11. Keluarga Pak Eskop

57 14 4
                                        

Setelah salat tahajud Pak Eskop kalang kabut mencari bahan masakan. Apes sekali karena beliau lupa untuk belanja jadi tidak ditemukan bahan masakan apapun di rumahnya. Ini, nih, kebiasaan apa-apa lari ke indimaret atau tempat Bude Bomi jadi di rumahnya tidak ada apa-apa. Padahal Pak Eskop sudah niat dengan mantap akan memberi anaknya makanan empat sehat lima sempurna, tidak setiap hari mi terus.

"Pak, luwe." Anak ragil sudah bersuara. Siapa lagi kalau bukan Dek Junghwan. Kalau Mas Kamal mungkin masih kelonan sama guling.

Meski Kamal ini suka ngajakin Soobin rajin tapi kalau urusan bangun pagi, beuh, Kamal ini susah sekali dibangunkan. Alarm sudah tidak ada gunanya, mau bunyi berapa kali kalau ranjangnya belum ditendang Dek Junghwan tidak akan bangun.

"Yo wes, bapak beli makanan dulu. Kamu bangunin Mas Kamal duluan aja," tutur Pak Eskop.

Dek Junghwan jalan ke kamar Kamal, meninggalkan Pak Eskop yang masih merenung. Pak Eskop MBTI personality is MRNG.

"Yaudahlah, beli mi soto wae. Daripada ora saur."

"BAPAK, GEMPA BUMI. TOLONGIN KAMAL, PAK!"

"ALLAHU AKBAR!" Pak Eskop terkejut dengan teriakan Kamal yang sangat—ah, sudahlah. Kalian tidak akan tahu jika belum dengar sendiri.

Dua anak Pak Eskop itu datang, Mas Kamal masang muka cengengesan. Tidak heran karena apapun keadaannya, motto Mas Kamal adalah tersenyum. Senyum adalah ibadah, asal idak tersenyum di atas penderitaan orang lain. Beda lagi dengan Dek Junghwan yang cemberut.

"Ada apa anak-anak bapak?"

Dek Junghwan menunjuk Mas Kamal. "MUKA ADEK DIPANCAL!" adunya.

Mas Kamal nyengir. "Ga sengaja. Suer, tadi refleks karena gempa."

"GEMPA APAAN? ITU ADEK YANG GOYANG-GOYANGIN KASURNYA MAS!"

"LAGIAN BANGUNIN ORANG KOK GA MANUSIAWI. ORANG LAIN, MAH, KAKAKNYA DISAYANG-SAYANG, LAH KAMU?"

"IH, MAS GITU. PADAHAL ADEK UDAH BAIK MAU BANGUNIN." Junghwan merajuk dan langsung masuk lagi ke kamarnya. Tutup pintu pakai acara dibanting tapi langsung dibuka lagi karena teringat sesuatu. "Bapak, ayo sahur," ujarnya.

Pak Eskop menepuk jidatnya. "Lah dalah, kowe malah gelut! Bapak dadi lali yen arep tuku lawuh."

Pak Eskop langsung ngacir ke indimaret. Mungkin ini hari buruk Pak Eskop karena toko dan indimaret masih tutup. Mau ke Bude Bomi tapi jam segini jelas belum jualan. Tidak mungkin juga beliau banting harga diri dengan mampir ke tetangga rumah nomor empat dan enam. Orang mana yang sahur minta tetangga? Nanti kalau dijadiin bahan gosip Bude Bomi, kan malu-maluin.

"Permisi, Pak. Boleh minta sedekahnya?"

Pak Eskop langsung memberikan uang yang dia bawa ke ibu-ibu gelandangan tanpa pikir panjang. Lagi pula yang mau beliau beli tidak ada, jadi akan lebih bermanfaat jika uang itu berpindah ke gelandangan di depannya.

"Ambil saja, Bu. Saya duluan karena belum sahur."

Ibu-ibu gelandangan itu sangat berterima kasih. Bahkan senyumnya terus terpatri meski Pak Eskop sudah berlari pulang.

"Assalamualikum, bapak pulang."

"Waalaikumsalam."

NGIIIINGGG

Bunyi sirine tandak imsak terdengar. Pak Eskop langsung lari ke dapur untuk mengambil minuman. Mas Kamal dan Dek Junghwan juga langsung meminum air putih untuk sahur hari kesebelas ini. Setelahnya kedua anak Pak Eskop ke masjid untuk mengumumkan waktu imsak dan azan subuh. Akhirnya mereka tidak makan apapun untuk puasa kali ini, mengenaskan.

