Aku yakin kalian muak sama book ini, jadi alurnya dipercepat ya ᕙ(͡°‿ ͡°)ᕗ
Sebenarnya yang muak itu aku sih
/ketawa tanpa suara/
***
"Pokoknya aku mau es krim ubi ungu."
Yeonjun mengusak rambutnya hingga seperti orang gila yang kabur dari selokan.
"Bisa minta nanti saja? Aku sedang mengurus pekerjaan," ucap Yeonjun pada Soobin.
Soobin menggigit boneka beruang yang ia peluk. "Kalau nanti keburu tidak ingin lagi."
"Ya sudah tunggu tidak inginnya saja, lumayan kan sehari kau tidak menyusahkan diriku-ah!"
Soobin memasang wajah datarnya setelah melemparkan jam weker ke punggung Yeonjun.
"Tapi sekarang aku mau," ucap Soobin kemudian menarik kursi Yeonjun hingga berhadapan ke arahnya.
Soobin mem-poutkan bibirnya dan bersimpuh di lantai; tepat di depan Yeonjun yang sedang duduk di kursinya.
Seperti seekor kelinci yang memohon kepada majikannya.
"Masa sih Ayah tidak mau membelikan Papa es krim? Jahat- hiks.."
Yeonjun menepuk dahinya. "Itu bisa dibeli nanti- HEI JANGAN PEGANG-PEGANG!" tegur Yeonjun saat tangan Soobin menggerayangi pahanya.
Soobin tersenyum menggoda, dengan perlahan merangkak lebih dekat dan menidurkan kepalanya di paha Yeonjun.
Nafas Yeonjun seketika tercekat. Kenapa sih cobaannya harus seberat berat badan Soobin?
"Ayolah Om, Jjunie, Ayah, atau Daddy~"
Yeonjun mencubit pipi Soobin yang makin hari makin tembam itu.
"Awch!" Soobin mencoba menyingkirkan tangan Yeonjun yang mencubit pipinya dengan keras itu.
"Nye..." Soobin bergumam kesal sementara Yeonjun tertawa puas saat melihat pipi Soobin yang merah itu.
"Belinya nanti saja, aku sedang sibuk," ucap Yeonjun lagi.
"Sibuk? Kenapa orang sibuk seperti dirimu masih bisa meladeni diriku?" tanya Soobin.
Yeonjun mendecih. "Karena kau mengganggu diriku," jawabnya.
"Mengganggu atau kau memang ingin menghabiskan waktu dengan suamimu yang imut ini huh?" goda Soobin dan memeluk Yeonjun dari depan.
"Aw Ayah Yeonjunie Jantungnya berdetak," ucap Soobin setelah mendekatkan telinganya di dada Yeonjun.
"Memang berdetak karena aku hidup. Kau kira sekarang kau berbicara dengan mayat?" ujar Yeonjun ketus.
"Maksudnya berdetak kencang! Gugup yaa?"
"Makin kesini kau makin aneh, Bin."
Soobin menjulurkan lidahnya dan langsung digigit oleh Yeonjun.
"Heh sialan! Bagaimana kalau lidahku terpotong karena gigimu yang seperti gergaji itu?"
Yeonjun mengendikkan bahunya dan menepuk-nepuk pantat Soobin seperti drum. "Apakah aku terlihat peduli?"
Soobin mendengus kemudian kembali menidurkan kepalanya di dada Yeonjun.
Tunggu, kenapa jadi seperti ini?
Harusnya, mereka membuat jarak 'kan?
"Yeonjun," panggil Soobin kepada Yeonjun yang sudah kembali sibuk dengan berkas yang ada di tangannya.
"Hm?"
"Tidak apa-apa 'kan kalau kita bersama sampai aku melahirkan anak ini saja?"
Pertanyaan Soobin membuat konsentrasi Yeonjun buyar seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Avunculus ✓
Fiksi RemajaAvunculus (n) paman dalam latin. Soobin menikah dengan pamannya sendiri, demi sesuatu yang harus diperbaiki. top: yeon bott: bin ⚠️arranged marriage, murder, mature scene, indirectly incest. ©2020, sauceiopath
