"Kak, tolong beli gorengan di Budhe Bomi, dong!" teriak Chorong dari arah dapur.
"Nanti aja, Ma. Masih jam 4, loh," tolak Namjo masih mager. Gadis itu baru sampai rumah sekitar setengah jam yang lalu, setelah menyetir sepeda motor dari kota perantauan ke rumahnya selama 3 jam.
"SEKARANG AJA, KAK!" omel Chorong tegas membuat Namjoo segera melompat dari tempat tidur dan berlari menghampiri Chorong yang sedang memasak capcai.
"Beli apa aja, Ma?" tanya Namjoo sudah mengadahkan tangan di samping Chorong. Chorong segera mematikan kompor dan beranjak mengambil dompet di atas kulkas. "Kayak biasa, Mbak. Ote-otenya lima ribu dan martabak mienya tujuh ribu. Beli di lapangan ya, Budhe udah kesana dari jam 3." Chorong sudah menyerahkan selembar uang berwarna hijau kepada anak sulungnya.
"Petisnya yang banyak ya?" ulang Namjoo sambil memakai jaket dan kerudungnya. Chorong mengangguk dan lanjut memindahkan sayur capcai ke mangkuk khusus sayur.
Namjoo berjalan santai sambil bersenandung kecil menuju pasar kaget di depan gang perumahannya. Selama bulan Ramadan, setiap sore di lapangan perumahannya sudah dipenuhi penjual takjil dan makanan berat lainnya. Pasar kaget ini mulai buka selepas asar sampai nanti selepas isya. Namun, ada sejumlah pedagang yang lanjut buka sampai subuh.
Dari kejauhan, Namjoo bisa mendengar jelas si kembar dan Lucas sedang mengoceh diiringi kicauan si Jaka, burung perkutut milik Kirin. Namjoo menggeleng kecil ketika menyadari bahwa trio jamet Kompleks HA itu sedang berdebat mengenai pernikahan Atta-Aurel yang dirasa setting-an semata.
"Perlu aku antar Mbak? Sendirian aja soalnya, hehehe, " tawar Lukas dengan ekspresi menggoda.
Namjoo tersenyum lebar. "Kata siapa aku sendirian? Gak lihat ada kuntilanak di sampingku ini."
"MBAK!" pekik Kirin sudah berdiri.
"Mbak Namjoo bercandanya gitu deh, ini bulan Ramadan, loh. Kata Ustad Sekop itu setan-setan dikurungdi neraka," bantah Lukas, tapi sudah mepet ke Ryujin dan Kirin.
"Itu 'kan setan, yang di sebelah saya ini jin," balas Namjoo dengan ekspresi serius sambil menahan tawa. "Itu loh, jin yang gentayangan karena kecelakaan di depan kompleks 3 tahun lalu," imbuh Namjoo sambil berbisik.
"IH MBAK NAMJOO! NANTI MALAM ITU PAPA GAK PULANG, LOH!" teriak Ryujin, lalu mendorong Lukas agar bisa kabur masuk rumah. Di belakangnya, Kirin segera mengejar saudara kembarnya itu dan membanting pintu, sedangkan Jaka sudah terbang meluncur masuk. Lucas yang tersungkur itu langsung bangkit dan berlari pulang tanpa sempat memakai sandalnya.
Namjoo tertawa ngakak karena berhasil mengerjai si biang kerok utama perumahan ini. Dirasa sudah reda tawanya, gadis itu melanjutkan perjalanan menuju lapangan perumahan yang mulai penuh oleh pedagang. Gadis itu masih memegang pipinya yang kaku karena terlalu banyak tertawa.
"Gorengan! Gorengan!" teriak Budhe Bomi sudah terdengar dari kejauhan. "Gorengan, Mbak, sek anget iki! Sek tas dientas teko wajan," lanjut Budhe Bomi sambil menggoreng risol. (Masih hangat ini. Baru saja diangkat dari wajan.)
Namjoo terkekeh kecil, mengapresiasi penjual gorengan langganan keluarganya sekaligus tetangga sebelah rumahnya yang nggak pernah kehabisan energi. "Budhe!" sapa Namjoo dengan cerah.
"Eh eh eh, Mbak Namjoo. Lama gak kelihatan, baru pulang ya? Kuliahnya udah libur?" tanya Budhe Bomi ramah.
"Inggih, Budhe. Baru selesai UAS, makanya langsung pulang aja sampai liburan semester selesai," jawab Namjoo sopan.
"Duh, Mbak Namjoo emang kece. Dari dulu sampean itu emang bener anak baik dan teladan, makanya disayang orang satu RT," cerita Budhe Bomi sambil mengangkat risolnya yang sudah matang.
"Mbak Namjoo udah denger belum?" tanya Budhe Bomi yang sekarang sibuk memasukkan adonan tempe goreng ke dalam wajan.
"Itu si Rina, ngakunya kuliah di Surabaya. Ternyata eh ternyata ... dia ngelonte, Mbak. Simpenan om-om," lanjut Budhe Bomi masih lantang. Namjoo udah malu, mulai melirik sekitar dan mendelik kecil ketika pedangan lainnya berseru setuju. Bahkan Bu Seola-penjual roti sebelah Budhe Bomi-yang jarang gosip aja mengangguk setuju.
"Itu loh, Mbak. Rina itu yang anaknya Bu Siti, yang dulu kontrak di rumah nomor 2 terus nunggak 3 tahun dan diusir Pak Aron. Sekarang pindah ke komplek sebelah, bikin geger karena kemarin dilabrak istrinya si om-om itu rumahnya," lanjut Budhe Bomi masih semangat julid. "Budhe ini gak paham loh, Mbak. Zaman makin edan aja, kok bisa pelakor ini nge-trend gitu."
"Budhe, Namjoo beli ote-ote sama martabak mie aja," potong Namjoo udah malu dan menyerahkan uangnya. "Kayak biasanya, Budhe. Ote-otenya lima ribu, tapi martabak mienya tujuh ribu."
"Sek ya, Mbak," sahut Budhe Bomi sekarang sibuk membalik tempe gorengnya. "Aku masih gak paham, loh, Mbak. Pelakor itu apa punya barcode di punggung gitu? Dadi wong lanang sing gathel iku langsung scan barcode terus transfer duit ngono?" keluh Budhe Namjoo masih lanjut gosip. (Jadi, laki-laki bajingan itu langsung scan barcode lalu kirim uang gitu?)
"Mending kayak aku gini, Mbak. Masio rondo ditinggal mati, aku gak enek niatan ngepek bojone uwong. Mending dodol gorengan yo to, Mbak? Masio batine cuman sak imit tapi halal dan barokah," ujar Budhe Bomi menasihati sambil memasukan banyak petis ke plastik kecil. (Meskipun janda ditinggal mati, aku gak ada niatan ambil suami orang. Mending jualan gorengan ya 'kan, Mbak? Meskipun untungnya dikit tapi halal dan berkah.)
Namjoo tersenyum sopan dan menerima kantung plastik berisi gorengan pesanannya beserta uang kembalian. "Makasih ya, Mbak Namjoo! Semangat kuliahnya, ya!" pekik Budhe Bomi ceria.
"Inggih, Budhe. Matur suwun." Namjoo segera berbalik dan mempercepat langkah kakinya menjauhi gerobak biru tersebut. Gadis itu menggelengkan kepala sepanjang penjalanan pulang. Ini dia mau beli gorengan aja, tapi harus mendengarkan kultum dulu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.