Konflik berat mungkin sudah lewat. Yang sekarang akan mereka hadapi adalah konflik baru.
Tidak seberat itu. Ini hanya tentang ego masing-masing. Seperti Soobin yang terlalu bocah dan Yeonjun yang emosian.
Tetapi pada akhirnya pasti berakhir berdamai sambil memeluk satu sama lain. Couple goals sekali bukan?
Karena begitulah realita pernikahan. Tidak pernah mulus seperti jalan yang baru di aspal.
Konflik pasti ada, tapi harus cari cara agar bisa selesai. Mereka membuat komitmen untuk tetap sabar. Ya meskipun saat benar-benar marah berakhir ribut sendiri.
Tak berlangsung lama. Jika bayi kecil mereka a.k.a Seonjun menangis, maka terlupakan lah semua kejadian itu.
"Mulai musim dingin, apa aku perlu beli stok selimut bayi lagi?" tanya Yeonjun pada Soobin yang sedang berusaha menidurkan Seonjun.
Soobin memutarkan bola matanya. "Seonjun sudah punya selimut empat dus, Yeonjun. Kau mau jadi kolektor selimut bayi?" tanyanya.
Yeonjun tertawa remeh. "Kita bahkan sudah mengoleksi popok penuh," ujarnya mengingat banyaknya popok kain yang harus dicuci lusa kemarin.
"Kamu masukan bubuk cabai ke susu formula Seonjun apa bagaimana?"
Pertanyaan bodoh Yeonjun kemudian terjawab dengan lemparan sendal rumah ke wajahnya.
Mendengar keributan sedikit saja, Seonjun pasti menangis. Apalagi kalau berurusan dengan kedua orangtuanya yang hobi sekali cari gara-gara.
"Hei... Papa disini, jangan menangis ya, Sayang. Seonjun ngantuk 'kan ya? Tidur ya, tidur..." ucap Soobin dengan nada seperti anak-anak. Ia kemudian menepuk-nepuk pantat bayinya agar kembali tidur.
Yeonjun mencair seperti cokelat panas. Ia memandang Soobin seperti tidak ada hari esok.
Soobin pun sadar kalau ia dipandang begitu. Kenapa? Di rambutnya ada kutu?
"Apa?" tanya Soobin dengan judes seperti biasanya.
Yeonjun memalingkan wajahnya. "Tidak, berikan Seonjun padaku!" ujarnya.
"Bagus, peka juga akhirnya. Aku ingin memesan makanan dulu." Soobin kemudian memberikan Seonjun ke pelukan Yeonjun.
Dengan susah payah Soobin mencoba berdiri, tapi tubuhnya kembali oleng dan hampir terjatuh.
Dengan sigap Yeonjun memegang tangan Soobin, dengan satu tangannya memeluk Seonjun.
Soobin membulatkan matanya ketika anaknya kembali menangis karena terbentur di dada ayahnya.
"Tolol!" umpat Soobin kemudian menarik telinga Yeonjun hingga berwarna merah.
"Seonjun terbentur!" protesnya dan membawa kembali si bayi ke dalam pelukannya. Rasanya lebih aman bersama Soobin daripada dengan ayahnya yang ceroboh itu.
Sudah dibilang kalau dua-duanya barbar begini pasti bakalan adu mulut setiap hari.
Adu mulut, ciuman.
Oke, itu adalah dua hal yang berbeda.
Dua orang laki-laki membesarkan anak sejak masih bayi, susah tentunya. Karena kadang sifat keibuan Soobin suka menghilang mendadak. Mengingat dirinya masih pantas untuk dipanggil remaja.
Dan dia juga laki-laki, exactly.
"Aku yang pesan makanannya," ucap Yeonjun kemudian membuka ponselnya lalu memesan beberapa makanan untuk mereka.
Soobin sudah berjalan ke dapur dengan Seonjun di dekapannya, dia sekarang hendak membuat susu, sepertinya anaknya menangis bukan karena mengantuk, tapi karena lapar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Avunculus ✓
Подростковая литератураAvunculus (n) paman dalam latin. Soobin menikah dengan pamannya sendiri, demi sesuatu yang harus diperbaiki. top: yeon bott: bin ⚠️arranged marriage, murder, mature scene, indirectly incest. ©2020, sauceiopath