Sekitar setengah dua belas, Kamal pergi ke rumah Bu Sowon. Cuma mau ajak anaknya jadi marbot dadakan, kok. Bu Sowon juga senang karena hidup anaknya jadi sedikit ada guna.

"ASSALAMUALAIKUM, BU SOWON IZIN NYULIK MAS SOOBIN!"

Kamal langsung masuk setelah salamnya dijawab. Dia senyum sepuluh jari ke Soobin yang menatapnya sangsi sembari rebahan di kamar.

"Hehehe, ayo mungut pahala," ujar Kamal.

"Iya-iya, dari pada kamu seret-seret kayak bagor mending aku langsung ikut," balas Soobin.

Misi menculik Soobin pada hari kesebelas, completed. Kamal tersenyum puas. Keduanya langsung berjalan ke masjid. Kamal langsung ke sana ke mari mengambil alat bersih-bersih. Kamal memberikan seperangkat alat pel berupa shocklin, ember, dan kain pel beserta gagangnya karena tidak mungkin Soobin ngepel sambil ngesot di lantai. Bablas rebahan nanti.

"Nah, Mas Soobin bersihin dulu pelnya di kamar mandi. Kamal minta Junghwan nyapu. Nah, nanti Kamal tinggal azan, sekian!" Kamal langsung lari entah ke mana. Mungkin mencari marbot dadakan lagi selain Soobin dan Junghwan.

Beberapa menit kemudian Kamal datang dengan remaja lain yang Soobin tidak kenal. Efek jadi penunggu rumah terus kayaknya.

Kamal lewat untuk memberi semangat, tanpa sadar kalau itu lantai basah dia injak-injak. "Yak! Yak! Yak! Kakinya sangat tidak beradab!" seru Soobin tertahan. Di masjid tidak boleh teriak-teriak, guys.

"Maaf, tidak sengaja."

Kamal mau kabur tapi tidak sengaja menendang ember pel. Berakhirlah bagian depan masjid tegenang air. Untung saja airnya bersih karena itu air pel kedua yang Soobin banyakin pewanginya.

Soobin berdecak kesal. "Keringin sendiri. Mau pulang, bye!"

"Ets, pulang apa? Udah waktunya zuhur itu," cegah Junghwan. Kakak beradik itu tersenyum cerah bak bayi matahari di Telletubies untuk menambah kesan merana Soobin.

"Pahala, le,diterima wae ojo ngasih misuh," ujar Kamal seraya menepuk pundak Soobin.

Azan magrib berkumandang, muazin jelas Mas Kamal. Kalau yang mimpin salat tentu bapaknya alias Pak Eskop. Dek Junghwan bagian isi selawatan dan bagian mendisiplinkan pasukan bocil meskipun Dek Junghwan juga bocil.

"Kalian itu masih kecil susah banget diatur. Suruh di saf depan malah tidak mau, malu jadi cowok kalau salat malah rebutan saf belakang. Dikasih tahu malah ndremimil (menggerutu). Kalau seperti ini terus, sudah besar nanti mau jadi apa?" Seperti itulah contoh omelan Dek Junghwan.

Itupun ada saja yang menyahut. "Jadi manusia, lah. Mau jadi apa lagi?"

Asar, setelah selesai mengisi kegiatan di masjid kedua anak Pak Eskop langsung lari untuk berburu takjil. Tujuan utama adalah gorengan Bude Bomi karena cuma di situ mereka bisa ambil barang tanpa bayar. Tenang, mereka tidak hutang, kok. Tidak juga malak Bude Bomi, yakali muka alim kerjaan malak. Biarkan waktu dan bapak yang melunasi gorengan mereka.

Menjelang magrib, Pak Eskop menenteng dua buah mangga sembari menenteng sarung ungu janda miliknya. Dia baru saja ambil buah mangga di dekat rumah nomor sembilan, eh, malah ditagih uang gorengan. Langsung raib uang jatah takjil miliknya. Untung saja Pak Eskop sudah terbiasa dengan tingkah anaknya itu.

 Untung saja Pak Eskop sudah terbiasa dengan tingkah anaknya itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
NgabuburitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang