi juga mereka berdua tidak terlalu kenal dengan orang sebelah itu, hanya sekedar menyapa dan menyapa. Kalau tiba-tiba mengajaknya buka bersama, bukankah itu aneh?
"Lo diem aja, gue yang ngurus!" serunya. Daniel tidak peduli dengan perkataan Seong Woo dan memilih untuk menatap ponselnya dengan serius.
2 menit berlalu. Daniel merasa aneh. Kok sudah tidak ada suara Seong Woo yang menyebalkan itu? Kemana ia pergi? Daniel bangun cepat dari sofa dan berlari ke arah jendela mengintip luar rumah. Dugaannya benar. Seong Woo, si gila itu lagi ngomong sama orang sebelah.
"Seong Woo, lo...!" belum selesai ia berbicara sudah berlari keluar dari rumah untuk menarik rambut Seong Woo, si sialan itu.
"Nah, itu dia yang gue omongin tadi," ujar Seong Woo tiba-tiba. Daniel bingung harus merespon apa. Apa yang kira-kira ia bicarakan dengan wanita sebelah? Apa dia bilang kalau Daniel menyukainya? Sudah gila.
"Hah? Apa yang bener?" Daniel ikut nimbrung sambil tertawa canggung.
"Lo enggak usah ikut-ikutan," balas Seong Woo sambil mendorong badan Daniel. Wanita itu tertawa melihat tingkah aneh kedua lelaki di depannya.
"Ah, iya. Kenapa enggak bilang kalo lo ada tamu di rumah? Kalo gitu gue kan bisa ngasih takjil ke rumah," wanita itu bersuara.
"Hm, dia aja ya, enggak ngasih tau siapa nama lo ke gue. Di rumah aja, gue enggak dianggep, di kacangin mulu, huh, susah banget hidup gue keknya," ujar Seong Woo lebay.
"Ah, apa sih? Enggak usah dramatis. Jihyo, udah lo masuk aja, enggak usah tanggepin orgil ini," ujar Daniel sambil menarik badan Seong Woo menjauh dari rumah sebelah.
Jihyo tertawa. "Nanti maghrib, gue dateng kok." setelah mengatakan itu, Jihyo masuk ke rumahnya. Daniel dan Seong Woo saling bertatap-tatapan. Daniel tiba-tiba mengejar Seong Woo dengan semua sisa tenaganya.
"Eh, eh, sebentar, gue enggak tau kalo dia beneran bisaa!" ujar Seong Woo sambil berlarian.
"Di rumah aja enggak ada apa-apa, lo mau buka pake apa anjir?!" Daniel berhasil menangkap Seong Woo dan mencekek lehernya dengan kedua lengannya.
"Woi... puasa lo... batal kalo bunuh orang!" ujarnya patah-patah. Daniel pun melepas cekekannya dan mendorong Seung Woo.
Bel berbunyi, Jihyo sudah datang. Ia membawa takjil yang ia beli di depan komplek. Wajahnya terlihat sangat bahagia dengan senyuman manisnya. Kalau kata Seong Woo—gue juga bisa suka sama itu cewek kalo dia senyum-senyum mulu ke gue—yang langsung ditampol oleh Daniel.
Maghrib terdengar, mereka mulai berbuka puasa bareng dengan candaan Seong Woo yang garing tapi masih tetap mencairkan suasana. Hari itu menjadi salah satu hari Ramadhan berkah bagi Daniel dan Seong Woo. Daniel dapat berbincang dan mengenal lebih dalam orang yang ia sukai itu dan Seong Woo bisa buka puasa tanpa melakukan puasa dengan wanita cantik di depannya. This is a win win situation.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.