Juwita muncul dari balik pintu kamar. Wanita tua namun masih menawan itu tampak cengengesan karena melihat Alika yang kini menempati kamar tidur putrinya.
"Gimana, butuh bantuan?"
Alika berbalik. "Nggak usah, Tan. Udah bisa sendiri kok."
Perempuan itu baru memasuki kamarnya untuk malam ini. Dia juga baru berganti pakaiannya. Alika merasa tidak enak karena meminjam baju tidur milik anak perempuan Juwita.
"Baju tidurnya cukup?"
Alia tersenyum. "Hm, lumayan kecil, Tan."
"Nggak masalah. Kelihatan seksi kok." Juwita berujar genit. "Itu baju tidur adiknya Darren, udah lama nggak dipakai karena yang punyanya nggak ada di rumah."
"Memang adiknya Darren pergi ke mana, Tan?"
"Kuliah sambil kerja, di Paris."
Alika mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kamar ini juga punya dia?"
"Iya."
"Kamarnya bersih, Tan. Atau memang setiap hari dibersihkan?"
Juwita duduk di ranjang sambil mengedarkan pandangannya. "Nggak setiap hari dibersihkan sih. Tapi, memang rutin dibersihkan paling tidak tiga hari sekali."
"Jadi, Tante tinggal sendiri di rumah ini? Setahu saya Darren punya apartemen."
"Nggak dong. Tante tinggal bareng suami. Sesekali Darren nginep di sini. Farren dan keluarganya juga sering nginep di sini."
"Tapi, pastinya Tante kesepian kalau anak-anak Tante nggak di rumah."
Juwita memandang potret putri bungsunya yang ada di meja belajar. Di kamar ini hanya ada satu foto milik Karren. Sisanya ada di ruang keluarga dan ruang tamu.
"Belum lama sih, Tante merasa kesepian. Baru beberapa hari ini."
"Lho, kenapa, Tan?"
"Adiknya Darren berangkat kuliah beberapa hari yang lalu. Sebelumnya di rumah ini Tante ditemani dia kalau papa dan semua masnya sibuk kerja."
Alika menghela napas panjang. "Pasti sedih, ya, Tan? Saya juga sering sedih kalau keingat orang tua di rumah. Adiknya Darren lanjut S2?"
Juwita mengangguk sambil tersenyum. "Oh, ya, rumah asli kamu di mana? Jauh, ya?"
"Masih di Jakarta, Tan. Tapi, memang lebih dekat rumah saudara kalau dari tempat kerja."
"Sengaja milih kerja di sini?"
"Iya, Tan. Sekalian nemenin mbak sepupu. Karena suaminya sering kerja keluar kota. Lagian mbak sepupu saya lagi hamil."
"Oh, gitu. Tante kira kamu tinggal sendirian. Tadinya Tante mau ajakin kamu tinggal di sini."
Alika sontak menggeleng. Mana mau dia tinggal di sini, berdekatan dengan Darren pula!
"Tante tuh takut Darren keburu tua. Dulu waktu Farren belum menikah, Tante juga ketakutan gitu. Sekarang malah takutnya turun ke Darren."
"Kenapa gitu, Tan?"
"Ya, gitu. Darren memang bandel banget, susah nurut omongan orang tua. Darren tuh paling berani melawan papanya. Hubungan mereka berdua tuh pasang-surut gitu. Tapi, kalau urusan sayang keluarga Darren nggak kalah sama masnya."
"Saya tebak kalau Darren itu anak kesayangan Tante, ya?"
Juwita mengulum senyum. "Kok kamu tau? Padahal semua orang nggak nyangka begitu lho."
"Lho, saya salah dong?"
"Nggak salah kok. Begini, Tante sayang sama rata kepada semua anak-anak Tante. Mungkin, perhatian Tante lebih tertuju sama Darren."
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh, My Ex! (END)
Romance⚠ Pastikan dulu usia Anda cukup. 👉Series kedua Argadinata . . . Selama tiga tahun tak pernah bertemu, Darren akui bahwa mantan kekasihnya telah berubah menjadi perempuan anggun dan mempesona. Darren tidak munafik, perubahan mantan kekasihnya saat...
