Adzan shubuh sudah berkumandang. Kun, Ten, dan Jaehyun yang sedang asik menonton siaran sinetron PPA─Para Pencari Amal─langsung menghentikan kegiatan menontonnya. Kun mengambil remot televisi, lalu ia mematikan siaran tersebut. Namun, Ten mendesah kesal saat layar tersebut langsung berubah menjadi hitam.
"Kun, kok lo matiin, sih," omel Ten sambil menatap Kun kesal.
Kun hanya tersenyum. Lalu, guru Agama tersebut langsung mengajak Ten dan Jaehyun untuk ke masjid. "Ayo, ke masjid."
Ten yang mendengar ajakan Kun langsung terdiam. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, memangnya tadi sudah adzan?
Kun yang melihat salah satu temannya malah terdiam, bukannya mengambil sarung dan air wudhu, hanya menggeleng. "Jae, temennya kenapa?" tanyanya.
Jaehyun yang sudah siap dengan baju koko dan bawahan sarung tidak menggubris pertanyaan Kun. Lelaki itu langsung melenggang pergi menuju masjid.
Sementara Kun, ia hanya bisa mengelus dada sambil mengucapkan kata sabar dalam hati karena mempunyai kedua teman yang sangat ajaib.
***
"Woy, Jae, Kun mana?" tanya Ten sambil menutup mulutnya sehabis menguap. Padahal, lelaki tersebut baru saja menghabiskan waktu panjangnya dengan tidur. Buktinya karena hari ini weekend, Ten menghabiskan waktunya dari pukul tujuh pagi sampai satu siang dengan hibernasi dalam kamarnya. Hari ini lelaki itu sedang tidak ada pekerjaan. Jadi, ia harus bisa memanfaatkan waktunya sebaik mungkin dengan tidur.
Untungnya, Kun sedang tidak ada di rumah. Jadi, kalau guru Agama tersebut tahu, pasti ia akan mengomeli temannya karena tidur terlalu lama. Mana Ten melewati adzan dzuhur, pasti Kun akan menceramahi temannya lagi dan lagi.
Jaehyun yang sedang asik dengan ponsel mengalihkan atensinya. "Apaan?" tanyanya dengan wajah datar.
Ten mencibir, "Lo tuh, punya kuping yang bener. Gue udah tanya, lo malah tanya balik."
"Yaelah, tinggal tanya lagi apa susahnya, sih," balas Jaehyun kesal.
"Kun mana?" Akhirnya Ten kembali mengajukan pertanyaan yang sama karena tidak ingin puasanya batal karena ia marah-marah pada temannya.
"Katanya lagi ada urusan dadakan, tapi gue nggak tau ke mana."
"Dia nggak bilang?"
Jaehyun tidak menjawab. Lelaki itu hanya menggeleng. Lalu, kembali memfokuskan netranya pada ponsel. Di sebelahnya, Ten ikut melihat kegiatan Jaehyun. Ia sangat penasaran dengan duda tampan itu. Sedang apa, sih?
"Lo nonton yang enggak-enggak, ya?" tuduh Ten saat melihat layar ponsel Jaehyun yang sedang loading menampilkan sekilas potongan gambar.
Jaehyun menatap tajam Ten. Kenapa bisa-bisanya ia mempunyai teman modelan seperti Ten yang sangat menyebalkan? Apakah Kun tidak sangat kesal dengan tingkah laku Ten yang sering kali tidak jelas?
"Kurang kerjaan banget gue nonton begituan. Bulan puasa, Ten, nggak baik. Nambah dosa, iya," balas Jaehyun.
Ten menyengir mendengarkan balasan Jaehyun. Akan tetapi, lelaki itu sangat penasaran perihal Jaehyun yang menjadi duda. Katanya, ia cuma bilang kalau istrinya tidak ingin mempunyai suami yang sibuk dan jarang di rumah. Menurutnya, itu adalah hal wajar. Siapa suruh dia mencari suami seorang pilot? Sudah pasti akan ditinggal terus-menerus saat ada jadwal penerbangan. Ten yang masih penasaran pun mengajukan pertanyaan pada Jaehyun. Mumpung pak pilot ada di rumah. Kalau sudah dinas, tidak akan mungkin mereka bisa berbincang seperti ini.
"Jae," panggil Ten yang mana sang empu langsung mengalihkan perhatiannya. "By the way, gue masih penasaran perihal lo cerai sama istri lo. Selain dia nggak terima ditinggal terus, ada alasan lain nggak?"
